READING

Band Melayu Asal Kediri Tembus Industri Musik Nasi...

Band Melayu Asal Kediri Tembus Industri Musik Nasional

Poskayu tidak lahir sebagai band yang bergelimang kemudahan. Dari jalanan mereka berjuang menembus industri musik tanah air, dengan cucuran keringat dan air mata.

Poskayu dipilih menjadi nama band anak-anak muda asal Kota Kediri saat menembus blantika musik Indonesia. Di bawah naungan perusahaan rekaman Nagaswara, band yang beranggotakan lima personil ini menandatangani kontrak tiga album sekaligus.

Keputusan Nagaswara untuk menjadi produser Poskayu cukup masuk akal. Genre melayu pop yang diusung Poskayu dianggap berpeluang merebut pasar musik yang makin padat. Apalagi beberapa band yang mengambil genre serupa seperti Setia Band, Wali, Bagindas, Republik, dan Armada terbukti laku keras di pasaran.

“Kami menambahkan unsur musik Ska di dalam materi lagu. Sehingga secara keseluruhan genre kami adalah melayu-pop-ska,” terang Nurga, vokalis Poskayu saat berkunjung ke kantor redaksi Jatimplus.ID, Senin 16 September 2019.

Pilihan musik Poskayu cukup unik. Di tengah gempitanya band-band beraliran rock di Kota Kediri, mereka justru memilih melayu sebagai aliran bermusik. Apalagi tongkrongan Nurga yang gondrong dengan celana sobek di bagian lutut sangat mengesankan seorang rocker dari Farhan Zainal Muttaqin atau Faank vokalis Wali Band.

Materi lagu Poskayu cukup unik. Single berjudul Dompet Kemerdekaan yang video klinya dirilis Senin kemarin terdengar easy listening. Arransemen musiknya dinamis dengan perpaduan melayu-pop-ska. Liriknya juga ringan menggambarkan realita kehidupan dengan pilihan kata yang jenaka.

Personil Poskayu band, Arko Nugroho, dan Ketua komunitas indhie Abe. Foto:Jatimplus/Adhi Kusumo

Menurut Nurga, penyanyi sekaligus pencipta lagu itu, single tersebut menceritakan situasi seorang cowok yang sedang bokek (tak memiliki uang, pulsa, dan bensin). Sementara pasangannya mendesak untuk pergi jalan malam mingguan.

Nurga menggambarkan situasi si cowok dengan gambar Kappittan Pattimura (Rp 1.000) di dalam dompetnya. Cowok tersebut hanya bisa berharap isi dompetnya berisi uang lembaran bergambar Bung Karno dan Bung Hatta (Rp 100.000). Judul Dompet Perjuangan dipilih karena keterkaitan proses penciptaannya yang berada di Kota Blitar, tempat Bung Karno dimakamkan.

Selain melaunching video klip, kedatangan Nurga cs ke kantor redaksi Jatimplus.ID juga berbagi kisah perjuangan menembus industri musik tanah air. “Ini semua tidak instan, kami mencapainya dengan air mata,” kenang Nurga, sang frontman.

Air mata yang dimaksud Nurga bukanlah kiasan. Mereka pernah diterpa kesedihan yang amat tragis, saat menerima kabar duka usai manggung di Yogyakarta. Belum habis penonton meninggalkan arena pertunjukan, salah satu personil mereka kehilangan buah hati akibat sakit yang diderita. Kala itu Nurga (vokal), Otto (lead gitar), Havid (drum), Ridwan (bass) dan Rendra (keyboard) tengah gencar-gencarnya memperkenalkan band mereka dari panggung ke panggung.

Jika bukan Poskayu, tempaan seperti ini mungkin sudah mengkandaskan perjalanan band tersebut. Faktanya, impian dan cita-cita mereka jauh lebih besar di banding derita yang harus dibayar.

Kini Poskayu tinggal memetik hasil. Proses kreatif mereka diapresiasi Rocket Label (Nagaswara Grup) untuk diproduksi secara massal. Selangkah lagi, jalan menuju kemuliaan akan terbentang lebar.

Driver Ojol

Selain warna musik, kesamaan yang dimiliki para personil Poskayu adalah profesi. Entah bagaimana kisahnya, Nurga dan Otto memiliki pekerjaan yang sama sebagai sopir ojek online. Lainnya adalah karyawan minimarket dan jasa pengiriman barang.

Alih-alih minder dengan profesi mereka, Nurga justru memanfaatkan momen mengantar penumpang untuk memperkenalkan lagu. “Saat membonceng saya minta penumpang mendengarkan lagu Poskayu melalui Youtube,” kata Nurga terbahak.

