READING

AJI dan Pers Mahasiswa Gelar Nobar Film “Atas Nama...

AJI dan Pers Mahasiswa Gelar Nobar Film “Atas Nama Percaya”

Sampai saat ini kelompok penghayat kepercayaan di Indonesia masih mengalami diskriminasi. Putusan Mahkamah Konstitusi yang mengembalikan hak-hak sipil mereka tak serta mengubah keadaan.

KEDIRI – Perjuangan para penghayat untuk mendapat kesamaan hak konstitusional tak pernah mencapai ujung. Upaya mengajukan uji materi Undang-Undang Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan Pasal 61 Ayat (1) dan Pasal 64 Ayat (1) ke Mahkamah Konstitusi ternyata bukan akhir perjuangan mereka.

Keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan pencantuman status aliran kepercayaan pada Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga hingga kini belum terealisasi. Sejumlah kelompok dengan lantang menentang mereka disebut sebagai agama. Demikian pula Kementerian Agama yang setengah hati merespon putusan MK.

Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, saat ini jumlah organisasi penghayat tersisa 187 buah. Kementerian Dalam Negeri menyebut jumlah mereka sebanyak 138.791 orang, yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Dinamika persoalan sosial yang mereka hadapi beragam. Sebagian dipaksa memilih agama tertentu sebagai identitas kewarganegaraan. Sebagian memilih melawan dengan mengosongkan kolom agama.

Persoalan inilah yang menjadi tema besar film “Atas Nama Percaya” karya Dandhy Dwi Laksono. Film ini berkisah tentang kehidupan penganut aliran kepercayaan Merapu di Nusa Tenggara Timur dan Komunitas Perjalanan di Jawa Barat. Film berdurasi 40 menit itu bercerita tentang stigma, rentetan pasang surut pengakuan negara, serta penerimaan masyarakat pada kelompok penghayat.

Sabtu, 11 Januari 2020, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Kediri dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri menggelar pemutaran film tersebut di warkop Maspu, Sukorame, Kediri. “Film ini mengajak kita untuk memahami pluralisme yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia,” kata Ahmad Hidayatullah, Sekretaris Jenderal PPMI Dewan Kota Kediri.

Film yang merupakan program bersama Indonesian Pruralities, CRCS (Center for Religious and Cross-cultural Studies) UGM Yogyakarta, Watchdoc, Pardee School of Global Affairs, dan Boston University ini dipilih karena memiliki kekuatan cerita, data, sekaligus gambar yang berkualitas.

Tak hanya menghadirkan mahasiswa, pemutaran film ini juga diikuti sejumlah komunitas, aktivis HAM, wartawan, serta masyarakat luas. Tiga orang pemantik dihadirkan untuk menghidupkan diskusi. Mereka adalah Diah Ayu Septi Fauji (Manager Peneleh Research Training), Sunarno (Dosen Psikologi IAIN Kediri), dan Rino Hayu Setyo (anggota AJI Kediri).

Masing-masing pemantik memberi pandangan berbeda tentang para penghayat. Rino Hayu menilai definisi kepercayaan atas sesuatu yang sakral tak bisa dilekatkan dengan agama. Sehingga apapun yang diyakini masyarakat sebagai dimensi spiritual harus tetap dihormati.

Kearifan lokal dalam merespon keberadaan penghayat, menurut Dyah Ayu, jauh lebih penting dari sekedar memperdebatkan keyakinan mereka. Masyarakat modern, khususnya mahasiswa harus lebih mengenal dinamika ini agar tidak terjebak pada pandangan sempit tentang theologis.

Sementara Sunarno mendesak pentingnya dilakukan komunikasi antara negara, masyarakat, dan penghayat di Indonesia, untuk memberikan kepastian dan jaminan hak-hak yang mereka peroleh tidak terenggut. “Harus bertemu dan saling memahami posisi masing-masing,” katanya.

Diskusi tersebut makin hidup ketika para penonton turut menyampaikan ide dan pemikiran. Tak sedikit yang mengkritik film tersebut karena dinilai terlalu menyederhanakan persoalan yang dihadapi penghayat.

Lepas dari dinamika diskusi tersebut, acara nobar film “Atas Nama Percaya” berlangsung sukses. Lebih dari 100 penonton berjubel di area warkop hingga ke halaman. Mereka berharap forum seperti ini makin sering digelar untuk menambah khasanah pengetahuan di luar kampus.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.