READING

1,3 Juta Batang Rokok Disita, Pola Pemasaran Tiru ...

1,3 Juta Batang Rokok Disita, Pola Pemasaran Tiru Pengedar Narkoba

BLITAR- Pemasaran rokok ilegal di wilayah Blitar, Tulungagung dan Trenggalek mulai meniru gaya peredaran narkoba. Banyaknya pengedar rokok ilegal yang ditangkapi, membuat mereka langsung mengubah pola transaksi dari terbuka ke tertutup.

“Mereka hanya melayani orang orang yang sudah dikenal. Semisal dalam komunikasi HP nomornya belum dikenali, tidak direspon, “ungkap Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Blitar Arif Setijo Nugroho.

Yang dimaksud rokok ilegal disini adalah rokok tanpa pita cukai. Termasuk juga menggunakan pita cukai bekas, pita cukai palsu atau pita cukai tidak sesuai peruntukkan. Intinya, sebagai pengusaha rokok, mereka berupaya menghindari kewajiban membayar pajak ke negara.

Selain pola pemasaran yang berubah, para pengedar rokok ilegal juga tidak lagi menggunakan kendaraan roda empat (mobil box). Kebiasaan memakai  sepeda motor ber obrok di kanan kiri juga dihilangkan. Sebab model pemasaran lama itu dianggap mudah  dihafali petugas.

Sebagai gantinya, mereka memilih memperbanyak tenaga sales lapangan, yakni orang orang yang cukup membawa ransel berisi rokok, berkeliling dari toko ke toko. Secara sepintas seperti orang yang bertamu. Tidak kentara.

Perubahan pola pemasaran rokok ilegal menurut  Arif dampak dari operasi penindakan yang dilakukan gencar gencaran. Hal itu (perubahan pola pemasaran) diakui cukup menyulitkan petugas dalam mengendus gerak mereka.

Kendati demikian tetap tidak menyurutkan langkah pemberantasan. Apalagi di wilayah Blitar, Tulungagung dan Trenggalek peredaran rokok ilegal masih terus terjadi.

“Hal ini yang membuat petugas agak sulit melakukan penyelidikan, “terangnya. Usai penindakan disertai penyitaan, petugas selalu mengambil langkah pemusnahan.

Tercatat sepanjang Januari sampai Desember 2018, KPPBC Blitar telah menyita 1,3 juta batang rokok ilegal. Semuanya disita dari wilayah Blitar, Tulungagung dan Trenggalek.

Dari jumlah itu, sebanyak 368.242 batang rokok atau senilai Rp 261 juta lebih telah dibakar atau dimusnahkan. Sementara selebihnya masih disimpan di gudang menanti turunnya izin pemusnahan. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.