Aturan Gowes SMART yang Bikin Selamat

Gaya hidup era new normal mulai terlihat di masyarakat. Kini semakin banyak orang yang gemar bersepeda demi menjaga kesehatan. Namun ternyata banyak orang resah dengan semakin menjamurnya pesepeda dari kalangan pendatang baru ini. Pasalnya tidak jarang dari mereka berbuat semaunya ketika bersepeda di jalan raya.

Yang paling sering dikeluhkan masyarakat adalah para cyclist seringkali gowes bergerombol hingga memenuhi separuh badan jalan. Padahal ada banyak kendaraan lain yang juga ingin melintas. Hal ini membuat pengguna kendaraan bermotor harus melambatkan laju kendaraan menyesuaikan kecepatan sepeda di depannya. Selain mengganggu perjalanan, aktivitas gowes justru bisa menjadi sumber kemacetan.

Para cyclist yang lebih dulu terjun di dunia gowes pun mengingatkan para pesepeda baru ini. Salah satunya disampaikan dr. Aristi Prajwalinta dari grup Jogja Women Cyclist (JWC). Melalui webinar, dr. Asti pun menyampaikan poin penting dalam melakukan gowes di era new normal dengan SMART.

Solo riding atau small group

Aturan ini sangat penting untuk dilakukan karena menyesuaikan protokol kesehatan selama wabah COVID-19 untuk tidak membuat kerumunan. Selain itu, bersepeda dalam kelompok besar juga berpotensi mengganggu lalu lintas. Makanya sebaiknya lakukan solo riding atau dalam kelompok kecil.

Jika sedang bersepeda di jalan raya, atur posisi membentuk pola zig-zag. Fungsinya agar cyclist tidak terlalu memenuhi badan jalan. Selain itu formasi ini untuk menciptakan jarak aman agar terhindar dari potensi penularan virus antar pesepeda. Jika kecepatan sepeda di bawah 20 km/jam, maka jarak aman minimal 2 meter. Namun jika kecepatan lebih dari 20 km/jam, maka jarak aman minimal 10 meter antar sepeda.

Masker

Selama gowes, tetap patuhi aturan dengan memakai masker. Gunakan masker kain yang nyaman. Usahakan membawa cadangan masker ganti karena masker relatif lebih cepat basah oleh keringat dan uap air saat berolahraga.

Baca juga : Akibat Fatal Jika Berolahraga Sambil Bermasker

Memang penggunaan masker ketika berolahraga tidak dianjurkan karena aliran udara terhambat. Kadar oksigen yang masuk menjadi tidak sebanding dengan yang digunakan. Meski demikian penggunaan masker tetap harus dilakukan.

Untuk menyiasatinya, hindari memacu sepeda dengan kecepatan tinggi. Hal ini juga berlaku untuk jenis olahraga yang lain seperti lari. Berolahraga lah secukupnya dan dilakukan dengan santai asal tetap berkeringat. Hindari berolahraga terlalu keras selama wabah. Jika badan terlalu capek, dikhawatirkan imun tubuh justru menurun.

Selain mengenakan masker, sebaiknya para cyclist juga mengenakan item safety riding lainnya seperti helm, dan kacamata.

Arm atau lengan

Gunakan pakaian berlengan panjang dan nyaman. Jangan lupa pula menggunakan sarung tangan, celana panjang, dan sepatu. Hal ini untuk menghindari potensi droplets (tetes air pada saluran pernafasan) dari pengguna jalan lain menempel langsung pada kulit pesepeda. Dan jika melepas sarung tangan, lakukan dengan hati-hati agar bagian luar tetap berada di luar. Jangan dibalik.

Rute

Ketika bersepeda, pilih rute yang sepi seperti pegunungan, perkebunan atau sawah. Hindari bersepeda di keramaian. Selain peluang penularan virus tinggi, risiko kecelakaan juga sangat tinggi.

Time atau waktu

Pilih waktu yang tepat untuk bersepeda yakni di pagi hari. Selain jalanan masih sepi, udara masih segar. Jika ingin bersepeda di malam hari, gunakan jaket dengan pemantul cahaya. Atau pasang reflektor di sepeda atau bisa juga dengan menyalakan lampu sepeda. Hal ini untuk memperjelas posisi kita ketika berkendara di jalan tanpa penerang agar tidak mengagetkan para pengguna kendaraan bermotor.

Penulis : Dina Rosyidha

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.