READING

Ancaman HIV/AIDS di Lingkaran Homoseksual

Ancaman HIV/AIDS di Lingkaran Homoseksual

Penularan HIV dan AIDS di kalangan LSL (Laki Seks Laki) atau homoseksual meningkat tajam. Sementara tanpa disadari pertumbuhan populasi mereka juga terus bertambah di masyarakat.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menempatkan kelompok LSL sebagai populasi kunci penyebaran virus HIV dan AIDS. Selain mereka ada kelompok waria dan wanita pekerja seks yang sama-sama berpotensi menularkan penyakit ini. “Kelompok LSL ini menyumbang kenaikan penularan HIV tertinggi di masyarakat,” kata Eka Putri Lestari, staf Pemegang Program HIV Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur kepada Jatimplus.ID, Sabtu 27 April 2019.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebut proporsi infeksi HIV baru di Indonesia menempatkan kelompok LSL atau homo seksual pada posisi puncak dengan 32 persen. Hal itu tertuang dalam laporan estimasi dan proyeksi HIV/AIDS di Indonesia dalam kurun waktu 2011 – 2016.

Disusul berikutnya adalah penularan dari suami ke istri sebesar 26 persen, hubungan seks dengan pekerja seks sebesar 25 persen, waria sebesar 9 persen, penularan istri ke suami sebesar 4 persen, serta seks tanpa imbalan dan berbagi jarum suntik sebesar 2 persen.

Secara normatif, kelompok LSL tak hanya mencakup laki-laki homoseksual saja. Di dalamnya termasuk pula waria yang belum berganti kelamin, biseksual, dan laki-laki heteroseksual yang melakukan perilaku LSL.

baca juga: Inilah Kasus Pembunuhan Sadis LGBT di Jawa Timur

Eka Putri Lestari tak membantah jika tingginya temuan penularan HIV/AIDS di kalangan homoseksual ini berjalan seiring dengan bertambahnya populasi mereka di masyarakat. Apalagi tak banyak dari mereka yang bisa dikenali secara kasat mata dari perilakunya.

Untuk menekan penularan HIV/AIDS ini, pemerintah mentargetkan penemuan kasus ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) lebih besar pada kelompok homoseksual. Sehingga tahun 2024 nanti, target temuan ODHA di kelompok LSL bisa mencapai di atas 900.000 orang. Sementara target temuan untuk waria lebih tinggi mencapai 1 juta orang di tahun 2024 mendatang.

baca juga: Mengenal Anjelo Sosok di Lingkaran Bisnis Esek Esek

Jika target itu terpenuhi, kewajiban layanan kesehatan di seluruh daerah adalah memastikan 90 persen ODHA di wilayah masing-masing telah mengetahui status HIV mereka. Sehingga mereka mau dan bersedia mengikuti tindakan pengobatan ARV untuk melemahkan virus HIV.

Perilaku Seksual

Hubungan seksual tak hanya dilakukan dengan genito-genital atau antara penis dengan vagina saja. Sejumlah riset menyebut ada tiga teknik lain yang memiliki resiko kesehatan cukup tinggi.

  • Masturbasi

Aktivitas seks ini dilakukan dengan menggesek dengan tangan, menggesek di sela-sela paha, ataupun di badan pasangannya. Teknik ini relative lebih aman untuk tidak tertular penyakit, selain kemungkinan terinfeksi jamur dan scabies pada kelamin akibat kontak kulit.

  • Oral Seks

Lebih dari 90 persen gay melakukan oral seks setiap berhubungan. Bahkan teknik ini jauh lebih sering dipergunakan di banding anal seks. Resiko kesehatan yang terjadi adalah gangguan pada otot pengunyah dan tenggorokan, serta kemungkinan terinfeksi penyakit IMS seperti Gonorhoe, sifilis, herpes, dan chlamidya.

  • Anal Seks

Sejumlah riset menyebut bahwa 35 persen kelompok heteroseksual pernah melakukan hubungan anal seks. Dan 50 persen kalangan gay melakukannya secara rutin. Di kalangan gay, kegiatan anal seks ini dikenal dengan tiga istilah; menempong, ditempong, dan tempong-tempongan.

Provinsi Jawa Timur masuk dalam kawasan penularan HIV tinggi di Indonesia. Bahkan seluruh wilayah Pulau Jawa, Papua, dan Sumatera Utara berada di zona merah. Hingga tahun 2018 jumlah estimasi ODHA di seluruh Indonesia sebesar 629.523 orang. Ini berarti potensi pengidap HIV di Indonesia sebanyak 25 orang per 1.000 jiwa.

Stigma Minor

Hingga kini stigma bagi penderita HIV/AIDS di masyarakat cukup keji. Ini pula yang membuat kelompok resiko tinggi tak berani memeriksakan diri ke pusat layanan kesehatan. “Padahal ini malah menyulitkan mereka dan kami sebagai petugas kesehatan,” kata Eka Putri Lestari.

Dia menegaskan, penularan HIV/AIDS sebenarnya jauh lebih rendah dari penyakit lain seperti TBC. Sebab HIV hanya bisa menular melalui hubungan seksual dan kontak darah. Sementara virus TBC bisa lebih masif hanya dengan berdekatan dengan penderita melalui udara.

Namun faktanya masyarakat justru merasa lebih “aman” berdekatan dengan penderita TBC dibanding penderita HIV. Bahkan stigma minor ini kerap berlanjut ke wilayah moral sebagai akibat hubungan seks bebas. “Padahal banyak ibu rumah tangga yang diam di rumah, justru tertular suaminya yang nakal,” pungkas Eka. (Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.