READING

(Bandara Kediri) Ganti Untung Bagi yang Merasa Ber...

(Bandara Kediri) Ganti Untung Bagi yang Merasa Beruntung

Bagi sebagian warga tak menyangka jika harga tanahnya berlipat-lipat dalam sekejap. Kisah-kisah ini adalah sisi terang dari sebuah proyek lapangan terbang.

KEDIRI-Suasana blok Tanjung Baru, Dusun Bedrek, Desa Grogol , Kecamatan Grogol Selasa sore (21/1) nampak sepi. Maklum belum banyak penghuni di lahan tersebut. Hanya sekitar 8 KK yang semuanya adalah warga terdampak pembebasan lahan bandara. Salah satu di antaranya adalah Joko Waluyo.

Joko sore itu tampak sedang bersantai di depan rumah tetangganya. Rumahnya paling dekat dengan gerbang masuk. Rumahnya mungkin tidak terlalu mencolok dibandingkan rumah lainnya yang mentereng. Pagarnya pun terlihat masih belum terbangun sempurna.

Namun halaman rumah Joko tergolong cukup luas. Laki-laki 47 tahun ini masih bisa bertanam pohon buah-buahan dan beternak sapi di samping rumah. Dua ekor sapi brahman berwarna coklat tampak terawat. Salah satunya sedang bunting.

Baca juga: Bandara Kediri dari Ide hingga Realisasi

Sebelumnya, Joko tercatat sebagai warga Dusun Tanjung, Desa Grogol, Kecamatan Grogol. Luas rumahnya dulu hanya sekitar 20 ru atau 280 meter persegi. Setelah dihitung nilai bangunannya, Joko mendapatkan ganti rugi sebesar Rp 900 juta.

“Dulu tanah saya ditawar BDI (PT. Bukit Dhoho Indah-red) sebesar Rp 15 juta per ru. Alhamdulillah masih dapat mahal dibandingkan penawaran dari pemerintah sekarang,” ujarnya sambil lesehan santai.

Memang lokasi rumah Joko saat itu cukup vital. Permukiman tempat tinggalnya menjadi titik awal pembebasan lahan dari pihak pengembang. Joko sendiri tahu desanya akan dibangun bandara di tahun 2015. Namun saat itu pembebasan lahan masih di sekitar area sawah dan tegal saja.

“Baru masuk permukiman di tahun 2017. Sempat tawar menawar dulu, akhirnya deal di tahun itu juga,” tandasnya.

Setelah menerima uang ganti rugi, Joko memutuskan ikut pindah bersama dengan para tetangganya. Kini di tempat baru, Joko memiliki lahan seluas 43 ru (602m2), dua kali lipat dari sebelumnya, rumahnya pun menjadi lebih besar.

Baca juga: Ground Breaking Bandara Kediri

Namun Joko yang berprofesi sebagai petani ini masih mengandalkan lahan sewa. Dia tidak kuat membeli lahan sawah baru karena menurutnya uang penjualan rumah lamanya tidak cukup untuk membeli lahan baru untuk diolah.

“Tanah di sini sekarang sudah mahal-mahal. Sekarang pasaran sekitar Rp 15 juta per ru. Tidak kuat beli. Jadi saya sewa saja,” katanya.

Joko Waluyo dan ternak sapinya di perumahan Tanjung Baru.
Foto: Jatimplus.ID/Adhi Kusumo

Joko adalah cerita bahagia warga yang terdampak bandara pada awal pembelian lahan. Tak jauh dari blok Tanjung Baru, Jatimplus.ID bertemu dengan Sugeng Pranoto, salah satu warga Bulusari yang terdampak bandara dengan mekanisme ganti rugi tahap kedua.

Cukup mudah untuk mengidentifikasi rumah milik warga terdampak bandara. Selain bangunan baru, bentuknya juga relatif lebih modern dan ukurannya lebih besar dibandingkan rumah-rumah di sekelilingnya. Biasanya rumah ini berdiri secara berkelompok di satu lokasi meski beberapa ada yang “menyendiri” di lahan persawahan.

