READING

9 Film Romantis Anti Mainstream Wajib Tonton Di Bu...

9 Film Romantis Anti Mainstream Wajib Tonton Di Bulan Februari

Bulan Februari identik dengan bulan penuh cinta, karena di tanggal 14 setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Valentine. Lepas dari segala pro dan kontra yang mengikutinya, tetap saja banyak orang terutama anak-anak muda memaknai hari itu dengan merayakannya bersama pasangan tercinta.  Karena itulah di hari Valentine, permen coklat, bunga, dan barang-barang lain yang dianggap merepresentasikan cinta laku keras. Begitu juga dengan cafe dan resto dipenuhi pasangan-pasangan dimabuk cinta.

Tapi sebenarnya tak harus se-maintream itu juga kok dalam mengekspresikan perasaan kita dalam merayakan Valentine.

Kita bisa mengganti perayaan Valentine dengan naik gunung berdua, masak makanan favorit bareng, atau cukup dengan nonton film romantis berteman popcorn dan coklat hangat. Filmnya pun tak harus Titanic, The Notebook, atau romansa Dilan dan Milea yang “cringe” abis itu. Karena masih ada ribuan film-film romantis diluar sana yang mungkin belum sempat kita tonton. Tertarik mencoba menonton film-film unik dan tak biasa? Saya punya 9 film pilihan anti mainstream yang asyik kita tonton di Bulan penuh cinta ini :

  1. About Time (2013) Sutradara : Richard Curtis

Mempunyai mesin waktu mungkin bakal ada di urutan teratas daftar keinginan setiap orang yang gemar berandai-andai. Beruntunglah Tim (Domhnall Gleeson), di usianya yang ke-21, mendapat kejutan besar, karena mengetahui kalau setiap pria di keluarga besarnya mempunyai kemampuan untuk… menjelajahi waktu! Namanya juga anak muda, tentulah kemampuan uniknya itu ia gunakan untuk mendapatkan gadis pujaan. Walau akhirnya ia benar-benar mendapatkan pasangan yang ia idamkan dalam diri Mary (Rachel McAdams), tapi ternyata perjalanan cinta Tim tak semudah yang ia bayangkan. Untuk memenangkan hati Mary saja, Tim harus mengulang-ulang waktu pertemuan pertama mereka. Tim akhirnya menyadari, bahwa kemampuan uniknya tak bisa menghindarkan dirinya dari permasalahan yang harus ia hadapi dalam hidup. Untuk meraih kebahagiaan hidup, kadang kita memang tak membutuhkan mesin waktu sama sekali.

2. Juno (2007) Sutradara : Jason Reitman

Jauh sebelum ada film Dua Garis Biru (2019) yang bikin heboh kumpulan ibu-ibu pengajian, Juno telah lebih dulu mengangkat isu tentang kehamilan di usia remaja. Juno bercerita tentang gadis belia bernama Juno (Ellen Page) yang mencari orang tua asuh bagi bayi yang akan ia lahirkan, akibat hubungan terlarang dengan teman sekolahnya, Bleeker (Michael Cera). Karakter Juno diperlihatkan sebagai gadis remaja yang berpikiran lebih dewasa dibanding teman sebayanya di sekolah. Namun akibat “kecelakaan” yang ia alami, Juno akhirnya sadar, ia masih terlalu hijau untuk menghadapi masalah ini sendirian. Untunglah ia dikelilingi oleh orang-orang yang tetap mendukungnya, bukan malah mencaci dan menjauhinya. Berkat Kedua orang tuanya Bren dan Mac (JK Simmons dan Alisson Janney) yang mempercayai keputusan putri remajanya dan juga sahabatnya Leah (Olivia Thirlby), yang selalu membantunya, Juno akhirnya bertemu dengan Mark (Jason Bateman) dan Vanessa (Jennifer Garner), sepasang suami istri yang nantinya akan menjadi orang tua asuh dari bayi yang akan ia lahirkan. Dialog di film ini terdengar renyah namun cerdas, berkat skenario jempolan pemenang Oscar dari Diablo Cody. Lagu-lagu dari Kimya Dawson juga oke banget, nyaman di kuping anak-anak muda. Pesan moral dari film ini adalah, apapun keputusan yang kita pilih pasti akan menimbulkan konsekuensi di sepanjang hidup kita.

3. Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) Sutradara : Michel Gondry

Bagaimana jika kita bisa menghapus memori tentang orang yang kita cintai agar tidak ada lagi luka di hati? Adalah Lacuna Tech, jasa penghapus memori yang dipimpin oleh Dr. Howard Mierzwiak (Tom Wilkinson) yang menyediakan layanan itu. Jim Carrey berperan sebagai Joel, sedangkan pasangannya, Kate Winslet sebagai Clementine. Keduanya memutuskan untuk menghapus kenangan kisah cinta mereka di Lacuna Tech karena alasan yang berbeda. Clem yang terlebih dulu menghapus memori tentang Joel, karena sifat Clem yang labil, mudah bosan dengan sikap Joel yang kebanyakan diam dan pasif. Sedangkan Joel berniat menghapus Clem dalam hidupnya setelah melihat Clem mengacuhkan dirinya (hal itu karena memori Clem tentang Joel sudah terhapus). Clem juga sudah berpacaran dengan pria lain saat Joel memergokinya di toko buku. Alur di film ini maju mundur nyaris tak beraturan. Visualnya pun kadang absurd karena melukiskan kelindan memori yang ada di kepala Joel. Namun begitu kita masuk ke dalam cerita, kita akan bisa mengikuti alur film ini dengan asyik.  Dunia surealis yang ditulis oleh Charlie Kaufmann ini mengingatkan kita  betapa pentingnya kenangan dan pengalaman yang kita punya, karena keduanya yang membentuk siapa diri kita sekarang.

