READING

Ada Apa Dengan Festival Kemul Sarung di Batu?

Ada Apa Dengan Festival Kemul Sarung di Batu?

Masyarakat Desa Gunungsari, Kecamatan Bumi Aji, Kota Batu, memiliki cara berbeda dalam memeriahkan ultah republik yang ke-74 ini.

BATU- Sarung ada dimana mana. Dikalungkan pada leher seperti halnya syal, disampirkan di pundak sebagaimana dilakukan para peronda malam, juga dipakai lazimnya penutup aurat.

Motif kain multi fungsi itu beragam. Ada yang kotak kotak dengan warna merah menyala. Ada sarung yang berhias motif  garis garis, batik, serta polos putih atau hitam. Bagi warga Gunugsari, bukan sekedar untuk menepis udara yang menggigilkan tulang.

Di malam itu, sarung terlibat penuh sebagai ikon utama pertunjukan drama kolosal. Tidak hanya menjadi kostum para pemain teatrikal. Seluruh dekorasi panggung, termasuk stand bazar, juga tidak lepas dari kain sarung. Begitulah Festival Kemulan Sarung yang berlangsung di Desa Gunungsari.

“Kenapa kami sebut Festival Kemul Sarung, karena memang desa ini identik dengan sarung. Terlebih dengan udara dingin di sini sarung menjadi bagian penting untuk penghangatnya,” terang Septian Adi Kurniawan, ketua pelaksana Festival Kemul Sarung.

Warga yang berduyun duyun untuk menonton pentas kesenian, juga bersarung. Tua, muda, remaja, juga anak anak kecil yang tenggelam dalam gendongan orang tuanya,  rata rata bersarung serta berjaket tebal.

Lalu ada apa dengan sarung?. Sarung, kata Septian Adi, menyimpan filosofi perlindungan, yakni melindungi hal hal yang ada di dalam sekaligus merekatkan di sekitarnya.

Selain sebagai sarana peribadatan, bagi warga Desa Gunungsari, sarung juga tempat berlindung dari serbuan udara dingin gunung. Tidak heran banyak warga, terutama pada malam hari, yang kemana mana berkemul sarung.  

“Sarung menjadi bagian penting bagi masyarakat kami dan cukup dekat sebagai kearifan lokal. Sehingga kami angkat konsep itu ke dalam setiap pertunjukannya,” ungkap pria yang berprofesi sebagai guru ini.

Melalui festival yang digelar, sarung dicoba diangkat menjadi identitas budaya. Terutama bagi warga Gunungsari. Tidak hanya suguhan drama. Pentas Agustusan yang berlangsung meriah itu juga menampilkan seni dolanan anak yang dikenal dengan istilah Praon dan Umbul umbulan.

Kain sarung dibentuk sedemikian rupa. Kemudian dengan ketangkasan yang atraktif dilempar ke udara dengan diputar putar. “Alhamdulillah anak-anak antusias dengan permainan ini. Harapannya permainan tradisional ini bisa lestari ,”harapnya.

Acara juga menghadirkan bintang tamu Keroncong Woekir. Semua personil juga mengenakan sarung. Adi berharap Festival Kemul Sarung bisa menjadikan warga Gunungsari yang identik dengan kesederhanaan, lebih dikenal luas.

“Kami juga berharap semoga tahun depan bisa kembali mengadakan, dengan lebih baik lagi,”katanya.

Reporter : Moh. Fikri Zulfikar
Editor: Mas Garendi          

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.