READING

Awas, Penggunaan Antibiotik Sembarangan Beresiko F...

Awas, Penggunaan Antibiotik Sembarangan Beresiko Fatal

TULUNGAGUNG – Antibiotik adalah salah satu jenis obat yang paling sering diresepkan dokter saat kita berobat. Namun tahukah kamu jika mengkonsumsi antibiotik yang tidak tepat akan memicu resistensi anti mikroba.

Antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi bakteri. Cara kerjanya dengan membunuh dan menghentikan bakteri berkembang biak di dalam tubuh.

Belakangan ini masyarakat kerap mengeluhkan beberapa jenis antibiotik yang tidak efektif saat dikonsumsi. Penyebabnya bukan dari antibiotik itu sendiri, melainkan bakteri yang berkembang biak dan mengalami berbagai mekanisme genetik sehingga resisten terhadap antibiotik. Celakanya, bakteri yang resisten akan menimbulkan infeksi yang sulit diatasi.

Untuk mencegah resistensi anti mikroba ini, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Permenkes Nomor 8 Tahun 2015 tentang program pengendalian resistensi anti mikroba (PPRA). Terlebih lagi persoalan resistensi antimikroba saat ini telah menjadi masalah global, dan memaksa WHO untuk mengkampanyekan “Global action plan on antimicrobial resistance”.

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Iskak Tulungagung merespon cepat situasi ini. Atas inisiatif direktur rumah sakit Dr. Supriyanto, Sp.B, FINACS, rumah sakit pemerintah ini meluncurkan program pengendalian resistensi anti mikroba melalui efisiensi restriksi (MARMER).

“Penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan bertanggungjawab dapat menimbulkan resistensi anti mikroba. Ini sudah menjadi masalah dunia,” kata Dr. Supriyanto, Sp.B, FINACS kepada Jatimplus.ID, Jumat 12 Juli 2019.

Direktur RSUD Dr. Iskak Tulungagung Dr. Supriyanto Sp.B, FINACS memantau aktivitas Command Centre. Foto: Jatimplus.ID

Langkah pertama yang dilakukan direktur rumah sakit adalah membentuk Komite Pengendalian Resistensi Anti Mikroba (PPRA), yang disusul deklarasi komitmen untuk menunjang PPRA. Sementara untuk penata layanan antibiotik (antibiotic stewardship) dibentuk enam pilar di RSUD Dr Iskak.

Secara teknis, keenam pilar ini bekerjasama dalam menangani pasien yang terindikasi mengalami infeksi. Begitu menemukan gejala klinis, dokter yang bertanggungjawab akan berkoordinasi dengan dokter spesialis mikrobiologi klinik.

Selanjutnya dilakukan pengambilan contoh kultur untuk mengetahui jenis mikrobiologi klinik yang berkembang, sebagai bahan acuan dalam menentukan antibiotik selanjutnya. “Prinsip kehati-hatian ini selalu kami lakukan untuk menghindari potensi sakit yang lebih parah pada pasien,” kata Kepala Seksi Informasi dan Pemasaran RSUD Dr. Iskak Tulungagung, Mochamad Rifai.

Tak hanya keselamatan pasien, prosedur MARMER ini juga mengatur standar operasional petugas medis untuk melakukan pengamanan diri, seperti cuci tangan, mengenakan alat perlindungan diri, dan mengisolasi pasien.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah resistensi bakteri terhadap antibiotik:

  • Menggunakan antibiotik dengan bijak
  • Tidak membeli antibiotik tanpa resep dokter
  • Tidak menggunakan antibiotik untuk selain infeksi bakteri
  • Tidak menyimpan antibiotik di rumah
  • Tidak memberi antibiotik sisa kepada orang lain
  • Berkonsultasi dengan apoteker informasi obat antibiotik

(Advertorial)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.