READING

Anti-mainstream: Pemuda Banyuwangi Ngabuburit deng...

Anti-mainstream: Pemuda Banyuwangi Ngabuburit dengan Bersih Sampah

Biasanya ngabuburit dilakukan dengan kegiatan seperti jalan-jalan sore, mengikuti ceramah agama, atau mendatangi pasar kuliner. Tapi di Banyuwangi berbeda, gabungan pemuda pemudi ini melakukan aksi bersih sampah hingga menjelang adzan tiba.

BANYUWANGI – Krisna Gusenda, pemuda Desa Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi merasa gusar dengan banyaknya sampah yang tercecer di area Jembatan Wiroguno Kecamatan Gambiran. Sebab, jembatan terpanjang di Banyuwangi tersebut menjadi tempat pembuangan sampah oleh masyarakat sekitar. Krisna mengaku sering melihat warga membuang sampah di jembatan sepanjang 80 meter itu.

Jembatan Wiroguno merupakan penghubung antara Kecamatan Gambiran dengan Kecamatan Tegalsari. Jembatan ini menjadi alternatif Krisna untuk melipat jarak saat beraktivitas menuju Kecamatan Genteng maupun ke arah pusat kota Banyuwangi. Hampir setiap hari saat melintas, ia melihat adanya warga yang membuang sampah di aliran Sungai Kalisetail. Saat musim kemarau seperti sekarang, sampah yang didominasi oleh plastik tersebut “mendarat manis” di batu cadas yang tak teraliri air. Namun saat musim hujan tiba, dapat dipastikan tumpukan sampah yang menggunung tersebut akan terseret hingga bermuara di lautan.

Relawan menyisir sampah yang nyangkut di jembatan. FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachmaningtyas.

Sore itu (24/5/2019), Krisna berhenti sejenak di trotoar Jembatan Wiroguno untuk melepas lelah setelah berkendara. Ia sekaligus sengaja ingin menyurvey jembatan berketinggian 8 meter tersebut untuk arena latihan rappelling bagi siswanya. Kebetulan, Krisna memang berprofesi sebagai seorang guru olahraga di MA Unggulan Mamba’ul Huda Tegalsari. Rappelling merupakan sebuah olahraga dengan teknik menuruni bidang vertikal menggunakan alat bantu utama berupa tali. Saat itu, ia berencana akan berolahraga rappelling bersama siswanya di Jembatan Wiroguno setelah hari raya Idul Fitri.

Saat melihat lokasi, Krisna pun kaget dengan banyaknya sampah yang tersangkut di besi jembatan, begitu juga yang berserakan pada cadas Daerah Aliran Sungai (DAS) Kalisetail. “Kurang lebih kalau tertumpuk itu sekitar 30cm. Padahal setahun lalu sempat rappelling-an di sana tapi masih bersih,” ungkapnya kepada Jatimplus.id.

Spontanitas, guru berumur 23 tahun tersebut memotret kondisi jembatan yang dibanggakan masyarakat Banyuwangi itu. Ia pun berbagi kegelisahan di akun Facebook miliknya. Respon dan dukungan mengalir deras di kolom komentar, hingga hal tersebut berujung pada kesepakatan aksi yang mereka laksanakan 2 hari setelahnya. Rencana singkat tersebut disambut antusias dari berbagai kalangan. Seperti siswa siswi MA Unggulan Mamba’ul Huda dan SMKN 1 Tegalsari, anggota pramuka Kecamatan Sempu, serta para relawan pegiat lingkungan dari berbagai kecamatan.

Peralatan yang mereka gunakan cukup sederhana. Yaitu trash bag atau kantong sampah, cangkul, arit, serta masker. Peralatan lain seperti harness dan tali karmantel digunakan untuk keamanan para relawan ketika membersihkan sisi tepi besi jembatan. Krisna menambahkan, persiapan seperti kantong sampah dan masker murni hasil swadaya dari para relawan.

Mayoritas sampah berupa plastik dan pampers. FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachmaningtyas

Dalam rentang waktu sekitar 3 jam, mereka dapat mengumpulkan 28 kantong sampah, 10 di antaranya mencapai volume penuh yakni setinggi 1 meter. Mayoritas sampah yang terkumpul antara lain adalah pampers, pembalut wanita, plastik sekali pakai, dan sampah organik. Bahkan mereka menemukan satu karung berisi baju, kaos, dan celana yang dibuang begitu saja. Bau tak sedap dan banyaknya belatung yang mereka jumpai saat pemilahan sampah menjadi kesulitan tersendiri bagi para relawan.

“Sampah-sampah itu kebanyakan sudah menumpuk, jadi susah dibersihkan. Sudah nempel di batuan sungai,” ujar salah satu relawan asal Kecamatan Genteng, Dwi Swastanti.

Hambatan lain yang mereka temui adalah sulitnya mencari Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah di wilayah tersebut. Menurut Krisna terdapat sebuah TPS di dekat jembatan merah Lidah, namun ia mengamati jika sampah-sampah di sana sudah menggunung, jatuhnya juga akan ke sungai. “Harapan saya di setiap desa punya TPS atau TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) sendiri sebelum dibawa ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir),” papar pemuda yang juga anggota organisasi pecinta alam itu.

Aksi bersih sampah yang digagas oleh Krisna dan para relawan tak berhenti di situ. Selang beberapa hari, mereka memasang spanduk larangan membuang sampah ke sungai di sekitar badan jembatan. Pemasangan spanduk berjumlah 8 tersebut diharapkan dapat menyadarkan masyarakat untuk tidak membuang sampah mereka ke DAS Kalisetail agar tak mencemari lingkungan dan berujung ke laut.

Banyaknya sampah di bawah Jembatan Wiroguno, Gambiran. FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachmaningtyas

Upaya para relawan tersebut sejalan dengan rencana Indonesia dalam mengurangi sampah di lautan, yakni sebesar 70 persen hingga tahun 2025. Rencana tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri, Jose Tavares, pada East Asia Summit (EAS) Conference on Combating Marine Plastic Debris yang diselenggarakan di Bali pada tahun 2017 lalu.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, jumlah timbulan sampah di Indonesia mencapai 65.200.000 ton per tahun dengan penduduk sebanyak 261.115.456 orang. Jumlah timbulan diperkirakan terus meningkat sesuai proyeksi penduduk Indonesia yang terus bertambah. Pada 2016, BPS mencatat produksi sampah per hari tertinggi berada di Pulau Jawa. Hal ini menobatkan Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. (Suci Rachmaningtyas)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.