READING

Awas, Ancaman Demam Berdarah Bukan Hoax!!

Awas, Ancaman Demam Berdarah Bukan Hoax!!

KEDIRI – Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu penyakit paling populer di Indonesia. Meski merenggut banyak nyawa, masyarakat masih cenderung cuek dengan wabah ini.

Salah satu sikap cuek ini bisa jadi justru akibat terlalu seringnya menerima sosialisasi DBD dari tahun ke tahun. Hingga pada akhirnya memandang sebelah mata ancaman DBD yang terjadi di musim hujan.

Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kota Kediri, Hendik Suprianto mengatakan ancaman DBD sangat serius terjadi di musim hujan seperti sekarang ini. “Penyakit mewabah di musim hujan yang paling rentan di Kota Kediri adalah DBD dan diare,” katanya kepada Jatimplus.ID, Selasa 14 Januari 2020.

Indonesia yang berada di wilayah tropis-sub tropis menjadi sarang nyamuk Aedes Aegypti. Terlebih lagi di musim hujan yang menjadi siklus terbaik bagi nyamuk untuk berkembang biak. Ada banyak genangan air di mana-mana.

Sadar akan tingginya ancaman dan resiko penyakit ini, Dinas Kesehatan Kota Kediri telah menyiagakan kader jumantik (juru pemantau jentik). Mereka secara periodik berkunjung ke rumah-rumah warga untuk memeriksa kondisi air kamar mandi. “Jangan sampai ditemukan jentik nyamuk di sana,” kata Hendik.

Pantauan Jatimplus.ID, keberadaan jumantik ini cukup banyak. Mereka masuk ke rumah-rumah sambil membawa senter atau lampu penerangan. Di Perumahan Persada Sayang, Kelurahan Mojoroto, petugas jumantik memeriksa bak kamar mandi warga hingga tempat cuci pakaian. Jika ditemukan keberadaan jentik, petugas akan langsung meminta pemilik rumah mengosongkan bak air.

Bukan hanya petugas Puskesmas setempat, petugas jumantik di Kota Kediri juga merekrut mahasiswa dan pengurus Rukun Tetangga. Luasnya cakupan pengawasan yang dihadapi memaksa keterlibatan masyarakat untuk ambil bagian. “Kita libatkan mahasiswa hingga ketua RT untuk ikut memantau kondisi sekitar lingkungan,” kata Hendik.

Kenali Gejala Demam Berdarah

Gejala DBD biasanya akan timbul 4-7 hari sejak gigitan nyamuk, dan dapat berlangsung selama 10 hari. Beberapa gejala yang umum adalah:

Demam tinggi mencapai 40 derajat Celsius;

Nyeri kepala berat;

Nyeri pada sendi, otot, dan tulang;

Nyeri pada bagian belakang mata;

Nafsu makan menurun;

Mual dan muntah;

Pembengkakan kelenjar getah bening;

Ruam kemerahan sekitar 2-5 hari setelah demam;

Kerusakan pada pembuluh darah dan getah bening; dan

Perdarahan dari hidung, gusi, atau di bawah kulit.

Sejauh ini Dinas Kesehatan Kota Kediri belum menerima laporan adanya penderita DBD. Beberapa pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi demam dipastikan bukan karena DBD.

Kondisi ini diperkirakan akibat terjadinya pergeseran musim hujan, yang biasanya terjadi di bulan November dengan puncak Desember, menjadi Januari dengan konsistensi yang sporadis.

Untuk pencegahan, warga diminta meminimalisasi genangan air di sekitar rumah. Serta rajin membersihkan sampah terutama sampah plastik dan barang bekas. “Simpan atau buang ditempat yang terlindung dari hujan agar air tidak ada yang menggenang di barang bekas tersebut,” urai Hendik.

Langkah lain adalah menutup rapat tempat penampungan air bersih dan secara berkala menguras bak mandi. Idealnya bak mandi dikuras seminggu sekali dengan menyikat sisi-sisi bak mandi agar telur nyamuk yang menempel bisa dihilangkan.

Untuk tempat penampungan air yang tidak bisa dikuras seperti tandon air, bisa dituangkan larvasida ke dalamnya. Selanjutnya menutup rapat agar tidak ada lagi nyamuk yang bisa menggunakannya sebagai media bertelur.

Selain nyamuk, lalat juga menjadi hewan yang meledak populasinya di musim hujan. Mereka kerap hinggap di tempat-tempat kotor dan membawa penyakit. Tidak hanya tempat kotor, hewan ini juga gemar hinggap di makanan bahkan bertelur di sana.

Akibatnya banyak warga yang mengidap diare karena memakan makanan yang tidak higienis. Untuk menghindarinya, Hendik mewanti-wanti agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Beberapa hal yang harus dilakukan adalah mencuci tangan sebelum makan, serta menggunakan air bersih untuk kegiatan mandi dan cuci. Tidak buang sampah termasuk buang kotoran dan meludah sembarangan.

Reporter: Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.