READING

Akhir Jembatan Brantas Kediri Setelah 150 Tahun Be...

Akhir Jembatan Brantas Kediri Setelah 150 Tahun Beroperasi

KEDIRI – Kasmiran menyusuri jalan Maskumambang hingga kantor residen berjalan kaki. Tangannya menggamit tas kain berisi pakaian dan buntalan daun jati. Bersama ibunya, lulusan sekolah menengah pertama ini hendak menuju stasiun Kediri.

Kala itu Presiden Republik Indonesia Soekarno baru saja mengumumkan kemerdekaan. Suasana di berbagai daerah masih diliputi ketegangan. Di tengah situasi itu, Kasmiran harus memenuhi panggilan belajar di Sekolah Perkebunan Jember. “Saat itu hanya ada dua lulusan SMP di Kelurahan Sukorame, Kota Kediri. Salah satunya saya,” katanya suatu ketika.

Karena tak memiliki uang untuk menumpang dokar, Kasmiran dan ibunya Kasini, harus berjalan kaki menuju stasiun. Perjalanan panjang dari Sukorame di barat sungai menuju stasiun di timur sungai tak terasa jauh. Terlebih saat melintasi titian jembatan Sungai Brantas, terasa seru dan mengasyikkan baginya.

Di luar jam sekolah atau kewajban mencari kayu bakar, Kasmiran dan teman-temannya kerap bermain di sekitar Sungai Brantas. Dia juga menyaksikan perahu-perahu bersandar di dermaga barat sungai.

Jembatan itu merupakan satu-satunya penghubung wilayah barat dan timur Kota Kediri yang dibelah Sungai Brantas. Semua orang melewati jembatan itu, baik dari arah Madiun menuju Surabaya atau sebaliknya. Kala itu hanya ada satu jembatan di wilayah Kota Kediri. Karenannya masyarakat kerap menjulukinya sebagai jembatan lama ketika dua jembatan lain dibangun kemudian hari.

Imam Mubarok, pemerhati sejarah jembatan lama mengatakan seluruh jalur transportasi dari Surabaya dan sebaliknya memang diarahkan di jembatan itu. Kebijakan ini diberlakukan pemerintah kolonial Belanda untuk mengawasi pergerakan masyarakat. Tepat di ujung jembatan sebelah barat berdiri kantor Residen (sekarang Mapolresta Kediri).

Keresidenan ini diserahkan kepada pemerintahan Hindia Belanda dari Kerajaan Mataram pada tahun 1830, setelah berakhirnya Perang Diponegoro. Hingga pada akhirnya pemerintah Republik Indonesia menghapus karesidenan sebagai pembagian administratif negara pada tahun 1957.

Foto udara jembatan lama dari sisi barat. Foto : KITLV | Koleksi : Kediri’s Photograph Museum

Di jembatan ini pula Asmiati dan Sujinem, kakak beradik yang bersekolah di SD Santa Maria menyaksikan kengerian dari atas jembatan lama. Tahun 1965, ketika pecah pergolakan komunis di wilayah karisidenan Kediri, jembatan lama menjadi tempat yang “angker”.

“Dari atas jembatan sering terlihat mayat orang-orang PKI tanpa kepala mengapung. Jadi tontonan kalau pulang sekolah,” kata Asmiati.

Pensiunan guru sekolah dasar yang kini berusia 73 tahun ini memiliki pengalaman panjang dengan jembatan lama. Untuk mengenangnya, tak jarang dia mengisahkan cerita tersebut kepada cucunya saat melintas di atas jembatan. Bahkan beberapa waktu lalu, bersama adiknya Sujinem, mereka menyusuri kembali jembatan lama dan berteduh di bawah jembatan baru yang disulap menjadi Taman Brantas. “Teringat saat masih berjalan ke sekolah,” kata Asmiati yang bertempat tinggal di Mojoroto.

baca juga: Terkubur 31 Tahun Jasad Kiai Anwar Tetap Utuh

Bagi Kasmiran, Asmiati, dan Sujinem, jembatan lama bukan sekedar titian. Jembatan peninggalan Belanda itu merekam banyak peristiwa penting peradaban Kota Kediri. Hingga pada masanya untuk beristirahat setelah 150 tahun beroperasi.

Konstruksi Besi Pertama

Jembatan lama Brantas tercatat sebagai satu-satunya jembatan dengan konstruksi besi pertama di Pulau Jawa. Dibangun pada tahun 1869, jembatan ini didesain oleh Sytze Westerbaan Muurling. Seorang arsitek lulusan Royal Academy di Delft yang dipercaya membangun Jembatan Brug Over Den Brantas Te Kediri (jembatan lama).

