READING

3 Bulan, 20 Kecelakaan di Tol SUMO. Penyebab No 2 ...

3 Bulan, 20 Kecelakaan di Tol SUMO. Penyebab No 2 dan 3 Sering Terjadi

MOJOKERTO- Kecelakaan maut di ruas jalan bebas hambatan (tol) Surabaya-Mojokerto (SUMO) kembali terjadi. Sejak diresmikan Presiden Joko Widodo 19 Desember 2017, ruas jalan yang memiliki panjang total 34,5 kilometer itu terus memakan korban.

Terakhir Selasa (6/11) kemarin. Sebuah Toyota Inova menumbuk truk bermutan telur dari arah belakang. Akibatnya sopir dan empat penumpang terjepit bodi Inova yang ringsek total. Nyawa kelima orang melayang.

Pada hari yang sama sebuah mobil Isuzu elf yang mengangkut petakziah asal Kabupaten Kediri tiba tiba  pecah ban dan terguling. Sedikitnya 10 orang (penumpang Elf) terluka dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Beruntung tidak ada korban jiwa.

Belum lama mobil yang ditumpangi Kapolres Tulungagung AKBP Tofik Sukendar, istri dan ajudan juga terlibat kecelakaan hebat di jalan tol SUMO. Dalam insiden itu istri Tofik Sukendar dan ajudan meninggal dunia.

Data kepolisian mencatat selama tiga bulan terakhir telah terjadi 20 kasus kecelakaan di tol SUMO. Sebagian besar terjadi di Km 700+. Enam kasus diantaranya merenggut nyawa. Kasat PJR Polda Jatim AKBP Bambang S Wibowo mengakui tol SUMO masih memiliki sejumlah kekurangan.

Seperti dilansir dari detik.com, salah satu kekurangan diantaranya adalah masih minimnya faktor penerangan. “Memang penerangannya kurang. Tapi faktor tersebut tidak signifikan, “ujarnya. Yang paling utama penyebab kecelakaan di tol SUMO adalah aktor manusianya sendiri. Human error.

Yang pertama adalah seringnya pengemudi melihat Global Positioning System (GPS). Berganti ganti fokus pandangan antara layar GPS dan situasi jalan seringkali berdampak fatal. Kebiasaan ini biasanya terjadi pada pengemudi yang tidak hafal jalan. Padahal ketika masuk jalan tol, fungsi GPS tidak lagi dibutuhkan.

Penyebab kedua adalah mengantuk. Kasus sopir mengantuk sering terjadi. Bahkan mungkin menjadi faktor penyebab terbanyak terjadinya kecelakaan. Situasi ini biasanya kerap dialami pengemudi dengan perjalanan kelewat jauh. Karena ingin segera sampai tujuan, sopir enggan beristirahat hanya untuk memejamkan mata sejenak.

Yang ketiga adalah overspeed atau laju kendaraan yang berlebihan. Padahal di jalan tol sudah ada ketentuan maksimal 100 km per jam. Namun baik sengaja maupun tidak sengaja, pengemudi kerap melanggar aturan itu. Terutama kendaraan dengan cc besar. Sepertinya dengan merasakan sensasi jalan lurus tanpa hambatan, pengemudi langsung tancap gas.

Penyebab keempat tidak mengecek kendaraan terlebih dahulu. Terutama mengecek kondisi terakhir ban, sistem pengereman dan mesin. Hal ini terkait dengan kebiasaan dan ketelitian pengendara. Padahal tidak sedikit kecelakaan terjadi akibat ban pecah atau rem blong.

Yang kelima adalah main handphone saat berkendaraan. Ini juga terkait dengan kebiasaan. Terbelahnya konsentrasi antara melihat situasi jalan dengan memandangi layar HP, seringkali berakibat fatal.

Menurut Bambang , saat berada di jalan tol pengemudi harus berkonsetrasi penuh. Apalagi jalan tol yang cenderung lurus dan sepi. Untuk mencegah kecelakaan tidak terulang,  dia juga menghimbau pengendara untuk senantiasa mengecek kesiapan diri (fisik) dan kendaraan.

“Jika ada aktivitas lain selain mengendarai, maka itu akan mengganggu konsentrasi. Harus cek kendaraan dan fisik. Kalau ngantuk jangan dipaksakan,  “jelasnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.