READING

Alasan Mengapa Bonbin Menjadi Tujuan Wisata Sejuta...

Alasan Mengapa Bonbin Menjadi Tujuan Wisata Sejuta Umat

SURABAYABONBIN, akronim tersebut diwariskan turun-temurun untuk menyebut tempat wisata sejuta umat bernama kebun binatang. Dan rasanya tak ada yang lebih bertanggung jawab atas lahirnya istilah itu selain Kebun Binatang Surabaya (KBS). Siapa coba saat masih bocah belum pernah ke KBS? Bagi anak kecil di era 80-an, pergi ke Bonbin adalah sebuah kebahagiaan hakiki, karena disana kita bisa melihat dan berinteraksi langsung dengan hewan seperti harimau, gajah, jerapah, dan monyet. Tak seperti di rumah yang hanya bisa kita tonton di acara “Flora dan Fauna” di TVRI, atau kalau anak-anak sekarang biasa menontonnya di saluran televisi berbayar, National Geographic.

Salah satu wahana cukup luas yang dihuni oleh sekawanan kera di KBS.

Soerabaiasche Plantenn en Dierentuin atau Kebun Botani dan Binatang Surabaya, yang menjadi cikal bakal dari KBS, berdiri pada tanggal 31 Agustus 1916 berdasar Surat Keputusan Gubernur Jenderal Belanda nomer 40 tanggal 31 Agustus1916 dan mulai dibuka untuk umum pada bulan April 1918. Adalah seorang jurnalis bernama H. F. K. Kommer yang berjasa besar mengisi kebun binatang baru tersebut dengan koleksi binatang miliknya. Kini KBS memiliki tak kurang dari 2800 hewan hidup dan 351 spesies yang terdiri dari spesies mamalia, primata, reptilia, aves, dan pisces.

Salah satu spot untuk berswafoto.

Dalam perjalanan sejarahnya yang cukup panjang, KBS pernah mengalami pasang surut akibat diterpa berbagai masalah yang bersumber dari perseteruan antar pengelolanya. Dengan luas wilayah 15 hektar dan terletak di jantung Kota Surabaya, nilai aset dari KBS tentulah sangat menggiurkan untuk diperebutkan. Kebun binatang yang menjadi bagian dari memori kolektif anak-anak ini, pernah mengalami gonjang-ganjing cukup hebat. Konflik pertama muncul tahun 1997, berakibat tidak terurusnya kebun binatang dengan baik, dan puncaknya terjadi tahun 2014. Ribuan satwa meregang nyawa termasuk satwa-satwa langka seperti komodo, jaguar, harimau Sumatra, dan singa Afrika. Banyak penghuni kebun binatang yang stres dan mengalami penyakit seperti pneumonia (radang paru-paru), hepatitis (radang hati), enteritis (radang usus), dan malnutrisi (salah makan) akibat kelalaian pengurus saat itu.

Saat dulu KBS diterpa masalah hingga kondisi satwa tak terurus, kondisi wahana gajah adalah salah satu yang paling kena imbasnya.

Permasalahan internal tersebut memberi dampak besar terhadap keberlangsungan KBS secara keseluruhan. Jumlah pengunjungnya sempat mengalami penurunan drastis, karena kondisi KBS yang makin memprihatinkan dari tahun ke tahun. Namun uniknya, bermacam masalah tersebut tak benar-benar membuat masyarakat meninggalkannya. Tak peduli saat KBS dalam kondisi tidak terawat atau banyak koleksi satwanya yang mati, KBS tetap punya penggemar yang setia datang terutama saat akhir pekan dan hari libur, dengan mengajak anak-anak dan keluarga.

KBS pun kini berbenah, semakin terlihat cantik dan terawat. mudah kita jumpai papan petunjuk dan informasi yang keren dan kekinian.

Melihat kondisi KBS yang mati segan hidup pun tak mau itu, akhirnya Pemkot Surabaya mengambil alih pengelolaan KBS untuk sementara waktu. Benar kata orang, kalau persaingan sehat akan mendatangkan kemajuan bagi semua. Melihat rekan-rekan sesama pengelola kebun binatang seperti di Malang dan Prigen semakin baik dan profesional, membuat pengelola KBS pun berbenah, mempercantik diri. Keputusan ini membuat kondisi kebun binatang berangsur pulih dan meningkatkan kembali antusiasme kunjungan. Kini, pemandangan asri dan rimbun pepohonan banyak kita jumpai di tiap sudut KBS. Papan-papan informasi dan petunjuk pun terlihat lebih oke dan kekinian. Masalah kebersihan yang dulu menjadi isu utama, kini juga banyak mengalami kemajuan. Bau tak sedap kotoran hewan banyak berkurang. Petugas kebersihan pun secara berkala mengelilingi area untuk membersihkan sampah pengunjung. Toilet kini juga enak dilihat, dihiasi warna-warna cerah dan gambar satwa.