Membangun jembatan di atas Sungai Brantas yang sangat deras dan dalam bukan pekerjaan mudah bagi Sytze Westerbaan Muurling. Apalagi seluruh konstruksinya menggunakan besi yang harus memperhitungkan pemuaian dan karat.

Belakangan masyarakat memuji keampuhan ilmu arsitektur Muurling. Jembatan besi yang pada umumnya memiliki usia operasional maksimal 100 tahun, berhasil dipatahkan. Hingga detik ini, jembatan tersebut tak pernah kehilangan kekuatan meski berusia 150 tahun.

baca juga: Menyusuri Rantai Sanad, Tarekat Penyuara Kiamat Sudah Dekat

Tak berlebihan jika sebagian sejarawan menyebut jembatan lama ini menjadi salah satu kesuksesan proyek infrastruktur pemerintah Hindia Belanda di Pulau Jawa.

Beberapa kerusakan yang terjadi sepanjang usia jembatan lama tak pernah menyentuh hal substantif. Jika tidak kebakaran kayu titian pedestrian akibat puntung rokok, Dinas Pekerjaan Umum Kota Kediri hanya melakukan penambalan aspal jalan. Selebihnya jembatan ini berfungsi sangat baik meski dengan beban kendaraan yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Papan larangan membuang puntung rokok di jembatan lama. Foto: Jatimplus

Kontroversi Jembatan Baru

Upaya untuk mengistirahatkan jembatan lama ini pertama kali dilakukan oleh rezim pemerintahan Wali Kota Kediri Samsul Ashar. Tahun 2013, Pemerintah Kota Kediri menganggarkan dana dari APBD senilai Rp 66 milyar untuk membangun jembatan baru di utara jembatan lama. Fungsinya untuk menggantikan fungsi jembatan lama dan memperlebar kapasitas kendaraan yang melintas.

Proyek pembangunan jembatan baru yang diberi nama Jembatan Brawijaya ini berhenti di tengah jalan setelah Kepolisian Resor Kediri Kota menengarai indikasi korupsi. Kasus ini kemudian dilimpahkan ke Polda Jawa Timur hingga pada akhirnya berlanjut ke persidangan.

baca juga: Jurus Khofifah Rangkul Ponpes Lirboyo

Tiga orang yang terlibat pengerjaan pembangunan jembatan Brawijaya dari pihak swasta ditetapkan menjadi tersangka. Mereka adalah mantan Direktur PT Fajar Parahyangan, Menawar, Direktur PT Surya Graha Semesta, Rudi Wahono, dan Dirut PT Fajar Parahyangan Yoyo Kartoyo.

Sementara dari pihak pemerintah daerah ditetapkan pula para tersangka yakni mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota Kediri, Kasenan dan Wijayanto, serta Kepala Bidang Permukiman Dinas PUPR Nur Iman Satro Widodo selaku pejabat pembuat komitmen.

Sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya membeberkan jika proyek tersebut pada awalnya hanya menganggarkan Rp 1,7 milyar untuk satu tahun anggaran. Namun dalam perubahan anggaran keuangan (PAK) diubah menjadi multi years dengan angka mencapai Rp 71 milyar. Proyek itu akhirnya direalisasi dengan angka sebesar Rp 66 milyar.

Di tengah penyelesaian perkara tersebut, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar memutuskan melanjutkan pembangunannya. Setelah berkoordinasi dengan perangkat penegak hukum dan Presiden, Abdullah mendapat restu melanjutkan proyek yang sempat mangkrak selama lima tahun. “Saya tak mau terus-menerus tersandera. Jembatan ini harus jadi untuk kepentingan masyarakat,” katanya.

150 penari beraksi di atas jembatan lama dalam pembukaan Jembatan Bawijaya. Foto: Humas Pemkot Kediri

Tepat pada tanggal 18 Maret 2019, Abdullah Abu Bakar menyelesaikan pembangunan Jembatan Brawijaya dan membukanya untuk umum. Pembukaan ini ditandai dengan penampilan 150 penari yang memainkan tari Suko Suko di atas jembatan.

“Alhamdulillah pada tanggal 18 Maret (bertepatan pembangunan jembatan 18 Maret 1869) kita meresmikan Jembatan Brawijaya, dan menetapkan jembatan lama menjadi cagar budaya,” kata Abdullah Abu Bakar.

Dengan beroperasinya jembatan baru ini, masyarakat bisa mengurangi pengeluaran bahan bakar yang sebelumnya memutar di jembatan Semampir dan alun-alun sejauh empat kilometer. Kemacetan pun bisa terurai menyusul akan beroperasinya bandara internasional di Kediri. (*)


RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.