READING

Azzkasim Melawan Pandemik Dengan Padukan Tenun dan...

Azzkasim Melawan Pandemik Dengan Padukan Tenun dan Batik

Covid-19 berpengaruh secara ekonomi di semua sektor kehidupan, tak terkecuali fashion. Achmad Qosim (40 tahun), pemilik Azzkasim Boutique, salah satu brand fashion designer Kota Kediri, turut pula mengalaminya. Namun kreativitas menjadikan produknya kembali laku.

Di masa pandemik ini, penjualan Azzkasim turun drastis hingga berkurang 70%. Namun selalu ada hikmah dibalik musibah. Berkah adanya pandemik, membuat Qosim berpikir kreatif untuk tetap bertahan. Ia kemudian menciptakan paduan batik dan tenun sebagai bahan baju. Dan kreasi ini ternyata justru paling laku sehingga bisa membiayai 4 pegawainya.

Achmad Qosim, pemilik Azzkasim Boutique.

Azzkasim mulai berkreasi batik tahun 2007 di Tepus. Kemudian pada tahun 2013  pindah ke Kota Kediri, tepatnya di area Ruko Paggora Jl. Ahmad Yani, Banjaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Ruko mungil berdinding keemasan dengan cetakan timbul bertuliskan “Azzkasim” ini adalah tempatnya memproduksi baju berbahan batik cap, tulis, dan print.

Qosim berkreasi aneka ragam motif termasuk motif lokal Kediri. Tapi ternyata motif yang banyak laku justru motif nasional, karena motif lokal Kediri kurang diminati target market Azzkasim.

Azzkasim juga menerima jasa jahitan untuk baju kantoran hingga baju pengantin.

Tahun 2015, Qosim pernah mengikuti tren saat itu yang sedang booming kreasi fashion berbahan tenun di kediri dengan membuka usaha tas, sepatu, dan sandal berbahan tenun, namun ternyata tidak laku. Mungkin Rezekinya memang ada di batik.

“Saya belajar batik pertama di Surabaya. Lalu belajar batik di Kediri, dari Ibu Suminar,” jelas Qosim. Suminar merupakan salah satu pengusaha batik senior di Kediri.

“Saya buat harga baju atasan Rp 310rb mix batik tenun dan ful furiying,” kata Qosim. Produk ini lumayan laku selama 3 bulan terakhir. Sedangkan untuk baju batik, Qosim memberi harga Rp 255 ribu.

salah satu penjahit yang bekerja di Azzkasim.

Pemkot Kediri melalui Disperindagin, memajukan desainer Kediri salah satunya dengan menggelar Dhoho Street Fashion setiap tahun. Qosim salah satu desainer yang rutin ikut serta dalam acara ini.

“Di situ kan kita dikenalin dengan desainer nasional. Kami belajar dari mereka,” kata Qosim. Desainer nasional yang diundang juga mengadakan coaching untuk desainer lokal. Qosim pernah ikut bersama Didiet Maulana, Lenny Agustine, dan Hani Hananto.

Azzkasim memproduksi berbagai jenis batik seperti tulis, cap, dan printing.

Selain itu, Azzkasim termasuk 100 UMKM Kota yang akan didukung oleh BI dan Disperindagin untuk mengadakan pameran virtual. Harapannya batik lokal Kediri bisa sama-sama didukung, tak hanya tenun yg dinaikkan pamornya. Kegiatan Qosim lainnya adalah memberi pelatihan membatik di kelurahan-kelurahan.

Penjahit yang menjadi langganan keluarga Walikota Kediri ini, memakai media sosialnya seperti Instagram untuk mempromosikan produk dan jasanya ke masyarakat. Untuk menarik konsumen, ia kini juga menyediakan paket lengkap dengan masker yang seragam coraknya dengan produk yang ia jual.

Foto & Teks : Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.