Anak-anak terlihat antusias mengikuti program “feeding time”, yaitu memberi makan rusa dengan kacang panjang yang telah disediakan oleh petugas.

Kondisi satwa-satwa KBS sendiri juga makin terawat dan secara psikologis lebih baik dari sebelumnya. Walau menurut saya pribadi, tetap terbersit perasaan tak nyaman melihat mereka terkurung tak bisa hidup di alam bebas sesuai habitatnya. Sungguh menggetarkan saat mendengar auman harimau yang mondar-mandir di dalam kandangnya. Terasa mengasyikan juga memperhatikan kunyahan mulut jerapah memakan dedaunan tepat dari bawah lehernya yang panjang. Atau tertarik merasakan menunggangi punggung gajah? Pengunjung bisa melakukannya di venue kandang gajah. Kalau saya sih lebih suka membelai rusa-rusa jinak yang segera mengendus tangan saya saat tahu saya mendekati kandang mereka. Selain hal-hal menarik diatas, ada juga spot Taman Selfie untuk mengakomodir kegandrungan orang ngeksis di media sosial. Khusus anak-anak, tersedia juga Kid’s Zoo, yaitu kebun binatang kecil untuk anak-anak agar mereka bisa berinteraksi langsung dengan satwa.

Taman selfie yang disediakan untuk pengunjung yang ingin mengabadikan pengalaman saat di KBS.

Lantas, apa alasan KBS hingga kini masih menjadi tujuan wisata utama saat liburan? Ada tiga alasan utama menurut saya, yaitu karena murah, nyaman, dan tradisi.

Sejak dulu hingga sekarang, harga tiket masuk KBS tetap terjangkau bagi masyarakat umum. Cukup dengan lima belas ribu rupiah, kita sudah bisa memasuki kebun binatang yang konon terluas se-Asia Tenggara ini. bandingkan dengan kebun binatang di Malang atau taman safari di Prigen yang tiket masuknya bisa mencapai puluhan hingga ratusan ribu rupiah itu. Maka tak heran, KBS tetap menjadi primadona bagi banyak orang, terlebih kini semakin terawat baik kondisinya. Terbukti di liburan nataru (Natal dan Tahun Baru) 2019 sejak Natal tanggal 25 desember lalu, rata-rata pengunjung KBS mencapai lebih dari 20 ribu per harinya.

Pengunjung merasa nyaman karena bisa menyantap bekal dari rumah bersama keluarga sambil menikmati satwa-satwa yang ada di KBS.

Kenyamanan adalah juga alasan utama pengunjung menggandrungi KBS. Kalau di kebun binatang lain ada aturan ketat yang mengharuskan pengunjung tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar, di KBS justru pengunjung dibebaskan membawa makanan dari rumah. Tak heran banyak kita jumpai kelompok-kelompok keluarga yang menggelar tikar di area lapang maupun taman untuk makan bersama laiknya orang piknik. Asal tetap menjaga kebersihan ya, jangan sampai karena kejorokan pengunjung sendiri, akhirnya lahir aturan yang melarang mereka membawa makanan lagi.

Seolah menjadi tradisi bagi orang tua untuk mengenalkan satwa-satwa secara langsung kepada buah hatinya dengan mengajaknya pergi ke bonbin.

Akhirnya alasan terakhir dan yang paling penting menurut saya adalah karena tradisi. Sedari dulu, saat orang tua ingin mengenalkan buah hatinya kepada hewan-hewan, pasti yang pertama terbersit di benak mereka adalah mengajaknya ke KBS. Entah mungkin sudah puluhan kali saya mengunjungi KBS, mengantarkan anak study tour sekolah atau sekedar menemani handai taulan dari jauh yang ingin berwisata ke kebun binatang. Saya yakin, kenangan tentang KBS pasti telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita sampai dewasa seperti saat ini, yang nantinya juga akan diteruskan oleh anak-anak kita, dari generasi ke generasi, hingga tercipta sebuah tradisi. Bahwa kalau ingin melihat macan, jerapah, atau gajah ya ke Bonbin.. eh KBS.

Teks dan Foto oleh Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.