Ayam Dugem Pasar Setono Betek Kediri

Siang itu Bu Mujiati membeli ayam potong cukup banyak. Perempuan parobaya yang dulunya tinggal di Burengan kemudian pindah ke Bogem Gurah mengikuti sang suami ini, menghabiskan lima ratus ribu lebih untuk belanjaannya. “Mas, mbok saya dikasih bonus,” rayu Bu Mujiati, si pemilik lapak sambil tersenyum memasukkan beberapa potong kepala dan ceker ayam ke dalam plastik kresek.

“Saya sudah lama langganan beli ayam disini walaupun jauh dari rumah. Murah soalnya,” kata Suparno, suami Bu Mujiati, yang turut menemani belanja. Sementara itu alunan musik dangdut tak henti keluar dari sound system yang terpasang di depan lapak, membuat beberapa pengendara yang lewat menoleh sejenak.

Pelanggan bisa request berapa bagian ayam itu akan dipotong.

Lapak ayam potong itu paling gemerlap seantero Pasar Setono Betek, Kota Kediri. Lapak yang justru tidak terletak di dalam pasar, melainkan diluarnya, tepat di seberang pintu masuk pasar, di depan sebuah toko mracang (serba ada). Siapapun yang lewat pasti akan mencuri pandang barang sejenak. Lapak tenda panjang ala bazar 17-an dengan meja berkain merah menyala dan ayam potong yang tersusun rapi diatasnya saja sudah “eye catching”, apalagi ditambah hiasan buket bunga plastik di beberapa sudut lapak dan tampilan running text elektronik cukup besar makin menarik perhatian.

Lapak Zaini berukuran cukup besar, sanggup menampung ratusan potong ayam.

“Saya dulunya juga berjualan di dalam pasar mas, tempat saya strategis, pas di pojokan paling depan,” kata Zaini (40), sang pemilik lapak memulai cerita.

“Setelah Pasar Setono Betek yang baru selesai dibangun, kami disuruh pindah ke pasar yang baru. Ternyata di pasar baru sepi. Akhirnya saya kembali ke lapak lama, tapi ternyata lapak lama saya sudah ditempati orang lain,” keluhnya. Padahal tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk membeli lokasi tersebut.

Salah satu trik Zaini agar orang melirik lapaknya adalah dengan memutar lagu-lagu dangdut dengan suara keras.

Pada tanggal 18 Oktober 2018, bangunan Pasar Setono Betek yang baru resmi digunakan. Gedung dua lantai seluas 40×80 meter persegi yang dibangun dengan menggunakan dana APBD Kota Kediri senilai 45 Miliar ini, mempunyai desain menyerupai pasar modern, namun kategorinya tetap dipertahankan sebagai pasar tradisional. Setelah resmi digunakan, Pasar Setono Betek yang baru ternyata masih menyisakan beragam masalah. Selain masih sepinya pembeli di lokasi baru yang berakibat malasnya para pedagang untuk pindah dari lokasi lama, masalah juga timbul di antara sesama pedagang sendiri karena berebut lokasi berjualan. “Saya salah satu yang kena imbas carut-marut itu,” sambung Zaini yang akhirnya memilih berjualan di luar pasar.

Zaini menghabiskan tak kurang dari 6 juta untuk membuat running text elektronik agar lapaknya menarik pembeli.

Memilih berjualan di luar tentu mempunyai resiko tinggi ditinggal pembeli. Namun berkat pengalaman 10 tahun berjualan ayam potong dan percaya bahwa rejeki sudah ada yang mengatur, Zaini membulatkan tekat menyewa halaman salah satu toko di luar pasar, untuk ia pakai berjualan. Lokasi itu ia sewa seharga 35 juta/ tahun. Tidak murah memang dan hanya dia sendirian disitu. Zaini berpikir keras, bagaimana agar lapak ayam potongnya ramai pembeli. Muncul lah ide untuk menghias lapaknya dengan aneka hiasan dan memasang sound system dengan alunan musik dangdut tiada henti agar pembeli tertarik untuk berkunjung ke lapaknya.

Lapak Zaini tak pernah sepi dari pembeli.

Triknya terbukti manjur. Buktinya, walau Zaini berjualan ayam potong di luar pasar, lapaknya tak pernah sepi pengunjung. Dalam sehari, ia mengaku bisa menjual minimal 4 kuintal daging ayam. Bahkan hari-hari tertentu seperti Lebaran, omzetnya bisa 2 kali lipat dari hari biasa. “Saya tak main-main dalam memodali lapak ini, karena tempat ini adalah sumber rezeki saya. Untuk 2 running text elektronik saja, saya habis 6 juta,” katanya sambil menunjuk papan elektronik yang tergantung di plafon tenda.

Sembari menunggu pembeli, Kantika, istri Zaini, nampak meronce bunga plastik yang digunakan untuk menghiasi lapak dagangannya.

Kantika, istri Zaini, hanya melirik sambil tersenyum. Kedua tangannya sibuk meronce bunga plastik yang akan dipasang di tiang penyangga tenda, di antara daging-daging ayam yang tertata rapi menunggu pembeli. Sayup-sayup suara manja Nella Kharisma memasuki gendang telinga, “hang insun engeti, waktu magih demenan, susah seneng disonggo bebarengan…”

Lapak Zaini terletak tepat di seberang gapura pintu masuk Pasar Setono Betek Kediri.
Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

  1. […] Ayam Dugem Pasar Setono Betek Kediri […]

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.