Anak Dengan HIV/AIDS Harus Sekolah

SURABAYA-Tiap pagi Ira bangun pukul 5. Balita empat tahun ini kini sudah bisa sekolah di PAUD dekat tempat tinggalnya. Pengasuhnya membangunkan Ira hanya perlu sekali sentuhan. Ira pun bangun dan beranjak dari tempat tidurnya untuk memulai aktivitas. Jika sebelumnya adalah mandi, minum susu lanjut makan kue, namun sekarang bertambah dengan memakai seragam lalu berangkat sekolah. 

Lilik Sulistyowati alias Vera adalah penanggung jawab Ira. Vera sempat kuatir Ira tidak bisa sekolah. Vera mengaku, sejarah Ira membuat dia perlu berpikir beberapa kali untuk menyekolahkan Ira.

Vera menerima Ira waktu masih bayi. Masih umur tiga minggu. Orang Jawa menyebut, bayi merah. Kedua orang tua Ira sudah meninggal karena terinfeksi HIV. Kerabat Ira tak mau merawatnya. Baik dari pihak ayahnya maupun ibunya. Semua menolak.

Ira korban stigma. HIV sangat sulit ditularkan. Buktinya selama hampir 30 tahun Vera merawat anak-anak yang terinfeksi HIV, dia tetap sehat. Dia mengaku belum pernah sakit parah bahkan hingga harus masuk rumah sakit.

Kini usia bayi merah yang ditolak keluarga itu sudah 4,5 tahun. Ira sudah tiga kali dites. Hasilnya, semua negatif. Bisa dipastikan, Ira memang tidak terinfeksi. Tapi ketakutan Vera tak bisa ia hindari. Stigma negatif terhadap Ira yang dilekatkan masyarakat bukan hal sepele.

Dengan status kedua orang tuanya yang meski sudah meninggal, Vera mengaku kesulitan mengubah stigma negatif itu. Masyarakat yang tidak terliterasi akan HIV/AIDS beserta penularannya, menjadi alasan utama penghambat ODHA dan ADHA untuk bersosialisasi. ODHA adalah Orang Dengan HIV/AIDS. Sedangkan ADHA adalah Anak Dengan HIV/AIDS.

Orang banyak yang menganggap HIV/AIDS bisa ditularkan hanya dengan berjabat tangan. Padahal HIV/AIDS tidak bisa menular dengan berciuman. Bahkan dengan bertukar liur saat berciuman sekalipun.

HIV/AIDS bisa menular dengan hubungan seksual, berganti jarum suntik, ibu hamil dan menyusui, dan tranfusi darah. Gigitan nyamuk tak perlu ditakuti. Karena tidak akan menularkan penyakit ini.

Vera adalah pemilik yayasan Abdi Asih. Sebuah yayasan yang bergerak di isu seputar HIV/AIDS  dan pendampingan ODHA. Sudah lebih dari 30 tahun, Vera bergerak di bidang ini. Banyak ADHA yang ia tampung. Banyak pula yang meninggal. Hanya sedikit yang bisa bertahan hidup. Ira adalah salah satu yang bertahan hidup.

Selain Ira,  Cahaya adalah salah satu anak yang kini juga ditampung Vera. Cahaya positif HIV. Umurnya delapan tahun. Mata kanannya masih baik. Mata kirinya buta. Rusak karena disulut bara rokok. Pamannya sendiri secara sadar melakukan.

Kabut putih di mata kiri Cahaya adalah bekas luka disulut bara rokok. Mata itu kini buta. Foto: Jatimplus.ID/Nikolaus Suhud.

Balita Cahaya dirawat keluarga ayah tirinya di Trenggalek. Sekujur tubuhnya penuh koreng dan menyebarkan bau busuk. Cahaya dipaksa tinggal dan tidur di kandang kambing. Seharusnya Cahaya minum anti retroviral. Obat ini wajib diminum dua jam sekali. Gunanya untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Tapi tidak diminumkan. Jika tidak diminum, penyakit sepele bakal menjangkiti. Bukan itu saja. Obat yang seharusnya diambil di puskesmas, tidak diambil, meski gratis.

Penyakit juga menyerang syaraf Cahaya. Daya tubuhnya lemah. Tangan kiri tak bisa digerakkan. Kaki kirinya juga bermasalah. Kaku. Menyebabkannya terseok jika berjalan. Banyak makanan yang jadi pantangan termasuk udang dan buah-buahan masam. Dia juga tidak boleh mengonsumsi makanan berMSG karena bisa kena sariawan. Tak hanya satu atau dua, mulut hingga kerongkongan bisa penuh dengan sariawan.

Cahaya lahir di Papua hasil pernikahan ibu dan ayah tirinya. Ibunya tiba-tiba meninggalkan Cahaya. Tanpa pamit. Tanpa alasan. Ayah tirinya membawa enam anak tirinya pulang ke Trenggalek. Oleh pemerintah kabupaten Trenggalek, Cahaya diserahkan ke Vera. Luka di sekujur tubuh Cahaya kini sudah sembuh. Tapi bekasnya tak bisa disembunyikan.

Vera mengaku ada perasaan yang campur aduk. Sebuah desakan menyekolahkan Ira dan Cahaya agar mereka bisa bersosialisasi dan mengenyam pendidikan. Tapi di hatinya bergemuruh perasaan lain. Kuatir keduanya akan dikeluarkan dari sekolah jika statusnya terungkap. Tak habis di situ, kedua anak malang ini juga akan distigma negatif selama hidupnya. Bagi Vera itu bukan hidup.

Tahun ini, 2019, Vera merasa tidak bisa tinggal diam. Kedua anak itu harus sekolah. Maka Vera memberanikan diri menghadap kepala sekolah. Menjelaskan kondisi kedua anak asuhnya. Doa Vera terkabul. Harapannya menjadi kenyataan. Ira dan Cahaya boleh sekolah.

“Aku sekarang senang, Mas. Ira sama Cahaya sudah sekolah. Ditambah kondisi Cahaya yang makin hari makin membaik tidak lagi sesak nafas.” Sambil menitikkan air mata, Vera tak henti bersyukur.

Berupaya agar anak bisa sekolah juga dilakukan oleh Tik dan Har. Tik dan suaminya Har adalah pasangan suami istri. Keduanya postif HIV/AIDS. Tik tertular dari suaminya. Har tertular dari penggunaan jarum suntik yang sama saat mengonsumsi napza.

Tik dan Har mengikuti sebuah program agar jika memiliki anak, keturunan mereka tidak tertular HIV/AIDS. Keduanya berhasil mengikuti program itu. Dua anak mereka negatif. Sebuah anugerah yang sangat disyukuri Tik.

Tik tidak ingin statusnya dan suaminya menghalangi kedua anaknya sekolah. Senafas dengan Vera, Tik juga menghadap kepala sekolah dan semua guru di sekolah anaknya.

Dia menjelaskan statusnya dan suaminya. Status negatif kedua anaknya juga ia ungkapkan. Ibarat sambil menyelam minum air. Tik sekaligus meliterasi pihak sekolah tentang bahaya HIV/AIDS beserta penularannya.

“Ini termasuk perjuanganku. Anak-anakku harus sekolah. Ini kan hak mereka,” kata Tik di rumah kontrakannya.

Reporter : Nikolaus Suhud
Editor : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.