READING

2 Desainer Muda Jawa Timur Akan Gelar Furniture Ka...

2 Desainer Muda Jawa Timur Akan Gelar Furniture Karyanya di Milan

Mereka masih muda dengan imajinasi karya yang luar biasa. Namun untuk berpentas di tingkat dunia, perlu jaringan dan daya. Sebuah kompetisi desainer, OCIC 2019 mengantarkan desainer muda ini ke tingkat dunia.

SURABAYA- Sebuah prestasi membanggakan dari dua desainer muda asal Surabaya dan Probolinggo berhasil mendapatkan “tiket” untuk bisa memamerkan karyanya di pameran furniture dan interior paling penting di dunia, Salone del Mobile 2020 di Milan, Itali. Mereka adalah Zulyo Kumara(24 tahun) asal Probolinggo dan Vincentius Aldi Masella (25 tahun) dari Surabaya.

“Keterbatasan umum desainer muda antara lain keterbatasan jaringan dan modal untuk merealisasikan desain,” kata Aldi. Para desainer muda ini memiliki ide desain yang fresh dan tanpa batas namun menjadi sulit terwujud karena keterbatasan modal. Dari mulai membuat purwarupa hingga produk jadi membutuhkan biaya yang tak sedikit, bahkan dengan risiko gagal. Apalagi sampai dipasarkan ke tingkat global yang membutuhkan jaringan luas.

Atas dasar hal tersebut, Abbasource, sebuah ekosistem kreatif di Jakarta mengadakan OCIC (Open Call Indonesia Creative) 2019 untuk menjaring desainer muda berbakat agar bisa memasarkan karyanya ke tingkat global. Selain Zulyo dan Aldi, pemenang lainnya yaitu Arif Zainudin (Surakarta) dan Emil Miladi Muhammad (Jakarta).

Menurut Indra Febriansyah, representative Abbasource mengatakan bahwa Abbasource memiliki jaringan nasional dan global mulai produsen hingga pemasaran. Kehadirannya ingin menjembatani antara desainer, pabrik, hingga memasarkan ke tingkat global. Salah satunya di ajang Salone del Mobile yang akan digelar April 2020.

Vicentius Aldi Masella, pemenang OCIC 2019 dengan karyanya desain kursi “Selendang” Foto: Jatimplus.ID/Titik Kartitiani

Tim kurasi Abbasource memilih desain dari peserta dengan banyak pertimbangan. Tak hanya indah dilihat tapi juga nyaman dipakai dan bisa diproduksi dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional. Selain itu, Abbasource juga memilih karya-karya yang memiliki kekhasan Indonesia sebagai keunggulan bila bersaing dengan produk negara lain.

“Desain saya berupa meja dengan nama Prau. Filosofinya, ingin membawa desain Indonesia ke tingkat global,” kata Zulyo kepada Jatimplus.ID, 6/2/2020.

Prau lebih menekankan craftmanship, menggunakan material anyaman rotan. Menurut Zulyo, kemahiran Indonesia dalam menganyam rotan dan juga materi rotan merupakan sesuatu yang harus dijaga. Keberlimpahan materi rotan sebagai kekayaan Indonesia yang sudah turun temurun digunakan sebagai material furniture. Tantangan bagi desainer yaitu mempresentasikan rotan sebagai produk yang modern.

Sedangkan Aldi juga menggunakan material rotan. Ia mendesain kursi dengan tema Selendang. Konsep Selendang mengambil dari budaya masyarakat Melayu yang kerap menyampirkan kain di busananya.

“Selendang juga dipakai untuk menggendong bayi. Jadi, bila duduk di kursi ini akan nyaman serasa di gendongan,” kata Aldi.

Aldi menjelaskan bahwa kursi ini dibuat dengan keahlian craftmanship dalam mengolah rotan. Baik berupa anyaman dan juga teknik melengkungkan rotan sehingga menjadi desain yang dikehendaki.

“Meski sebenarnya tidak rumit sebab saya memperhitungkan, bila diproduksi dalam skala industri tetap akan mudah,” tambahnya. Kini, desain Aldi dan Zulyo sedang dalam pembuatan di pabrik dalam jaringan Abbasource.

Zulyo Kumara, pemenang OCIC 2019 dengan desain meja “Prau”
Foto: Jatimplus.ID/Titik Kartitiani

Dialog antara Desainer, Pabrik, dan Pasar Global

Mengikuti OCIC, Zulyo dan Aldi mendapatkan pengalaman yang menarik. Tak hanya desain yang direalisasikan dan nanti akan dipasarkan di ajang bergengsi, tapi juga dalam prosesnya.

“Saya ikut lomba bukan hanya karena ingin menang. Tapi saya menikmati prosesnya,” kata Zulyo, lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Proses ketika inspirasi itu tertuang ke dalam desain. Kemudian ia masukkan ke dalam kompetisi. Ketika terpilih, ada wawancara dan dialog dalam merealisasikan produknya. Tim kurasi dari Abbasource yang sudah memiliki pengalaman menjual funiture skala global memperbaiki desain dari para peserta agar sesuai dengan permintaan pasar.

Kemudian ketika desain tersebut masuk pabrik, juga tetap berkonsultasi dengan desainer untuk mewujudkan produk sehingga memenuhi persyaratana pasar global.

“Pabrik kan lebih tahu tentang konstruksi dan kekuatannya. Makanya kami juga diskusi untuk penyempurnaan desain,” tambah Aldi, alumni Institut Teknologi Surabaya, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Proses ini ditargetkan akan selesai pertengahan Februari 2020. Setelah melewati proses pengawasan mutu, kemudian barang dikemas dan dikirim ke Milan.

Salone del Mobile merupakan pameran tahunan yang dihadiri para pemain mebel kelas dunia. Bisa dikatakan sebagai episentrum Milan Design Week dalam hal pameran bisnis. Pada waktu yang sama, kota Milan “merayakan” desain. Pameran pun diselenggarakan di seluruh kota. Khusus untuk Salone del Mobile, tak sembarang perusahaan bisa mendapatkan tempat di sini. Kurasi mereka ketat dan mensyaratkan rekam jejak yang bagus di dunia bisnis mebel.

Aldi kebetulan merupakan satu peserta yang memiliki kesempatan untuk ikut ke Milan mempresentasikan karyanya. Sedangkan pemenang yang lain, barangnya saja yang dipasarkan di booth Abbasource.

“Mendapatkan pengalaman yang pasti. Selain itu, mendapatkan inspirasi untuk mendesain lebih baik,” kata Aldi tentang harapannya di Salone del Mobile. Sama halnya dengan Zulyo, inspirasi dan jaringan yang ingin didapatkan para desainer muda ketika karyanya sampai ke kancah internasional.

Zulyo bukan hanya sekali ini produknya dipasarkan ke Milan. Melalui Luwes Rattan Bench, sebuah produk kursi berbahan rotan dan logam karyanya pernah dipamerkan di ajang ini tahun 2018. Selain itu, Zulyo juga pernah mendapatkan kesempatan untuk kursus di Instituto Marangoni, Milan, sebuah tiket belajar yang ia dapatkan karena karyanya terpilih dalam sebuah kompetisi.

Prestasi anak-anak muda Jawa Timur ini memberikan optimisme bahwa karya Indonesia akan berjaya di pentas dunia. Apabila ada desainer yang ingin bergabung mengikuti jejak Zulyo dan Aldi, Abbasource akan membuka OCIC 2020 dalam waktu dekat (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.