4. Romeo + Juliet (1996) Sutradara : Baz Luhrmann

Cerita klasik drama tragedi karya Shakespeare diadaptasi sutradara Baz Luhrmann menjadi karya film post modern berlokasi di Verona Beach, dimana pedang berganti senjata api, dan pertikaian antar keluarga ningrat menjadi perseteruan antar mafia. Persaingan bisnis di antara keluarga Montague dan Capulet telah berlangsung cukup lama. Bagai air dan minyak, mereka tak pernah akur. Dimanapun mereka bertemu, pasti akan terjadi pertumpahan darah.  Cerita menjadi menarik, saat di sebuah pesta yang digelar di kediaman keluarga Montague, Romeo (Leonardo DiCaprio) yang merupakan anak tunggal dari keluarga Capulet, dipertemukan oleh Juliet (Claire Danes), anak dari Montague. Di tengah nyanyian sahdu “Kissing You” yang dibawakan oleh Des’ree, kedua anak manusia beda kubu itu bersiborok terbatasi dinding kaca akuarium. Dan cinta akhirnya mengambil alih segalanya. Saat Romeo meraih tangan lembut Juliet, ia pun berkata, “Jika menggenggam tanganmu adalah kesalahan besar, maka biarkan aku berdosa…” Cerita selanjutnya pun setia dengan sumber aslinya. Bahkan dialog yang digunakan juga bergaya shakespearean. Yang menarik dari film ini adalah gaya penyutradaraan Baz Luhrmann yang extravagant penuh warna, memodernisasi cerita klasik menjadi kekininan tanpa menghilangkan signature cerita itu sendiri.

5. Before Sunrise (1995) Sutradara : Richard Linklater

Kira-kira bosan ga ya nonton film yang dari awal hingga akhir isinya cuma dua orang ngobrol ngalor-ngidul ? Itulah tantangan yang kudu dihadapi saat menonton film ini. Hebatnya, film ini tetap asyik untuk dinikmati. Before Sunrise bercerita tentang pertemuan dua orang asing yang langsung terkoneksi, Jesse dan Celine (Ethan Hawke dan Julie Delpy), di gerbong kereta menuju Vienna. Awalnya Jesse saja yang sebenarnya ingin turun di Vienna, sementara Celine meneruskan perjalanan menuju Paris. Namun atas ajakan Jesse, Celine akhirnya mau meneruskan obrolan sembari menghabiskan waktu seharian di Vienna. Yah, rentang waktu di film ini hanyalah sehari semalam. Percakapan keduanya menyentuh banyak hal dan seolah tanpa skrip, kita seperti melihat obrolan casual dua orang yang direkam secara candid oleh seseorang. Penonton sejak awal pun pasti sudah menduga, akan timbul perasaan cinta di antara Jesse dan Celine, namun proses untuk menuju itu berjalan begitu natural lewat ekspresi, gestur, dan percakapan mereka. Richard Linklater, sang sutradara, pernah berucap, “Aku tak pernah mengalami kecelakaan helikopter, terlibat spionase, atau terbang ke luar angkasa, namun bukan berarti hidupku tak ada drama. Dan kejadian paling dramatis yang aku alami adalah ketika merasa benar-benar terhubung dengan orang lain.” Linklater mempunyai pendekatan yang unik dalam menggarap film. Contohnya Boyhood (2014) yang ia garap selama 12 tahun (!) demi untuk merekam proses tumbuh kembang tokoh utamanya dari masih anak-anak hingga remaja. Before Sunrise sendiri akhirnya ia jadikan trilogi bersama Before Sunset (2004) dan Before Midnight (2013) dengan pemeran yang sama. Jadi sekarang kita memiliki versi lengkap perkembangan hubungan dari Jesse dan Celine sejak awal mereka bertemu hingga dua puluh tahun setelahnya. Adakah film yang lebih niat daripada itu?

