READING

Alat Semprot Disinfektan Ala Dinas PU, Tidak Basah...

Alat Semprot Disinfektan Ala Dinas PU, Tidak Basah dan Tidak Bau

KEDIRI – Salah satu upaya menekan potensi penyebaran virus corona adalah dengan melakukan sterilisasi ruangan terutama yang digunakan bersama dengan orang lain. Namun penyemprotan yang dilakukan secara manual justru menimbulkan permasalahan baru. Ruangan menjadi basah dan relatif tidak nyaman untuk digunakan.

Dan lagi, cairan hasil semprotan seringkali merusak berkas-berkas penting di ruang kerja. Untuk menyiasatinya, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Kediri pun mencoba berinovasi dengan membuat alat semprot disinfektan rakitan.

Sunyata, Kepala Dinas PU Kota Kediri, menjelaskan bahwa mesin sederhana ini menggunakan sistem fogging. Partikel yang dikeluarkan alat ini tidak sebesar yang dikeluarkan alat semprot. Sehingga relatif lebih aman ketika mengenai permukaan benda-benda yang rawan rusak seperti kertas.

“Prinsipnya alat ini menjadikan cairan disinfektan jadi kabut, jadi relatif tidak basah,” kata Sunyata.

Rangkaian alat ini berupa kotak yang terbuat dari tripleks dan memiliki roda di bawahnya. Sedangkan di dalamnya terdapat kotak plastik untuk menampung cairan disinfektan. Cairan ini kemudian dialirkan ke instalasi pengabutan melalui selang plastik. Kabut yang dihasilkan kemudian dikeluarkan melalui pipa PVC. Arah semprotan bisa diatur arahnya dengan menambah sambungan pipa di ujungnya.

“Tidak perlu lama, cairan ini akan menjangkau seluruh ruangan,” tambah Sunyata.

Dari bentuknya, jelas alat ini memiliki daya tampung yang cukup banyak. Menurut Sunyata, alat ini bisa menampung sekitar 15 liter cairan disinfektan dengan perbandingan 1 liter disinfektan diencerkan dengan 30 liter air. Meski memiliki bodi yang besar, alat ini tetap mudah untuk dipindahkan karena dilengkapi dengan gagang dorong dan roda.

“Jadi tidak mudah capek karena tidak perlu memanggul alat semprot,” tambahnya.

Tidak hanya itu, halusnya partikel yang dikeluarkan alat ini membuat penggunaan cairan disinfektan tidak boros. Sehingga cairan bisa lebih awet dan merata ke seluruh ruangan. “Belum diukur berapa lama cairan disinfektan habis, yang jelas cukup efektif untuk digunakan di seluruh kantor PU,” tandasnya.

Saat ini, Dinas PU baru membuat satu unit saja. Estimasi biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 6,5 juta per unit. Untuk itu, Dinas PU menganggarkan sekitar Rp 300 juta khusus untuk pengadaan alat ini. “Rencananya akan kami distribusikan ke RSUD, puskesmas, hingga kantor-kantor pemerintah yang membutuhkan,” tegasnya.

Meski alat ini berhasil dan berfungsi dengan baik, Sunyata masih mencoba untuk terus mengevaluasi dan mengembangkan sistem kerjanya. “Siapa tahu ke depannya, alat ini bisa disebarkan secara luas dan dimanfaatkan lebih banyak orang,” katanya.

Sementara itu, penyemprotan disinfektan secara massif masih menjadi kontroversi di kalangan masyarakat. Banyak para ahli yang mengingatkan agar tidak terlalu berlebihan dalam melakukan penyemprotan karena cairan disinfektan terutama yang mengandung klorin bisa berdampak buruk bagi tubuh manusia.

Menyikapi hal tersebut, Dinas PU mencoba untuk menggunakan cairan disinfektan yang lebih ramah lingkungan. Yakni cairan yang biasa digunakan untuk membersihkan sayur dan buah. “Kami pilih cairan disinfektan yang bahannya bukan klorin. Selain tidak bau, juga lebih aman bila kena tubuh manusia,” pungkas Endang Kartika Sari, Kabid Bina Marga yang juga ikut dalam tim pembuatan alat rakitan ini.

Penulis : Dina Rosyidha

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.