Seperti kawasan permukiman yang ada di belakang SD YBPK Grogol. Untuk menuju ke sana, pengguna jalan harus menyusuri gang selebar 1,5 meter. Tepat di belakang sekolah ada sekelompok rumah yang sedang dalam proses pembangunan. Total ada 15 Kepala Keluarga (KK) yang diperkirakan akan tinggal di sana.

Dari sekian rumah yang dibangun, sebagian besar sudah sampai pada pemasangan atap. Meski demikian progres pembangunan setiap rumah cukup bervariasi. Ada yang baru akan memplester dinding atau lantainya, ada pula yang sudah tahap pengerjaan detail ornamen rumah.

Sugeng Pranoto, warga Desa Bulusari yang menerima pembelian lahan tahap kedua. Foto: Jatimplus.ID/Adhi Kusumo

“Iya ini tinggal tahap finishing,” kata Sugeng, Selasa siang (21/1/2020).

Rumah Sugeng adalah salah satu rumah yang hampir selesai. Rumahnya berada di paling pojok di kawasan permukiman baru tersebut. Bapak dua anak ini tampak sibuk mengarahkan pekerjanya untuk mengecat ruang tamu ketika didatangi tim Jatimplus.ID.

Sebenarnya rumah lama Sugeng hanya berjarak sekitar 500 meter saja. Karena terkena dampak pembebasan lahan bandara tahap dua, Sugeng mau tidak mau ikut pindah mencari lahan baru untuk bermukim.

“Saya dapat sosialisasi untuk pindah sekitar Desember 2019. Dan akhirnya pindah tidak lama setelah itu,” tambahnya disela-sela kegiatan membangun rumah.

Rumah lama Sugeng memiliki luas sekitar 10 ru atau sekitar 140 meter persegi. Berdasarkan aturan PSN, tanah miliknya dibeli pemerintah sebesar Rp 10,5 juta per meter persegi. Bersama dengan perkiraan nilai bangunan, Sugeng mendapat kompensasi sebesar Rp 480 juta.

Baca juga: Yang Merasa Rugi dari Proyek Bandara Kediri

Tidak sendirian, dia bersama dengan 15 tetangganya memutuskan untuk tinggal bersama-sama lagi di tempat baru. Atas kesepakatan tersebut, Sugeng kemudian mendapat tawaran untuk membeli dan menempati lahan yang diperoleh dari hasil koordinasi antara pihak Desa Grogol dengan yayasan gereja tempatnya beribadah yakni GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) Grogol.

“Tinggal di sini bareng-bareng tetangga lama, sesama jemaat GKJW,” tandasnya.

Di lahan baru tersebut, Sugeng tidak keberatan menempati posisi paling ujung. Pasalnya, rumahnya sebelumnya juga tidak berada di dekat jalan umum. Uang hasil penjualan rumah lamanya kemudian digunakan untuk membeli lahan dan membangun rumah di lahan yang sekarang.

“Di sini relatif murah, Rp 7,7 juta per ru. Kalau bangun rumah ini sekarang sudah habis Rp 300 juta,” bebernya.

Atas uang ganti rugi tersebut, Sugeng mengaku belum mengalokasikannya untuk modal usaha atau investasi. Pasalnya selama ini ia mengandalkan pendapatan dari buruh tani, sehingga dia tidak ada rencana apa pekerjaannya ke depannya.

Proses pembangunan rumah baru di komplek GKJW, Grogol. FOTO: Jatimplus.ID/Adhi Kusumo

“Ini masih sibuk mbangun rumah. Belum bisa bekerja atau mencari pekerjaan baru,” katanya.

Jika nanti bandara sudah berdiri, dipastikan kawasan di sekitar Grogol, Tarokan akan berubah menjadi kawasan perdagangan dan jasa. Lambat laun lahan pertanian pun akan semakin berkurang. Atas kondisi tersebut, Sugeng berharap pemerintah setelah ini mau membina dan membuka lapangan kerja baru yang bisa dijalankan masyarakat sekitar.

“Saya tidak punya keahlian lain selain bertani. Mau buka toko juga rumahnya ada di dalam. Modal juga belum ada. Jadi harapannya pemerintah mau membuka lapangan kerja baru,” harapnya.

Reporter: Dina Rosyidha
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.