6. True Romance (1993) Sutradara : Tony Scott

Jangan terkecoh ya dengan judulnya. Kalau kalian berharap akan menonton film drama menye-menye ala drakor, kalian akan terkejut. Clue-nya adalah Quentin Tarantino yang kita kenal sebagai sutradara ajaib penuh violence adalah penulis naskah dari film ini. True Romance adalah film gado-gado yang mencampurkan drama romantik dengan dunia kejahatan penuh kekerasan. Disini kita jumpai narkoba, PSK, baku tembak, dan penyiksaan. Ceritanya sederhana, tentang drama percintaan di antara Clarence (Christian Slater) dan Alabama (Patricia Arquette). Clarence adalah pria kesepian yang hobi menghabiskan waktu menonton film-film lama Sonny Chiba (aktor laga legendaris Jepang) di bioskop tua. Ia juga kerap halu, berteman imajiner dengan Elvis Presley. Hidup Clarence berubah dratis saat Alabama, seorang PSK milik bos narkoba, memasuki kehidupannya bersama segala konsekuensinya. Lantas apa yang membuat film ini menjadi wajib tonton? Banyak. Cerita cinta tak biasa, humor cerdas, antagonis ikonik, dan kekerasan. Selain itu juga akan kita jumpai bejibun aktor keren berakting disini. Seperti Dennis Hopper, Val Kilmer, Gary Oldman, Christopher Walken, Samuel L. Jackson, bahkan Bratt Pitt pun sempat nongol sekejab di film ini.

7. Her (2013) Sutradara : Spike Jonze

Her adalah film romantis masa depan tentang penulis bernama Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) yang  jatuh cinta dengan Samantha (Scarlett Johansson, ia hanya menyumbangkan suara seksinya disini), kecerdasan buatan serupa SIRI yang disematkan di telepon pintar, yang membuat penggunanya memiliki “pasangan hidup” digital. Terlihat aneh? Untuk sekarang mungkin iya, tapi tunggu 5 atau 10 tahun lagi, apa yang terjadi dengan Theodore mungkin akan benar-benar terjadi di dunia nyata. Orang-orang makin tenggelam dengan pekerjaan, hingga tak ada waktu lagi untuk membina hubungan dengan lawan jenis.  Telepon pintar pun menjadi teman tak tergantikan.

8. Slumdog Millionaire (2008) Sutradara : Danny Boyle

Beberapa tahun lalu di televisi ada program kuis reality show sangat populer bertajuk “Who Wants To Be Millionaire”yang diadaptasi di berbagai negara di dunia, termasuk India. Kontestan ditantang untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan untuk mendapatkan hadiah puncak senilai 1 juta dollar. Slumdog Millionaire mengambil bagian cerita dari permainan tersebut. Dev Patel berperan sebagai Jamal Malik, kontestan yang dicurigai berbuat curang untuk menang karena Jamal berhasil menjawab semua pertanyaan dengan tepat. Hingga sampai ke pertanyaan terakhir, polisi membawanya paksa untuk diinterogasi. Polisi penasaran, bagaimana bisa dia menjawab semua pertanyaan, padahal Jamal terlihat tidak menyakinkan sama sekali. Akhirnya Jamal menjelaskan asal muasal darimana dia mendapatkan semua jawaban. Cerita pun bergulir, flashback masa kecil Jamal yang tinggal di kampung kumuh di Mumbai. Sedari kecil Jamal sudah kenyang dengan kemiskinan dan penderitaan. Bersama kakaknya yang jahat, Salim (Madhur Mittal), dan Latinka (Freida Pinto) cinta sejatinya, mereka tumbuh dewasa dengan pilihan jalan yang berbeda. Setiap bagian terpenting dari kehidupan yang dilalui Jamal, menyumbang rentetan memori yang secara kebetulan menjadi jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan pemandu kuis (namanya juga film). Jangan kuatir, ending-nya bahagia kok. Jamal akhirnya memenangkan quiz dan dia bertemu kembali dengan Latinka, kemudian joget bareng di stasiun dengan orang-orang disana. Harap maklum, ini kan film India.  

9. (500) Days of Summer (2009) Sutradara : Marc Webb

Joseph Gordon-Levitt dan Zooey Deschanel bermain sebagai pasangan “tak seimbang” di film ini. tak seimbang dalam artian, di satu sisi Tom (Joseph Gordon-Levitt) menjadi bucin (budak cinta) sejati, sementara di sisi lain Summer (Zooey Deschanel) tidak percaya dengan cinta, dan menganggap casual hubungannya, yah sekedar untuk senang-senang saja. Tom, seorang arsitek yang terjebak di pekerjaan sebagai penulis kartu ucapan, percaya dengan konsep soul mate dan dia menemukannya dalam diri Summer. Mereka punya banyak kesamaan. Sama-sama penyuka rockband The Smiths dan seniman surealis Magritte, jauh sebelum mereka bertemu. Tapi sayangnya Summer menganggap cinta sejati hanyalah dongeng pengantar tidur. Tom dengan segala daya upaya berusaha menyakinkan Summer bahwa cinta mereka nyata adanya. Angka 500 di judul menunjukkan jumlah hari yang mereka berdua lalui dalam film ini. alur filmnya sendiri non-linear alias maju mundur, tapi penonton terbantu dengan angka yang selalu berubah setiap berganti waktu kejadian, untuk menunjukkan hari ke berapa kejadian tersebut berlangsung. (500) Days of Summer bukanlah film cinta retjeh, melainkan film yang provokatif, mempertanyakan makna cinta dan takdir di dunia modern ini.

Teks : Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.