READING

Arema, Cerita Kemesraan Kera Ngalam dan Papua

Arema, Cerita Kemesraan Kera Ngalam dan Papua

Mahasiswa Papua dan sejumlah warga di Kota Malang Kamis (15/8) lalu, terlibat dalam bentrok fisik dan aksi lempar batu. Gesekan berlanjut di Surabaya dan sejumlah daerah lainnya. Lepas dari insiden itu semua, Malang dan Papua sebenarnya memiliki hubungan yang lengket sejak lama.

MALANG- Terutama bicara soal kesebelasan Arema (Arek Malang). Selalu ada rumput hijau, jersey dan bola yang bisa digocek orang orang Papua. Sejak dilahirkan tahun 1987, kesebelasan berjuluk Singo Edan itu  selalu memberi ruang untuk Papua.

Entah striker, gelandang, playmaker atau bertempat sebagai defender. Dari komposisi pemain Arema yang merumput di lapangan hijau, selalu ada warga Papua disana. Begitu yang dituturkan Sudarmaji, Media Officer Arema FC. 

“Jika boleh diklaim, para pemain asal Papua juga ikut andil dalam mengawali debut Arema di kancah nasional, “tutur Sudarmaji.

Tradisi itu terawat sampai sekarang. Lihat saja Riki Kayame, ujung tombak Arema saat ini. Pemain yang selalu membuat ketar ketir lawan setiap bola bergulir di kakinya itu, adalah lelaki Papua.

Baca Juga: Kekerasan Mahasiswa Papua di Malang

Tak hanya muncul di jajaran pemain senior. Nama nama khas yang bisa dibaca di punggung sebagai orang Papua itu juga banyak dijumpai di kelompok pemain Arema yunior.

Menurut Sudarmaji, semua itu tak lepas dari  kiprah  Brigadir Jendral (Brigjend) Acub Zainal. Sebagai founding father atau pendiri Arema, Acub juga pernah menjabat sebagai Gubernur Papua (1973-1975).

Dua tahun memerintah wilayah paling ujung timur Indonesia, Acub begitu mengenal dan memahami seluk beluk alam dan masyarakat Papua. Dia tahu cara melakukan pendekatan yang memanusiakan.

Pemahaman itu diperkuat oleh Soegiono, Ebesnya kera kera Ngalam (Arek Arek Malang). Soegiono yang kemudian lebih akrab dipanggil Ebes Soegiono adalah mantan Wali Kota Malang yang pernah empat tahun menjabat Wakil Gubernur Papua (1983-1987).

Baca Juga : Gus Solah Minta Ujaran Rasis Mahasiswa Papua Diusut

Hampir sama dengan Acub. Ebes Soegiono juga memahami situasi kebatinan masyarakat Papua yang saat itu lagi panas panasnya dipanggang isu merdeka (Papua Merdeka).

Olahraga, yakni dengan memberi ruang kepada warga Papua yang potensial di bidangnya, dipilih menjadi salah satu media yang efektif meredam suhu yang membara.

“Bahkan tahun 1973 di Papua pernah digelar Piala Acup Zainal yang mempertemukan kejuaraan sepakbola antar kabupaten se-Papua,” terang Sudarmaji. Di Papua sendiri, Acub Zainal dikenang pernah merenovasi Stadion Mandala serta memperbaiki kantor gubernuran.

Di tahun 1975-1976, mantan Pangdam Cendrawasih itu juga ikut menata pengelolaan Persipura,  kesebelasan kebanggan warga Papua. “Saat itu tim Mutiara Hitam (Persipura, Red) menjadi juara karena mendatangkan pelatih asal Singapura, ”kenang Sudarmaji.

Baca Juga : Negara Didesak Fasilitasi Ruang Dialog Mahasiswa Papua dengan Warga

Keterlibatan Acub mengantarkan Persipura empat kali juara berturut-turut di Soeharto Cup. Kemudian mewakili Indonesia di Kings Cup di Bangkok, Thailand.

Acub Zainal juga mendirikan klub sepak bola Perkesa 78. Kesebelasan  yang dikenang pecinta bola berisikan materi pemain Papua yang tangguh. “Pemain itu seperti Swoerti Yabet Sibi, Saul Sibi, Ony Mayor, Stepanus Kirwa, Berrus Tamnge, Aagys Ohee, Nico Ramandaey, dan banyak lagi, ”kenangnya.

Berangkat dari kesuksesan Persipura dan Perkesa 78, Acub Zainal kemudian mendirikan Arema (1987). Di klub barunya itu, Acub banyak memasukkan para pemain asal Papua. Yang terbaik dan masih diingat saat itu diantaranya Micky Tata dan Dominggus Nowenik.

“Kemudian di tahun-tahun selanjutnya Arema selalu merekrut putera terbaik Papua seperti Alexander Pulalo, Erol Iba, Ellie Eboy, Charles Horik, dan masih bayak lagi, ”ungkapnya.

Baca Juga : Organisasi Pers Sepakat Tidak Buat Berita Provokatif Soal Papua

Para atlet lapangan hijau asal Papua memang layak mendapat tempat. Mereka memiliki kecepatan yang unggul dalam mengejar bola. Berfisik kuat, semangat tinggi dan berkecenderungan haus gol.

Menurut Sudarmaji, sejak lahir orang Papua memiliki talenta bersepak bola yang dibentuk oleh alam.“Dan tidak kalah penting adalah membawa hoki,”ungkap pria yang mengidolakan Riky Kayame dan Meky Tata sembari tertawa.

Kemesraan (Papua dan Malang) itu juga dianggukkan Amin Sumantri salah satu tokoh Aremania, suporter kesebelasan Arema. Yang dia mengerti, pemain Papua memiliki power yang tidak dimiliki pemain lokal mana saja.

“Seperti Kayame, dia seperti tidak punya rasa lelah,” ujarnya. Pemain tokoh “Pacho” dalam film Darah Biru Arema ini juga melihat pemain Arema asal Papua tidak pernah neko neko. Mudah berkawan dengan siapa saja dan memiliki kepribadian yang baik. Itu yang membuat Amin Sumantri merasa salut.

“Aku senang berteman dengan mereka (pemain asal Papua), mereka baik, ”ujar pria yang mengidolakan Alexander Pulalo ini.

Reporter : Moh. Fikri Zulfikar
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.