READING

(Bandara Kediri) Ganti Rugi Bagi yang Masih Merasa...

(Bandara Kediri) Ganti Rugi Bagi yang Masih Merasa Rugi

Upaya negosiasi itu masih bertemu dengan kekukuhan hati sebagian warga Bulusari. Mereka punya pendapat untuk harga yang berlipat.

KEDIRI-Di sebuah perempatan jalan Desa Bulusari, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, sebuah toko kelontong berdiri. Pagar besi dan rumah penuh tanaman menyatu sebagai tempat tinggal keluarga Purwito (50 tahun), salah satu warga terdampak pembangunan bandara.

“Kami tidak menolak tapi harga belum sepakat. Boleh saja tanah kami diambil untuk bandara, tapi kalau harganya sepakat,” kata Purwito didampingin istrinya ketika ditemui tim Jatimplus.id di rumahnya (21/01/2020).

Purwito memiliki lahan seluas 510m2 yang digunakan untuk tempat tinggal sekaligus tempat usaha. Beberapa kali tim mendatangi Purwito untuk bernegosiasi. Tawaran terakhir akan dibeli dengan harga Rp 1M lebih Rp 600rb. Sementara Purwito menginginkan harga Rp 4M.

“Harga tawar itu tidak akan bisa untuk membeli tanah lagi. Pasaran sekarang di desa sekitar sini sudah sampai Rp 25juta/ru-Rp 30juta/ru,” kata Purwito.

Baca juga: Ground Breaking April 2020

Selain itu, ia mengatakan bahwa rumahnya kini cukup strategis, terletak di pinggir jalan sehigga cocok sebagai tempat usahanya. Selain istrinya membuka toko, Purwito menampung hasil bumi seperti jagung, ketela, padi, dan lain-lain sehingga membutuhkan akses jalan yang bisa dilalui truk pengangkut. Hal itulah yang membuat Purwito mematok harga tinggi untuk tanahnya.

Pada saat diwawancara, Purwito memanggil tetangganya, Jamiran (46 tahun) yang tinggal sekitar 50m dari rumah Purwito.

Purwito, warga Desa Bulusari yang belum sepakat dengan ganti rugi yang diajukan.
Foto: Jatimplus.ID/Adhi Kusumo

“Ia punya daftar harga dan surat-surat,” kata Purwito. Jamiran atau biasa disapa Memet juga salah satu dari warga Bulusari yang belum menyepakati harga jual tanah yang ditawarkan. Jamiran pernah merantau di Kalimantan, lalu pulang ke Kediri menjadi buruh serabutan.

Lahan hunian yang sedang diperjuangkan Jamiran milik orang tuanya seluas 445m2 terdiri dari dua rumah dan kandang. Di sana ditinggali 4 KK, termasuk orang tua Jamiran yang sudah tua. Saat tim Jatimplus.id berkunjung ke rumahnya, ayah Jamiran sedang berbaring didampingi ibunya yang sudah renta.

Baca juga: Yang Merasa Untung dari Proyek Bandara

Serta merta Jamiran mengeluarkan surat-surat yang dimaksud terdiri dari sertifikat tanah, beberapa fotokopi KTP, dan kartu keluarga. Sedangkan daftar harga yang dimaksud adalah informasi sebagaimana yang disampaikan Purwito bahwa tanah di sekitar Bulusari sudah meningkat sejak dibangun bandara.

“Semua dihargai Rp 1M 71 juta. Sedangkan untuk beli tanah, 1 ru sudah Rp 20 juta. Jadi saya minta Rp 1M,” kata Jamiran. Angka tersebut berupa angka glondongan yang akan dibagikan untuk masing-masing KK, sisanya baru digunakan untuk membeli tanah.

Jamiran mengaku bahwa kepala desa setempat sudah beberapa kali datang untuk menawarkan solusi, bahkan bersedia untuk mencarikan tanah dan membangunkan rumah. Namun Jamiran bersikukuh dengan angka yang diajukan.

“Ada koordinasi dengan kepala desa. Dia menawarkan bikinkan rumah, luas tanah sama, tapi kompensasi sedikit. Kompensasi kan ada nilainya tanahnya, bentuk rumahnya. Rumah saya di pinggir jalan,” jawabnya. Rumah Jamiran terletak di tengah perkampungan dengan akses jalan melintasi depan rumahnya. Namun hal itu rupanya tak menjadikan tim apraisal menghitung sebab harga yang dipatok adalah harga sama rata dari tanah. Bila ada negosiasi pada bagian apraisal bangunan sesuai dengan kelayakan yang disepakati.

Baca juga: Badara Kediri, dari Ide hingga Realisasi

Ketika ditanya soal batas waktu negosiasi yang kemudian akan berlanjut dengan proses konsinyasi, Jamiran mengaku tak tahu menahu.

“Masalah konsinyasi saya tidak tahu. Saya minta solusi dari Pak Kepala Desa. Maksudnya ditaruh di Pengadilan saya tidak tahu, saya kan orang bodoh,” katanya kukuh. Kalaupun angka yang ditawarkan berkurang, tapi kurang sedikit agar uang tersebut selain bisa untuk membeli tanah, membangun rumah 4 KK keluarga Jamiran, juga masih ada sisa yang akan menjadi jaminan hari tua keluarganya.

Selain 4 KK di Bulusari yang masih belum sepakat, sejumlah 48 KK di Desa Grogol juga masih belum sepakat dengan harga yang ditawarkan meski dari pihak pemerintah, harga tersebut sudah final, tak ada tawar menawar lagi.

Reporter: Titik Kartitiani
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.