READING

Band Rock Pasar Pahing Yang Melegenda (2)

Band Rock Pasar Pahing Yang Melegenda (2)

PERBINCANGAN kami untuk kesekian kalinya tersela dering telepon genggam. Mungkin sungkan. Meski melirik, Davit Johar Arifin atau dikenal dengan panggilan Davit CB menunjukkan isyarat tidak berminat mengangkat.

Rautnya tak peduli. Lisannya terus bercerita tentang riwayat Children Brothers (CB) Band. Namun kami mempersilahkan untuk menerimanya terlebih dahulu. “Silahkan diangkat dulu. Siapa tahu penting, “kata kami mempersilahkan.

Setelah basa basi meminta izin, diraihnya ponsel yang tak juga berhenti menjerit. “Paling urusan yang tadi. Maaf ya mas,“ sergah Davit.

Selama berbincang di rumah Perum Griya Intan Permai, Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, terhitung ada empat lima telepon yang masuk. Urusan macam macam. Mulai persiapan perhelatan batik, hingga pembelian kendaraan.

Belum lagi orang orang yang beruluk salam bertamu ke rumahnya. Juga buah hatinya yang mondar mandir, hiruk pikuk dengan mainan kecilnya.

Namun semua itu tidak menganggu kelancaran  Davit  bercerita tentang CB Band, yakni grup musik yang pernah mengantarnya ditasbihkan sebagai the best gitaris di Festival Rock Log Zhelebour ke VII.

“Ini kakek saya,“tuturnya memperlihatkan sebuah foto lawas yang tersimpan dalam album keluarga. Potret hitam putih mendekati warna sephia itu direnggutnya dari sampul plastik. Foto hasil jepretan tahun 1967.

Terlihat seorang lelaki paruh baya duduk ditengah keluarga. Lelaki berkemeja  rapi dengan kancing yang terkait hingga batas leher. Di sebelahnya duduk seorang wanita berkebaya kelahiran Solo Jawa Tengah, yang tak lain istrinya, yakni Sri Sutarsih.

Sementara para buah hati, yakni sebanyak tujuh anak, berdiri berderet di belakang mereka berdua. Lelaki paruh baya berperawakan kurus kelahiran Tegal, Jawa Tengah itu adalah Abdul Syukur Subagiyo. Dialah kakek Davit, penggagas sekaligus pendiri CB Band.

Melalui tangan dingin Syukur, grup musik yang seluruh personil digawangi anak anaknya itu terbentuk. Sebelumnya Syukur merupakan pemilik sekaligus pendiri orkes gambus Al Quriyah. “Kakek adalah founding father CB Band, “tutur Davit.

Sesuai namanya, CB yang resmi berdiri tahun 1975 itu beranggotakan seluruh anak laki laki Abdul Syukur. Davit yang kala itu berusia satu tahun masih bisa menyebut satu persatu diluar kepala.

Gitar dan keyboard  dipegang Muhammad Zunaedi Heru Cokro alias Om Heru. Kemudian Agus Salim sebagai bassis, Imam Ansori alias Om Oli vokal, dan Muhammad Abdul Wahab Zen alias Om Wahab sebagai penggebuk drum. Maklumlah, semuanya adalah paman Davit atau  adik kandung ibunya.

“Ibu saya paling tua (sulung), “ terang Davit sambil menunjuk foto remaja putri ABG yang berdiri paling ujung.

Sepengetahuan Davit,  pada awal berdiri para personil CB band masih duduk di bangku SMP. Secara usia masih anak “kemarin sore”. Memang tidak ada yang kursus musik karena saat itu lembaga bimbingan belajar musik belum ada.Namun skill bermain musik mereka tidak diragukan.

Abdul Syukur lah yang mengambil peran sebagai pelatih atau mentor musik. Kemampuan bermusik Syukur yang dicapai otodidak ditularkan kepada anak anaknya. Tidak hanya itu. Syukur juga mewariskan kepiawainnya merangkai sound system.

“Kakek saya mampu  memainkan seluruh alat musik. Karenannya semua anak anaknya diajari sendiri, “kata Davit. Untuk latihan,  Syukur cukup menggunakan teras rumahnya, yakni di kawasan Jamsaren, depan Pasar Pahing Kota Kediri.  Kadang kadang saja latihan dilakukan di dalam rumah.

Setiap melakukan “jam session” (ngejam), warga di lingkungan sekitar berdatangan untuk  menonton.“Apalagi saat itu masih jarang orang bisa bermain alat musik, “terang Davit.

Dalam perjalanan CB Band, masuklah Tante Atin. Atin yang masih kerabat   menggantikan posisi Agus Salim yang meninggal dunia akibat terpeleset jatuh dari tangga. Bakteri Tetanus merenggut nyawa Agus Salim.

Tante Atin, kata Davit memainkan keyboard merangkap vokal. Sementara posisi bassis digantikan Om Dargo yang juga masih saudara. Tidak berlangsung lama masuk juga tante Heni sebagai vokal.

