56 Negara Nyampah di Indonesia

“Sampah impor” merupakan istilah untuk menyebut sampah plastik ikutan yang masuk bersama impor bahan baku kertas dari 56 negara. Bila dalam sehari, satu perusahaan kertas menghasilkan 20ton sampah plastik, maka 12 perusahaan kertas di Jawa Timur akan menyuplai ratusan ton sampah plastik/hari.

GRESIK-Siang mulai terik ketika seorang tenaga paruh waktu sedang memilah sampah di belakang kantor Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation), Desa Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Ia mengenakan masker dan topi merah. Masker untuk menghalangi bau yang menyengat dari tumpukan sampah itu. Sedangkan topi yang ia kenakan merupakan “kejutan” yang ia dapat dari sampah yang dipilah.

Ketika Jatimplus.ID berkunjung pada akhir Juni 2019, bukan hanya topi yang ia dapat. Kejutan menarik lainnya berupa uang dari berbagai negara, buku cerita, VCD porno, sepatu yang kehilangan pasangannya, busana, hingga popok dewasa sekali pakai. Sekilas, yang paling banyak jumlahnya berupa bungkus makanan dan produk rumah tangga. Dari labelnya, semua itu bukan produk dalam negeri melainkan “sampah impor”.

Sengaja memakai tanda petik, sebab sampah tersebut merupakan sampah yang ikut masuk bersama impor kertas dan koran bekas (waste paper dan old newspaper) yang dilakukan oleh pabrik kertas di Jawa Timur. Selama dua tahun terakhir, Ecoton melakukan penelitian terhadap 22 industri kertas di Jawa Timur, 12 di antaranya menggunakan bahan baku kertas bekas impor. Bahan “ikutan” ini jumlahnya fantastis.

Pegawai lepas Ecoton sedang memilah sampah untuk kepentingan riset. Ia mengenakan topi merah yang ditemukan di sampah.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

“Ecoton pernah melakukan invesitigasi di suatu perusahaan kertas. Membeli (sampah) plastik dari perusahaan kertas, kita menemukan plastik sebanyak 20ton/hari,” kata Andreas Agus Kristanto M, S.Si., M.Si, bagian Research and Education ECOTON. Jumlah itu baru dari satu pabrik kertas. Bila 12 pabrik menggunakan bahan yang sama, makan secara kasar bisa dihitung bahwa sampah yang masuk ke Indonesia bersama bahan baku pabrik kertas mencapai 240 ton/hari. Prosentase yang diizinkan sebanyak 2-3% dari total bahan baku kertas yang diimpor.

Hanya kini, kenyataan di lapang berbeda. Amiruddin Mutattaqin, Direktur Operasional Ecoton menemukan adanya peningkatan volume sampah plastik ikutan ini mencapai 30%-40% sejak pemerintah Tiongkok menutup impor kertas dan plastik sejak awal 2018.

Setelah dipilah dari bahan baku kertas, sampah tersebut dijual ke penduduk untuk dipilah. Penduduk membeli dengan harga Rp 1,2 juta/ton untuk diambil sampah plastik yang bernilai ekonomis. Ecoton juga membeli sampah sebanyak 2 rit (sekitar 2 ton) dari pabrik kertas PT Mega Surya Eratama di Kabupaten Gresik  untuk keperluan riset. Sampah itu yang kini dipilah di Ecoton.  

Lebih detail lagi, Andreas merinci bahwa dari brand audit yang lakukan, sampah tersebut berupa sampah domestik terdiri dari house product, personal care, dan food package dari 56 negara. Dari semua jenis sampah, yang bisa dimanfaatkan atau dijual dengan nilai ekonomis tinggi hanya 35%-30%. Sisanya, sekitar 70%, dijual sebagai bahan bakar industri tahu atau dibakar oleh masyarakat. Bahan sisa inilah yang membahayakan lingkungan.

