READING

Antara “Puisi Balada” Jason Ranti dan Toleransi Ba...

Antara “Puisi Balada” Jason Ranti dan Toleransi Banser Riyanto

Tentara mati di medan perang

Juru dakwah mati di mimbar

Guru mati di papan tulis

Petarung mati di jalan

Burung mati di langit

Ikan mati di laut

Musisi mati di panggung 

 

#RIP 

MOJOKERTO- Di time line akun instagramnya, musisi folk Jason Ranti menulis tanpa memberi secuil keterangan. “Puisi Balada” yang tidak terikat rima, dan didalamnya terkandung pesan tragedi itu, tidak merujuk pada satu nama.

Namun diantara 14.889 penjempol statusnya tentu sudah mengerti. Kesedihan puitis penelur album “Akibat Pergaulan Blues” itu khusus dipersembahkan kepada personil band Seventeen yang menjadi korban terjangan tsunami di kawasan Banten dan Lampung kemarin.

Ya, “Musisi mati di panggung”. Namun secara umum juga ditujukan kepada mereka yang menjadi bagian tragedi alam dan kemanusiaan.

Pada peristiwa kematian yang serupa, narasi puitis Jason Ranti mengingatkan pada insiden 18 tahun silam, yakni tepatnya 24 Desember 2000. Sebuah bom meledak di pelataran Gereja Eben Haezer, Jalan Kartini Nomor 4, Kota Mojokerto, Jawa Timur.

Perayaan Natal yang semestinya berlangsung meriah, gegap gempita, penuh suka cita, menjelma duka cita. Teror bom memang gagal melukai jemaat gereja. Semuanya selamat.

Namun ledakan bom telah membunuh Ahmad Riyanto (25), anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) Mojokerto. Riyanto tewas sebagai martir setelah berupaya menjauhkan buntalan bom dari kerumunan jemaat gereja.

Sukarmin, ayah Riyanto tidak pernah bisa melupakan insiden itu. Setiap malam perayaan Natal, lelaki yang sehari hari mengayuh becak itu selalu teringat bagaimana kebiadaban terorisme telah merampas nyawa anaknya.

“Waktu itu saya di luar sedang janggol (mbecak) dan sempat mendengar katanya ada bom yang meledak di gereja,” tutur Sukarmin mengenang peristiwa. Seiring ledakan bom, dalam waktu singkat, cerita bergulir menjadi buah bibir.

Cerita itu juga sampai ke telinga Sukarmin yang malam itu masih membanting tulang. Awalnya dia hanya mendengar korban teror bom adalah warga satu kampung dengannya.

Saat itu belum juga terbersit korban ledakan bom itu Riyanto yang sore sekitar pukul 17.00 Wib, mengenakan seragam loreng Banser, berpamitan dengannya hendak mengamankan gereja.

Sebagai orang tua Sukarmin merasa tidak memperoleh firasat apa apa. Karenanya Sukarmin langsung kaget begitu diberitahu anggota Banser lain, bahwa yang menjadi korban ledakan bom adalah anaknya.

Antara percaya dan tidak percaya, rasa syok, lemas, dan sedih seketika campur aduk menjadi satu. Kendati demikian dia masih menyimpan secuil harapan semoga kabar buruk yang didengar, tidak benar. Sukarmin langsung memutuskan mendatangi tempat jenazah korban bom berada.

“Namun saat itu saya tidak diijinkan melihat jenazah anak saya. Saya justru diminta pulang ke rumah, “katanya. Larangan itu diduga terkait dengan kondisi Riyanto yang mengenaskan.

Informasinya, bersama empat petugas petugas lain, Riyanto menemukan bungkusan yang dicurigai sebagai bom di dalam gereja. Saat melihat bunga api terpercik, Riyanto yang memberanikan diri membuka bungkusan, sontak berteriak meminta semua untuk tiarap.

Riyanto berusaha melempar ke tempat sampah di luar gereja. Namun buntalan bom itu terpental. Riyanto mengambilnya kembali dan berusaha membuangnya lebih jauh dari gereja. Namun malang, ketika didalam dekapan Riyanto, bom keburu meledak.

Ledakan itu membuat Riyanto meninggal dunia dengan kondisi wajah dan jari yang memprihatinkan. Sesampai di rumah, Sukarmin yang diminta langsung pulang, melihat sudah banyak orang mendatangi rumahnya.

“Sudah banyak orang berdatangan. Mereka sudah mendengar Riyanto meninggal dunia akibat ledakan bom di gereja, “tuturnya.

Malam itu juga jenazah Riyanto langsung dibawa ke rumah duka. Almarhum dimakamkan keesokan harinya, yakni 25 Desember 2000 di tempat pemakaman umum Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Ahmad Riyanto merupakan putra sulung dari tujuh bersaudara pasangan suami istri Sukarmin dan Katinem. Bujangan yang aktif di Banser Ansor NU itu lahir di Kediri 19 Oktober 1975. Sebagai anak tertua, Riyanto yang dikenal penurut itu, semasa hidupnya juga menjadi tulang punggung keluarga.

“Dia (Riyanto) dulu bekerja menimbang kedelai di koperasi,” kenang Sukarmin.

Rudi Sanusi Wijaya pendeta gereja Eben Haezer juga tidak akan pernah bisa melupakan peristiwa di malam kebaktian 24 Desember 18 tahun silam itu. Dua bungkusan mencurigakan ditemukan pengurus gereja di dua lokasi yang terpisah.

“Pertama, bungkusan tas plastik ditemukan di bawah telepon umum di depan gereja dan yang satunya tas berisi kado di dalam gereja di bawah bangku,” ujarnya.

Karena khawatir isinya bom, dua buntalan itu dibuka. Yang ditemukan dibawah telepon umum berisi rangkaian kabel. Anggota Banser Riyanto yang membuka langsung berupaya membuangnya ke gorong gorong yang berjarak sekitar 10 meter depan gereja. Namun dalam proses pembuangan itu bom keburu meledak.

Baju doreng banser yang dikenakan almarhum Ahmad Riyanto saat terkena ledakan bom itu kini dipajang di museum Nahdlatul Ulama (NU). Seragam itu menjadi salah satu benda bersejarah NU bagaimana menjaga toleransi di negeri ini tidak mudah dan berdarah darah.

Kiranya pada “puisi balada” yang ditulis Jason Ranti perlu ditambahkan: “Banser NU mati (baca: gugur) di depan gereja menjaga toleransi”. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.