READING

(Bandara Kediri) Dari Ide Hingga Realisasi

(Bandara Kediri) Dari Ide Hingga Realisasi

Sebuah bandara membawa keinginan kota-kota akan sebuah kehidupan yang lebih baik, khususnya geliat ekonomi. Kawasan Mataraman yang tak sepesat kawasan lain di wilayah Jawa Timur ingin mengubah wajahnya.

KEDIRI – Kota Kediri seperti kota yang tak pernah tidur. Dua puluh empat jam, kota ini selalu ada kesibukan. Tak hanya di pusat-pusat ekonomi lama seperi Jl. Dhoho, namun kini tumbuh keramaian-keramain baru di sudut kota yang dimotori anak-anak muda.

Kafe-kafe bermunculan dan sibuk hingga larut. Obrolan kaum milenial tak hanya soal remeh temeh keseharian namun juga tentang kerja-kerja kreatif yang memungkinkan dilakukan di Kota Kediri. Suasana seperti ini yang diamati Abdullah Abu Bakar (Mas Abu), Wali Kota Kediri ketika tim Jatimplus.ID menemui di ruang kerjanya, 22/01/2020.

“Kita ready dengan adanya bandara. Ada banyak tempat nongkrong, tempat berkreasi ada di Kota Kediri. Kita tidak akan garap sektor industri, Gudang Garam sudah cukup,” kata Mas Abu.

Baca juga: Ground Breaking Bandara Kediri April 2020

Menurut Mas Abu, perusahaan rokok ini menyumbang Produk Domestik Bruto sebanyak 70 persen. Ke depannya, Kota Kediri akan fokus mendongkrak penghasilan di sektor UMKM, utamanya yang dimotori anak-anak muda. Beberapa kerjasama dengan pihak marketplace mulai dirintis oleh Pemkot. Buka Lapak sudah bekerjasama dengan Pemkot, bidikan selanjutnya adalah Tokopedia. “Saya prediksi, nggak sampai dua tahun lagi, akan ada anak-anak muda kaya di Kediri,” tambahnya.

Keberadaan bandara yang akan segera dibangun di Kabupaten Kediri akan memberi peluang yang bagus bagi Kota Kediri. Meski bandara tak dibangun di Kota Kediri, kota ini tetap akan mendapat manfaat.

Bekas SD Pelangi Bangsa di Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri yang sudah berpindah tak jauh dari lokasi lama. Foto: Jatimplus.ID/Adhi Kusumo

“SDM kota kami lebih bagus dibanding kota lain bila dilihat dari Human Development Index,” kata Mas Abu mempromosikan. Harapannya, ketika bandara dibangun maka staf selain di tataran manajemen bisa diambil dari SDM yang dimiliki Kota Kediri.

Mas Abu menjamin kesiapan SDM yang bisa dipekerjakan di bandara. Beberapa program menyiapkan SDM sudah dilakukan oleh Pemkot, salah satunya English Massive, kursus Bahasa Inggris gratis untuk warga Kediri, dari tukang becak hingga anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

Selain SDM, Kota Kediri memiliki tempat menginap (hotel) yang cukup banyak. Jika ada bandara, akan menambah jumlah orang-orang yang singgah di Kota Kediri dan menginap. “Saya dorong kalau ada pengusaha yang mau membuka hotel,” kata Mas Abu.

Baca juga: Mereka yang Dapat Untung dari Proyek Bandara

Keberadaan bandara juga akan mendorong perniagaan di Kota Kediri. Pengiriman barang dari satu tempat ke tempat lain akan lebih cepat. Misalnya kebutuhan bahan makanan yang membutuhkan pengiriman dalam kondisi segar bisa melalui udara.

Semua manfaat itulah yang mendorong Mas Abu untuk mendukung keberadaan bandara bersama 7 kepala daerah lain di wilayah eks-Karisidenan Kediri. “Kota Kediri sudah tidak punya lahan. Wilayah saya hanya 63,4 kilometer persegi,” kata Mas Abu.

Maka, di mana pun bandara dibangun di wilayah Jawa bagian selatan, Kota Kediri akan seribu persen mendukung.

Ide Bandara Kediri

Jauh sebelum pemerintah pusat dan PT Gudang Garam Tbk. membangun bandara di Kediri, Pemerintah Kabupaten Kediri sudah melangkah lebih dulu. Mereka bahkan sudah melakukan studi kelayakan pendirian bandara untuk membuka akses lalu-lintas udara di Kediri.

Ide pendirian bandara ini pertama kali disampaikan secara resmi oleh Bupati Kediri Ir. H. Sutrisno pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri tahun 2008 di halaman belakang kantor Pemkab Kediri, 25 Maret 2008.

”Sampai akhir masa jabatan saya pada tahun 2010, Insyaallah, saya akan siapkan konsep pembangunan bandara di Kabupaten Kediri. Pembangunan bandara ini ditujukan untuk meningkatkan angka kunjungan di Kabupaten Kediri karena keberadaan bandara tersebut mencakup daerah-daerah lain di sekitar Kabupaten Kediri,” kata Sutrisno di depan para ASN yang menjadi peserta upacara.

Sutrisno yang didapuk sebagai inspektur upacara mengatakan bahwa pembangunan Kabupaten Kediri dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun terakhir telah mengalami kemajuan signifikan. Indikator pembangunan tersebut dapat dilihat dari perkembangan pembangunan fisik di masyarakat, seperti pembangunan dan peningkatan jalan, pengembangan potensi wisata, maupun pengembangan di sektor pertanian.