Ragam “sampah impor” terdiri dari house product, personal care, dan food package dari 56 negara.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Pencemaran Udara dan Mikroplastik

Pembakaran sampah di masyarakat baik melalui industri rumah tangga (sebagai bahan bakar) maupun dibakar untuk melenyapkan, akan masuk ke perairan dan mencemari tanah. Ketika plastik dibakar akan menghasilkan senyawa yang mencemari udara berupa senyawa dioksin dan senyawa furan yang berpotensi penyebab kanker.

Selain itu, ada bahaya lain yaitu pencemaran air dan tanah berupa mikroplastik. Andreas menjelaskan bahwa sampah plastik merupakan sampah yang tak bisa terurai dari senyawa menjadi unsur melainkan hanya remuk secara fisik menjadi pecahan kecil. Senyawa yang sama hanya dengan ukuran lebih kecil yang disebut mikroplastik. Mikroplastik ini yang akan mencemari tanah dan perairan.

Meski masyarakat yang membakar sampah plastik berada jauh dari perairan, namun pembakaran yang tak sempurna akan menghasilkan mikroplastik yang terbawa oleh air hujan, dan akhirnya sampai ke perairan. Selain sampah plastik yang dibuang langsung ke sungai. Tak hanya dari masyarakat, pabrik kertas pun ikut andil.

“Dari 12 pabrik plastik yang diteliti Ecoton, di buangan mereka mengandung 22-4000 partikel mikroplastik di tiap liter buangan limbah mereka,” kata Andreas.

Jatimplus.ID pernah menulis temuan Ecoton soal mikroplastik di sini. Menurut Andreas, mikroplastik menjadi alat transporter yang mengikat bahan pencemar lain seperti pestisida di perairan. Mikroplastik ini seperti kuda troya yang membawa pasukan Yunani. Ketika sudah melewati benteng Troya, pasukan Yunani akan keluar dari “perut kuda” dan menyerang.

Senyawa pencemar yang terikat dengan mikroplastik akan ikut masuk ke jaring-jaring makanan yaitu masuk ke sistem pencernaan ikan. Dari perut ikan akan menyebar ke dalam jaringan tubuh ikan (termasuk daging ikan) terkontaminasi mikroplastik. Saat ikan dikonsumsi, maka mikroplastik akan masuk ke jaringan tubuh manusia. Ketika jumlah sampah plastik yang masuk ke Indonesia semakin banyak, maka kekhawatiran akan peningkatan pencemaran lingkungan akibat bahan ikutan ini semakin tinggi.

Berbagai jenis mata uang yang ditemukan di sampah.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Perlu diketahui bahwa “sampah impor” ini sampai ke masyakarat dalam dua bentuk, yaitu basah dan kering. Sebagaimana dijelaskan oleh Amir, sampah basah merupakan sampah yang dipilah sebelum masuk ke penggilingan kertas. Sampah seperti ini yang dibeli Ecoton untuk penelitian.

Sedangkan sampah yang diterima warga Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur dari pabrik kertas PT Pakerin (Mojokerto) berupa sampah kering. Sampah yang sudah masuk ke mesin penggiling bersama bahan baku kertas, dicuci, lalu dipisahkan. Sampah ini tidak bau. Meskipun kini, Desa Bangun juga membeli sampah dari pabrik lain ketika sampah dari PT Pakerin “sudah bersih” dari sampah yang bernilai ekonomis. Warga pun membeli sampah basah dari berbagai perusahaan selain PT Pakerin.

Sisi lain dari berkah “sampah impor” bisa dilihat di tautan ini.
Masyarakat yang diuntungkan dari sampah ada tautan ini.

Ecoton berencana membuat museum sampah di sini.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Impor Legal yang Menuai Masalah

Ecoton giat mengampanyekan bahaya mikroplastik berdasarkan riset dan demo turun ke jalan. Menurut Andreas, masyarakat pun sebetulnya sudah menyadari bahaya yang ditimbulkan dari dampak pembakaran sampah plastik.

