READING

Asyiknya Anak-Anak Bermain di Kampung Dolanan Sema...

Asyiknya Anak-Anak Bermain di Kampung Dolanan Semampir Kota Kediri

KEDIRI – Kini ada kegiatan menarik di kelurahan Semampir, Kota Kediri setiap Minggu pagi. Seperti program car free day di Jalan Dhoho namun versi mini. Pesertanya sebagian besar adalah para ibu dan anak-anak. Tidak hanya berjalan-jalan saja, ada banyak kegiatan yang mereka lakukan di sana.

Seperti terlihat pada Hari Minggu (13/10). Sejak pukul 07.00 WIB hingga 10.30 WIB, puluhan anak usia Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Dasar berkumpul di sepanjang jalan tepatnya di RT 02 dan RT 03. Ada banyak jenis permainan tradisional yang mereka mainkan. Mulai dari permainan ular tangga raksasa, egrang bambu maupun egrang batok yang sepertinya cukup diminati anak-anak laki-laki.

Ada pula sebagian yang nampak asyik bermain karambol, gasing kayu, hingga rangku alu atau lompat tongkat. Untuk anak-anak perempuan yang enggan banyak bergerak bisa memilih bermain dakon, mewarnai, hingga meronce manik-manik. Semua terlihat riang menikmati setiap permainan yang disediakan.

“Kegiatan ini baru kita mulai akhir April lalu. Dan memang kami dedikasikan untuk anak-anak sini,” terang Rantie Hariani, penggagas Kampung Dolanan Kelurahan Semampir, Kota Kediri kepada Jatimplus.ID.

Kegiatan kampung dolanan sendiri sebenarnya berawal dari keprihatinan Rantie terhadap aktivitas anak-anak Kelurahan Semampir. Mereka sebelum ini hanya berkumpul-kumpul saja sambil bermain gawai sepanjang hari. Rantie khawatir hal tersebut memberikan berdampak negatif.

Makanya guru PAUD KB Smart GS  Semampir tersebut mencoba  merangkul ibu-ibu PKK. Dia sering mengajak ibu-ibu berolahraga bersama hingga akhirnya Rantie pun membuka wacana untuk mengadakan kegiatan bersama. “Saya dekati dulu ibunya karena peranan mereka sangat penting untuk mengondisikan anak-anak,” kata Rantie yang juga kader PKK Pokja 2.

Gayung pun bersambut. Bahkan para bapak juga digandeng untuk melancarkan kegiatan. Mereka membantu membuatkan mainan-mainan tradisional anak dan membuat properti yang dibutuhkan. Bahkan kini produk mainan para bapak sebagian dibeli oleh beberapa penjual mainan secara grosir.

“Semua kegiatan ini berdasarkan swadaya masyarakat. Dulu awal-awal membuat properti dan mainan cuma mengandalkan iuran dai ibu-ibu PKK yang terkumpul sekitar Rp 500 ribu rupiah. Alhamdulillah kemudian mendapat tambahan bantuan bambu, gudang penyimpanan dan logistik lainnya secara sukarela dari masyarakat sini,” urai perempuan 32 tahun ini.

Acara rutin kampung dolanan tidak hanya bermain-main saja. Para ibu juga disediakan kegiatan senam aerobik agar mereka bersemangat menemani anak datang ke kampung dolanan. Anak-anak juga bisa senam, bahkan mereka diberikan kesempatan untuk pentas di panggung mini yang telah disediakan.

Seperti yang ditampilkan salah satu grup anak yakni “Trio Endel”. Tiga anak perempuan dengan makeup sederhana dan kostum yang sewarna namun tak sama tampak antusias menampilkan tari modern. Orientasinya hanya untuk meramaikan acara bukan untuk dilombakan.

“Kalau lomba, sesekali kita isi dengan menggambar dan mewarnai namun tidak rutin. Hanya untuk selingan,” beber ibu satu anak ini.

Dengan pentas seni setiap minggu, anak-anak menjadi aktif berdiskusi di forum yang dibuat oleh Rantie. Mereka menjadi sibuk membuat konsep, membahasnya di grup dan berlatih bersama. Semuanya dilaksanakan di bawah pengawasan orang tua.

“Mereka latihannya sendiri dengan memanfaatkan internet secara positif. Orang tua tetap mendampingi,” terang Rantie.

Demi lancarnya kegiatan, Rantie tidak sendiri. Ada warga dan karang taruna yang membantunya menyiapkan segala acara. Komunitas pemuda “Lets Play” juga membantunya mengondisikan anak-anak ketika bermain di acara Kampung Dolanan.

“Acara ini sempat vakum lama kemarin karena ada bentrok dengan kegiatan Suroan dan Agustusan. Ini baru mulai aktif lagi,” urainya.

Sebenarnya Rantie berharap kegiatan Kampung Dolanan bisa dilaksanakan secara lebih rutin tidak hanya di hari Minggu. Namun ada kendala tempat karena saat ini yang digunakan adalah jalan umum. Makanya saat ini pihak pengelola sedang mengusahakan untuk pinjam tempat yang lebih representatif ke Pemkot.

“Kita inginnya pinjam Ruang Terbuka Hijau (RTH) bekas eks-lokalisasi tapi belum ada kabar dari DLHKP,” curhatnya.

Jika lokasinya di sana, pengelola Kampung Dolanan bisa lebih leluasa melaksanakan kegiatan. Pasalnya selama ini ada banyak sekolahan di Kota Kediri yang meminta kegiatan diadakan justru ketika hari efektif. Bahkan tidak jarang pengunjung dari luar kota merasa kecewa karena datang ketika sedang tidak ada kegiatan.

“Kita selalu menolak karena kita tidak mungkin menutup jalan ketika hari efektif. Aktivitas warga pasti terganggu,” keluhnya.

Tidak hanya itu, dengan memanfaatkan di RTH, Rantie berharap ada semakin banyak anak yang tertarik untuk datang. Tidak hanya anak-anak RW 01 saja, RW 05 (tempat RTH berada) pun bisa ikut bermain di Kampung Dolanan.

“Sebenarnya kegiatan ini ditujukan untuk masyarakat umum. Namun sejauh ini memang kebanyakan anak sini-sini saja. Makanya saya berharap izin penggunaan RTH bisa segera kami dapatkan agar jenis kegiatan lebih variatif dan jangkauannya bisa lebih luas,” pungkasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.