Tidak berjalan lama masuk juga Atiek Prasetyawati yang kelak dikenal sebagai penyanyi solo ibukota dengan nama panggung Atiek CB.

“Itulah formasi CB Band generasi pertama. Sementara ibu saya sendiri tidak bisa main alat musik sendiri, tidak ikut bergabung, “tutur Davit tertawa.

Sebagai orang tua, guru, pelatih, sekaligus manajer, Abdul Syukur berhasil membawa CB band moncer. CB tidak hanya terkenal di Kediri, dengan banjir job setiap hajat pernikahan dan sunatan. Tapi juga bermain di Galarama dan TVRI Jawa Timur.

Siti Chususiyah (64) ibu Davit mengenang masa itu sebagai masa masa keemasan CB Band. Setiap tanggapan,  CB kerap mengcover lagu lagu God Bless dan Koes Plus. Juga beberapa lagu lagu barat dari grup legendaris. Sayang, ditengah perjalanan CB yang lagi mekar mekarnya, Atiek CB hengkang.

Atiek yang berkenalan dengan penyanyi jazz kelahiran Surabaya, Johan Untung diajak berkarir ke Jakarta. Sejak saat itu mantan istri penyanyi pop Rony Sianturi (Trio Libel) itu dikenal sebagai penyanyi solo genre rock ibukota. Kendati demikian nama CB tetap menempel dibelakang namanya.

Menurut Chususiyah, protolnya Atiek CB tidak banyak berpengaruh pada musikalitas CB band. Sebab CB masih memiliki tante Atin yang kemampuan olah vokalnya tidak kalah dengan Atiek CB. Bahkan Atin sempat ditawari berkarir musik di Jepang. Namun tawaran itu ditolak Abdul Syukur dengan kiprah di lingkungan sekitar lebih penting.

“Keluarnya dik Atiek (Atiek CB) tidak berpengaruh bagi CB band. Sebab dik Atin juga vokalis CB. Bahkan dalam sebuah festival di kampus, dik Atin pernah ditawari berkarir di Jepang, “terang Chusuiyah.

CB band tetap eksis hingga sekarang.  Masih banyak tawaran job manggung di acara acara yang bertajuk tembang kenangan. Seiring dengan munculnya CB Yunior, yakni yang digawangi Davit dan  cucu cucu Abdul Syukur yang lain, CB generasi pertama itu mengubah nama menjadi CB Veteran.

Kisah Atiek di Children Brother 

Sebelum menyandang nama CB dibelakang namanya, Atiek CB yang kelahiran Kediri 25 Mei 1963 itu, dikenal dengan nama Atiek Prasetyawati (nama lahir). Atiek bisa dibilang masih kerabat jauh. Tempat tinggal orang tua Atiek CB tidak jauh dari kediaman Abdul Syukur di kawasan Jamsaren, Kota Kediri.

Seingat Chususiyah, Atiek CB jatuh hati pada musik sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Setiap CB band latihan, gadis cilik yang kehidupan rumah tangga orang tuanya kurang harmonis itu selalu menyempatkan nonton. Saking sukanya pada musik, Atiek CB kecil sampai sampai nekat bolos sekolah.

“Mulai kelas 3 SD, dik Atiek (Atiek CB) selalu ikut nimbrung setiap CB band latihan. Bahkan sampai bolos sekolah, “kenang Chususiyah yang saat itu berusia lebih besar. Karena hampir tak pernah absen di setiap CB band latihan, Abdul Syukur kemudian mengajak Atiek kecil bergabung.

Berhubung mayoritas personil CB band laki laki, Atiek kemudian ditempatkan pada posisi vokal. Abdul Syukur yang mengenalkannya pertama kali pada nada. Atiek dilatih menyanyi.

Dari sebelumnya fals, menjadi mengerti tinggi rendah nada. Sejak saat itu, CB band yang bergenre rock atau pop rock memiliki vokalis cewek.

Formasi CB band dengan vokalis Atiek CB dan Atin moncer ditahun 70 akhir hingga 1980an.  Saat itu para personil CB band menginjak usia SMA. Grup musik asal Kediri itu telah main dimana mana, termasuk di acara Galarama TVRI Surabaya.

Meski hengkang dari CB band dan memilih bersolo karir di ibukota, Atiek tidak pernah melepaskan nama CB dibelakang namanya. Sampai terkenal menjadi diva rocker, Atiek Prasetyawati dikenal dengan nama Atiek CB.“Sampai sekarang hubungan kami terjalin baik, “tutur Chususiyah.

Di blantika musik tanah air, Atiek CB termasuk penyanyi papan atas. Namanya menjadi salah satu legenda rocker wanita. Saat itu lagu lagunya seperti “Risau”, “Akh”, “Permohonan”, “Suka suka”, “Kekang”, “Optimis”, “Maafkan”, “Terserah Boy”, “Dia”, “Berhentilah”, “Kau Dimana”, dan “Terapung”, menjadi hits di radio dan stasiun televisi. (*)

Baca selanjutnya : CB Junior Kejutan di Tahun 1988

 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.