READING

Apa Yang Dilaunching Dari Film The Santri di Hari ...

Apa Yang Dilaunching Dari Film The Santri di Hari Santri? Trailer Lagi?

Film The Santri diperkirakan baru bisa dinikmati pada tahun 2020 mendatang. Karena yang ada saat ini baru sebatas trailernya.

JOMBANG- Karenanya, yang dilaunching pada perayaan hari santri (22 Oktober) nanti ditengarai hanya woro woro bahwa syuting film baru akan dimulai. Bukan film yang siap ditonton di bioskop tanah air.

Sebagai orang yang melek IT, media, dan cukup mengerti film, Ketua Ribath Al-Ghozali Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, M Choirurojikin menilai hal itu tidak lazim.

Trailer merupakan ringkasan dari film secara utuh.Umumnya, trailer diluncurkan setelah pengerjaan film mendekati rampung atau bahkan sudah rampung.

Menjadi ganjil jika pembuatan baru akan dimulai, namun trailernya sudah keburu diramaikan ke publik. “Ini aneh, syutingnya baru akan dilakukan bulan Oktober besok, tapi trailernya sudah muncul,” kata M Choirurojikin.

Cuplikan berdurasi 2 menit 45 detik garapan sutradara Livi Zheng mengambil tempat di Kabupaten Blitar. Sebut saja Candi Penataran, Candi Sawentar, Perkebunan Teh Sirahkencong, Pantai Serang dan Pondok Pesantren.

Kadisporbudpora Pemkab Blitar Suhendro Winarso menegaskan, Pemkab Blitar tidak memiliki kerjasama. Kalaupun ada bantuan yang diulurkan, kata dia hanya sekedar suguhan kopi dan cemilan, sewajarnya tradisi tuan rumah menyambut tamu.

Pemkab Blitar kata Suhendro Winarso hanya sebagai fasilitator yang itu bagi Kabupaten Blitar dirasa menguntungkan, yakni sebagai promosi gratis.

Kenapa syuting di Blitar?, bukan Jombang, Kediri, Tegalrejo Ponorogo, Bangkalan Madura atau kawasan Tapal Kuda yang notabene konteks pesantrennya lebih kuat.

Suhendro mengaku tidak tahu pasti apa alasannya. Terpilihnya Blitar sebagai lokasi syuting, bisa jadi karena Livi Zheng kelahiran Blitar. Atau mungkin, kata Suhendro, eksekutif produser film The Santri, yakni Imam Pituduh, pernah nyantri di Blitar. “Pak Imam Pituduh pernah mondok di Blitar, “katanya.

Choirurojikin curiga, dalam proyek ini santri dan pondok pesantren hanya dikapitalisasi. Hanya untuk berburu keuntungan material. Pengamatanya juga menangkap adanya kepentingan politis yang dibungkus seni.

“(The Santri) ditengarai sangat politis. Apalagi muncul trailer dulu, kelihatan seperti cari uang, “ungkapnya.

Kritikan itu baru pada proses pembuatan yang dianggap tidak lazim. Pada sisi para pembuat film The Santri, Choirurojikin juga melempar kritik yang tidak kalah pedas.

Produser film The Santri, menurut Choirurojikin belum memiliki kapasitas yang belum teruji. Pengalamannya di bidang film masih dipertanyakan. Begitu juga dengan sutradara Livi Zheng, yang menurutnya belum terpercaya.

Apalagi banyak pihak yang meragukan kevalidan prestasi yang selama ini diharum harumkan. “Karyanya (sutradara) apa dan diakui oleh siapa saja?, belum jelas, “cetus pemuda yang akrab disapa Oji ini.

Sebagai warga nahdliyin, Oji menyayangkan kenapa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan kru The Santri tidak mengangkat profil para tokoh besar di balik perjalanan Nahdlatul Ulama.

Disebutkannya nama nama besar seperti KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, Hasan Gipo, Kiai Ridwan dan KH A Wachid Hasyim.

“Sayang sekali, kenapa tidak memfilemkan para tokoh yang telah mengantarkan NU tumbuh besar, “kata Choirurojikin. Kalaupun memang tidak berminat mengangkat unsur historis, yang ditonjolkan harusnya akhlak santri.

Misalnya ketawadu’an santri kepada kiai, tradisi ngaji kitab kuning dengan metode sorogan dan bandongan yang itu bisa dibumbui dengan intrik maupun konflik di dalamnya.

“Banyak sekali konflik bersifat tradisional di pesantren dan Nahdlatul Ulama namun bisa dimodifikasi dalam gaya modern. Bukan malah mengambil hal di luar pesantren dan dipaksakan ada di dalam film yang bertema pesantren, “keluhnya.

Dalam kesempatan itu Choirurojikin juga mempertanyakan keseriusan pengurus NU dalam membuat film. Jika memang serius tentu akan mengangkat perjalanan para tokoh NU, yang dimana akan menginspirasi generasi muda Indonesia.

Karenanya, meski merupakan proyek NU Channel, dia berani menyimpulkan film The Santri yang direncanakan bisa ditonton utuh pada tahun 2020, tidak mencerminkan santri di Indonesia.  

”Yang pasti film The Santri ini tidak merepresentasikan dari pada santri di Indonesia. Seakan tak natural santri,”kritiknya.

Reporter: Syarif Abdrurrahman
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.