Nggak sesek? Nggak, Mas. Tapi kalau istri hamil saya ungsikan ke tempat mertua yang jauh (dari pembakaran sampah),” kata Andreas menirukan ucapan salah satu pemilah sampah.

Soal bahaya pembakaran sampah plastik ini, Jatimplus.ID mengonfirmasi pada Dr. Ir. Diah Susilowati, MT., Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Jawa Timur. Di Surabaya, kantor DLH Jatim pada 28/06/2019, Diah mengatakan bahwa sampah sisa yang masuk ke industri tahu tidak sepenuhnya plastik. Ada bahan ikutan lain yang berfungsi sebagai bahan bakar.

“Kalau plastik (saja) kadar kalorinya ndak bagus (untuk pembakaran). Bukan tahunya yang tercemar,” kata Diah menekankan. Pembakaran dari bahan bakar sampah ini bukan mencemari tahu namun mencemari udara dari cerobong asap pembakaran sebagaimana yang diatur dalam Pergub. Dalam aturan tersebut, industri harus melakukan uji emisi gas buang tiap 6 bulan sekali. Sedangkan untuk industri besar bisa lebih sering yaitu 3 bulan sekali.

“Kalau untuk UKM, harusnya pemerintah yang mengujikan. Saya akui bahwa kita belum menjangkau ke sana,” kata Diah. Ia menambahkan, harusnya kabupaten/kota yang bergerak untuk menguji dan memonitor lingkungan. Bukannya belum, mungkin sudah. Tapi karena saking banyaknya UKM, kadang ada perhatian yang terlewat oleh pemerintah. Mereka (UKM) ini wajar (menggunakan bahan bakar sampah), karena untuk menekan biaya produksi. Bahan bakar sampah jauh lebih murah dibandingkan menggunakan kayu.

Baru-baru ini, DLH meminta pada PT. Pakerin untuk membangun sarana dan prasarana pengelolaan sampah. Salah satunya berupa kontainer untuk menampung sampah yang akan dikirim sebagai bahan bakar agar tidak mengotori lingkungan. Juga meningkatkan kemampuan SDM dalam hal pengelolaan sampah.

Sedangkan dari sisi legalitas soal sampah yang masuk bersama bahan impor, kewenangan berada di lembaga survei sebagaimana dalam Permendag.

“Permendag bahan baku kertas yang masuk dikontrol oleh Sucofindo sebagai penanggung jawab sebelum bahan baku yang berasal dari negara asal,” tambah Andreas. Dari rekomendasi Sucofindo, Dirjen Bea Cukai memberi izin masuk.

Ecoton sudah melaporkan temuan meningkatnya sampah plastik ini dan menuntut agar Dirjen Bea Cukai bisa memasukkan waste paper di jalur merah. Sekarang berada di green line sehingga tidak ada inspeksi ketat. Juga meminta ke Departemen Perdagangan dan surveyor untuk memeriksa lebih teliti sebelum bahan impor masuk ke Indonesia agar tidak disusupi bahan lain di luar perjanjian.

Andreas menambahkan, dunia internasional sudah mengatur tentang peredaran sampah antarnegara ini melalui Konvensi Basel (The Basel Convention on the Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal) yang ditetapkan di Basel, Swiss, pada 22 Maret 1989. Salah satu klausul dari konvensi tersebut bahwa negara yang akan ekspor sampah harus menyebutkan secara detail isi sampah. Sampahnya pun berupa sampah yang sudah bersih.

“Negera pengekspor harus meyakinkan bahwa negera tujuan mempunyai teknologi pengolahan sampah,” tambah Andreas. Bila merujuk pada konvensi tersebut, maka 56 negara yang sampahnya sampai ke Indonesia bisa dituntut, atau minimal Indonesia punya hak untuk mengirimkan kembali sampah yang diterima di luar perjanjian (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.