Pemimpin Umum Jatimplus.ID Hari Tri Wasono (kiri) saat berbincang dengan Poskayu dan komunitas musik Indhie Kediri. Foto:Jatimplus/Adhi Kusumo

Di luar kemegahan panggung yang mereka dapatkan, Nurga cs tak terjebak pada kehidupan bergengsi. “Kami menghidupi keluarga dan membiayai bermusik dengan bekerja yang kami bisa,” kata Otto sang pemetik gitar dengan malu-malu.

Memilih tempat paling ujung di meja redaksi Jatimplus.ID, Otto lebih banyak menimpali penjelasan yang disampaikan Nurga. Otto memang sosok pemalu. Cover single berjudul Dompet Perjuangan yang memajang foto mereka menggambarkan gesture Otto yang tak banyak gaya. Senyumnya datar dan nyaris tanpa eksepresi saat dijepret dengan kostum seragam, kemeja motif bunga dan celana hitam.

Lantas akankah mereka meninggalkan profesi gojek jika kelak sudah menjadi artis terkenal? “Soal itu belum tahu. Tetapi kami tidak akan pernah melupakan perjalanan dari bawah,” ungkap Nurga.

Komunitas Indhie

Perjalanan panjang Poskayu tak bisa dilepaskan dari komunitas band Indhie di Kota Kediri. Sebagai band yang jauh dari fasilitas karpet merah layaknya band-band ibukota, Poskayu membesarkan namanya dari panggung ke panggung. Salah satu tempat belajar mereka adalah komunitas Indhie Kediri.

Kisah perkawanan para personil Poskayu ini dimulai pada tanggal 17 Maret 2008 di Kediri.  Kesamaan selera musik dan penguasaan alat mengantarkan mereka membentuk band beraliran melayu ini dengan nama Laksana. Selain menghabiskan waktu di studio, sesekali mereka mempopulerkan lagu ciptaan sendiri ke panggung-panggung kecil.

Ada yang menarik dari sikap mereka. Jika band lain rela mengulik dan membawakan lagu orang lain agar bisa main di cafe, tidak demikian dengan Poskayu. Dengan idealisme yang dimiliki, mereka memilih panggung yang lebih kecil asal bisa memainkan lagu sendiri. “Band yang memilih memainkan lagu sendiri dan menolak lagu orang lain memang tak punya tempat di cafe,” kata Abe, Ketua Komunitas Indhie Kediri.

Cover single Poskayu yang baru saja dirilis

Dia menuturkan, komunitas band Indhie memang tak mendapat tempat seperti layaknya band-band yang dinaungi label ternama. Bahkan di Kota Kediri sendiri, komunitas ini masih dianaktirikan dengan tak mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

Namun hal itu tak membuat mereka patah arang. Dengan beranggotakan 15 band dari berbagai genre musik, mereka tetap menjaga eksistensi bermusik meski harus merogoh kocek sendiri. “Kami patungan jika menggelar pertunjukan,” tambah Budi Arya, jurnalis sekaligus musisi yang didapuk menjadi penasehat komunitas Indhie Kediri.

Diakui atau tidak, keberadaan komunitas ini membantu musisi muda untuk berproses. Mereka akan mendapat kesempatan yang sama untuk manggung, di saat even pertunjukan yang lain didomimasi band-band mapan.

Poskayu adalah salah satunya. Masa depan mereka terbuka saat bertemu dengan Arko Nugroho, pemilik NDOSE studio yang juga musisi kawak di Kediri. Meski terbilang senior dan memiliki jaringan luas di industri musik tanah air, Arko selalu membuka pintu bagi musisi muda yang ingin berkarya.

Di Kediri, nama Arko cukup populer sebagai tandem penyanyi Nurbayan saat menciptakan hit berjudul Oplosan dan Pokoke Joget. Dia juga sukses membalik fakta bahwa musik daerah tak akan laku dijual di ibukota.

Arko pula yang memperkenalkan Poskayu ke perusahaan rekaman di Jakarta, sekaligus men-arransemen lagu Dompet Perjuangan. “Musisi muda dari daerah harus diberi kesempatan yang sama. Karena kelak karya mereka akan mewarnai industri musik tanah air,” pungkas Arko.

Harapan itu tak berlebihan. Seperti kata Ludwig van Beethoven, “Musik adalah wahyu tertinggi dari semua kebijaksanaan dan filosofi.”

Penulis : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.