READING

Begini Aturan Dokter Pria Memeriksa Pasien Wanita

Begini Aturan Dokter Pria Memeriksa Pasien Wanita

KEDIRI – Sambil menahan sakit, PJ memasuki ruang Instalasi Gawat Darurat RSU Dr. Soetomo Surabaya. Perempuan berusia 23 tahun ini baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas setelah mobil yang ditumpanginya menabrak air mancur di persimpangan Jalan Gubernur Surya Surabaya.

PJ mengalami cedera di beberapa bagian tubuh setelah mobil Toyota Corolla yang ditumpangi bersama rekannya sesama pekerja maskapai penerbangan City Link menabrak air mancur, Rabu 24 Oktober 2018. Saat itu juga dia dilarikan ke IGD RSU Dr. Soetomo.

Namun ada yang aneh dalam pemeriksaan di ruang medis itu. PJ mengaku diminta melepaskan semua pakaian yang dikenakan oleh salah satu perawat. Tak berhenti di situ, petugas tersebut juga memotret tubuhnya dan menyebarkan ke grup WhatsApp tertentu. Hal itu membuat PJ berang dan melaporkan ke polisi.

Tindakan asusila ini bukan pertama kali terjadi di Surabaya. Beberapa waktu lalu seorang pasien perempuan juga mengaku dilecehkan saat dirawat di National Hospital Surabaya. Kebetulan korban adalah istri dari pengacara Yudi Wibowo. Kala itu, korban merasa diraba pada organ vitalnya usai menjalani operasi. Karena pengaruh obat bius, korban tak mampu melawan saat perawat laki-laki itu melecehkannya.

Kedua peristiwa itu cukup menjadi alasan untuk mengetahui sejauh mana batasan tenaga medis pria saat menangani pasien perempuan.

Dalam syariat Islam, persoalan itu sudah diatur dalam ketentuan fikih. Petugas medis laki-laki boleh menyentuh tubuh pasien perempuan selama memenuhi ketentuan sebagai berikut:

  1. Pemeriksaan dilakukan menghadirkan mahram baik suami, paman atau orang yang terpercaya (tsiqqoh)
  2. Melihat anggota tubuh sesuai kebutuhan dalam pemeriksaan (tidak melihat anggota tubuh yang tidak dibutuhkan)
  3. Tidak ada dokter ahli lain yang sejenis
  4. Aman dari fitnah.

Dalam kitab Fatawa al Azhar juz 10 halaman 57 diterangkan, dalam keadaan darurat yang digambarkan dengan tidak adanya suami atau wanita muslimah yang melakukan pengobatan, maka tidak ada penghalang untuk melihat dan menyentuh tubuh pasien perempuan. Tentu dengan menjaga kaidah bahwa situasi darurat itu memang genting.

Dengan demikian, dokter harus bersikap professional dan sesuai dengan kode etik profesi saat menangani pasien perempuan. Mereka juga dituntut memiliki pengetahuan hukum tentang mahram agar sadar pada batas perbuatan yang dilakukan.

Di luar itu, semua tindakan petugas medis akan dianggap pelanggaran pidana dan bisa diajukan ke polisi. Seperti menyentuh bagian tubuh yang tak diperlukan atau bahkan memotret untuk tujuan yang tak berkaitan dengan pengobatan. (*)

 

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.