Dengan membangun bandara, Kabupaten Kediri akan bergerak menuju kesejahteraan yang lebih baik. Karena diprediksi semakin tinggi mobilitas pengunjung ke arah Kabupaten Kediri, maka wilayah ini akan semakin ramai. “Dan ketika Kabupaten Kediri ramai, maka apapun yang disajikan akan laku terjual,” kata Sutrisno.

Pidato itulah yang menjadi pijakan dilakukan langkah-langkah teknis pembangunan bandara oleh Pemkab Kediri. Salah satunya menunjuk perusahaan swasta melakukan studi kelayakan proyek tersebut.

Baca juga: Yang Merasa Rugi karena Proyek Bandara

Gagasan tersebut tak serta merta mendapat dukungan semua pihak. Kala itu, sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menolak pendirian bandara. Alasannya, pembangunan bandara tak sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kabupaten Kediri yang masih terlilit persoalan ekonomi. Sebagai kawasan agraris, Bupati Sutrisno diminta memprioritaskan penggunaan uang negara untuk membiayai sektor pertanian.

Bangunan masjid yang sebentar lagi akan digunakan untuk bandara. FOTO: Jatimplus.id/Adhi Kusumo

Gagasan membangun bandara di Kediri tak pernah terwujud hingga masa kepemimpinan Bupati Sutrisno berakhir. Satu-satunya alasan yang disampaikan pemerintah atas gagalnya proyek itu adalah tidak diterbitkannya izin pembukaan wilayah udara Kediri yang menjadi zona latihan tempur Lanud Iswahyudi Madiun.  

Ide membangun bandara Jilid II kembali muncul di tahun 2015. Emil Elestianto Dardak yang baru saja terpilih menjadi Bupati Trenggalek menggalang sejumlah kepala daerah di wilayah eks-Karesidenan Kediri untuk membangun bandara. “Saya adalah kepala daerah pertama yang didatangi Mas Emil untuk diajak membangun bandara,” kata Mas Abu yang langsung mendukung gagasan itu.

Kepada Abu, Emil mengaku sudah melakukan studi tentang perlunya bandara di kawasan Mataraman. Selain karena kepadatan Bandara Juanda, bandara tersebut juga cukup jauh dijangkau oleh masyarakat di wilayah Jawa Timur Selatan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi kawasan Mataraman dinilai lambat karena kurangnya akses transportasi udara.

Sukses menggaet Wali Kota Kediri, Emil Dardak bergerilya ke daerah lain menggalang dukungan. Hingga akhirnya terbentuk koalisi delapan kepala daerah pengusul pembangunan bandara, yakni Bupati Madiun Muhtarom, Bupati Magetan Sumantri, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, Bupati Pacitan Indartato, Bupati Tulungagung Syahri Mulyo, dan Bupati Blitar Rijanto, serta Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak.

Menurut Mas Abu, Emil juga menyodorkan lembar dukungan pembangunan bandara kepada Bupati Kediri Haryanti Sutrisno. Namun hingga lembar dukungan itu diserahkan kepada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan, Bupati Haryanti Sutrisno tak membubuhkan tanda tangan.

“Kami tak pernah menentukan lokasi pembangunan bandara di mana. Bahkan ketika Tulungagung sempat dipilih menjadi lokasi pembangunan bandara, saya setuju,” kata Mas Abu.

Kecamatan Campurdarat adalah lokasi yang telah disiapkan Bupati Tulungagung Syahri Mulyo kala itu. Kecamatan ini berada di sebelah selatan Pantai Popoh dengan kondisi geografis landai dan terbuka. Lokasi ini juga berjarak lima kilometer dari Jalur Lintas Selatan.

Kepada media, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan sempat mengumumkan skema pembangunannya. Rencananya bandara ini akan diselesaikan dalam dua tahun pembangunan dengan anggaran Rp 700 miliar dari APBN.

Belakangan ide pendirian bandara ini kembali bergeser. Pemerintah mengumumkan status proyek berubah dari pembiayaan APBN menjadi swasta. PT Gudang Garam Tbk. melalui anak perusahaannya PT Surya Dhaha Investama  diumumkan sebagai pihak yang akan membangun bandara di Kabupaten Kediri.

“Pemerintah tentu akan mengambil peluang itu. Daripada mengeluarkan uang negara, lebih baik diserahkan ke swasta jika ada yang mau. Saya bisa memahami keputusan ini,” kata Bupati Tulungagung Syahri Mulyo usai pembatalan daerahnya menjadi lokasi pendirian bandara.

Dalam rapat koordinasi Forkopimda Kabupaten Kediri dengan Menko Kemaritiman dan Investasi di Kelurahan Grogol, Kabupaten Kediri, Jumat 24 Januari 2020, pemerintah mengumumkan status bandara ini sebagai Proyek Strategis Nasional. Ini diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 56 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. “Ground breaking pembangunan bandara akan dilaksanakan tanggal 16 April 2020,” tegas Mayor Infanteri Bagja Sirait, staf Menko Kemaritiman dan Investasi di forum tersebut.

Proyek ini berdiri di atas lahan seluas 376,57 hektar, yang meliputi empat desa dan tiga kecamatan Kabupaten Kediri. Mereka adalah Desa Jatirejo Kecamatan Banyakan, Desa Grogol Kecamatan Grogol, serta Desa Bulusari dan Desa Tarokan di Kecamatan Tarokan.

Reporter : Titik Kartitiani & Hari Tri Wasono
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.