READING

Akibat Social Distancing : Nongkrong NO, Tetap Ngo...

Akibat Social Distancing : Nongkrong NO, Tetap Ngopi YES

Minggu kedua pemberlakuan Social Distancing oleh pemerintah Kota Kediri akibat mewabahnya Corona, membuat kafe-kafe di berbagai tempat di Kediri mulai bertumbangan. Ada yang total tutup, namun ada juga yang hanya menerima pesanan take away (bawa pulang). Pemerintah Kota Kediri memang menganjurkan masyarakat lebih mengutamakan beraktivitas di dalam rumah, untuk mencegah penyebaran virus Corona.

Akibatnya, kafe-kafe jadi sepi pengunjung. Bahkan sejak minggu ini, para penegak hukum secara rutin melakukan patroli di malam hari untuk menganjurkan warga yang masih nongkrong di kafe, warung, dan ruang publik lainnya untuk segera pulang ke rumah. Penurunan omzet cukup signifikan membuat para pemilik membatasi  jam buka usaha kafenya, atau bahkan menutup total untuk sementara waktu. Selain demi efisiensi, penutupan dan pembatasan jam buka tersebut dilakukan untuk mendukung usaha pemerintah Kota Kediri dalam melakukan Sosial Distancing di masyarakat.

Saya mengunjungi salah satu kafe di Kota Kediri yang biasa ramai pengunjung di hari biasa, yaitu SK Coffee Lab, yang terletak di Jalan PK Bangsa 39 B Kota Kediri. Siang itu area parkirnya nampak lengang. Jendela kaca coffee bar yang terletak tepat di tengah bangunan homy itu terlihat hanya terbuka separuh. Saya memilih duduk di kursi bar, memperhatikan salah seorang barista sedang membuatkan pesanan untuk dibawa pulang pengunjung. Saya melirik sekilas tabel menu yang tergeletak di meja. Saya sudah tahu apa yang ingin saya pesan, yaitu segelas es kopi susu yang sedang populer di kalangan penikmat kopi kekinian.

“Sejak Senin kafe mulai sepi, Mas, turun sampai 50%.” Kata Erni, barista SK Coffee Lab, sambil membuatkan pesanan saya. “Tapi malam Minggu terakhir kemarin masih ramai loh disini, bahkan meja-meja penuh.” Mungkin minggu kemarin pengunjung belum sepenuhnya sadar pentingnya Social Distancing, batin saya.

“Hari ini kami mulai menutup kafe, tapi pelanggan masih bisa membeli kopi untuk dibawa pulang,” lanjutnya. Benar saja, seperti yang saya lihat, kursi-kursi dan meja bundar yang biasa ditata di halaman depan, kini masih tertumpuk rapi di dalam ruangan. Sign bertuliskan “buka” pun sudah dibalik menjadi “tutup”. Sementara itu papan pemberitahuan di teras menjelaskan alasan kenapa kafe tutup untuk sementara waktu.

Saya jadi ingat perkataan Jason Blum, bos dari Blumhouse Production, dalam sebuah wawancara. Salah satu pembuat film low-budget sukses di Hollywood ini berbicara tentang dampak tak langsung mewabahnya virus Corona. “Bisnis film akan berubah setelah datangnya wabah Corona. Pengalaman kolektif nonton bareng di bioskop tidak akan lagi kita alami dalam waktu dekat ini,” Ucapnya suatu ketika. Blum mungkin benar soal dampak Corona terhadap perubahan perilaku kita sehari-hari, termasuk kebiasaan kita nongkrong dan ngopi di kafe.

Tapi seperti juga experiences menonton film di bioskop yang tak mungkin tergantikan layar laptop, ngopi pun tak akan sama rasanya kalau kita lakukan di rumah. Karena kita ke kafe tak cuma untuk menikmati harumnya kopi Arabica atau menyesap foam hangat Cappuccino. Namun juga untuk memenuhi kebutuhan kita bersosialisasi, bercengkerama, dan berbagi cerita dengan orang lain.

Papan pemberitahuan bagi pengunjung.
Kafe mulai sepi karena pengunjung mulai banyak yang melakukan Social Distancing.
Meja dan kursi kafe dibiarkan tertumpuk di sudut ruangan.
Barista sedang membuatkan pesanan kopi untuk pengunjung.
Kafe ditutup untuk pengunjung dan hanya menerima pesanan dibawa pulang.
Halaman parkir terlihat lengang.

Teks dan Foto : Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.