READING

Banyuwangi Ethno Carnival Hadirkan Para Perwira Bu...

Banyuwangi Ethno Carnival Hadirkan Para Perwira Bumi Blambangan

Acara yang mendatangkan massa kerap meninggalkan persoalan di antaranya adalah sampah. Salah satu kelompok relawan dalam festival tahunan BEC, memanfaatkan ajang ini untuk melakukan edukasi sampah ke masyarakat.

BANYUWANGI – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2019 menghadirkan puluhan perwira Bumi Blambangan dalam parade busana tahunan B-Fest pada akhir pekan lalu, (27/7). Mengangkat tema The Kingdom of Blambangan, sub tema Sabtamanggala atau Tujuh Perwira Kerajaan Blambangan seolah hadir di tengah ribuan penonton melalui kostum para peraganya. Tema ini diangkat tak lain untuk menggambarkan momen historikal yang turut mewarnai terbentuknya Kabupaten Banyuwangi.

Namun, tak hanya defile tokoh para perwira zaman kerajaan saja yang turut meramaikan satu dari Top 10 National Event ini. Para ‘perwira zaman now’ dari komunitas Banyuwangi Osoji Club (BOC) turut andil dalam menyukseskan BEC ke-9. Para perwira BOC turun ke jalan untuk memberi tauladan akan pentingnya menjaga lingkungan, yakni dengan tidak membuang sampah sembarangan. Osoji sendiri memiliki makna ‘bersih-bersih’ dalam bahasa Jepang.

Dalam event BEC kali ini, Osoji mendapat kesempatan berjuang untuk mengedukasi para penonton di setiap panggung. Yakni di satu panggung utama dan 10 panggung sub tema di sepanjang Jalan Veteran di kawasan Taman Blambangan, hingga memasuki panggung terakhir di Jalan Jaksa Agung Suprapto di depan Stadion Diponegoro.

Para perwira Osoji, Raksasa Sampah dan Ksatria. FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachmaningtyas.

Pendiri BOC, Bintari Wuryaningsih mengatakan jika ini merupakan kali pertama Osoji berpartisipasi di BEC. “Kebetulan dari DLH menggundang Osoji di Creative Recycle Festival. Terus dari situ saya kirim (foto) ke Kadispar, habis itu kita diundang untuk ikut berpartisipasi mengedukasi masyarakat,” ujar Bintari antusias.

Di sela kesibukannya sebagai dokter UGD di RS Fatimah Banyuwangi, Bintari mengkoordinir sejumlah relawan dari berbagai kecamatan. Dengan waktu yang singkat, para relawan bahu membahu mempersiapkan kampanye Malu Buang Sampah Sembarangan agar festival skala nasional tersebut semakin diacungi jempol. Termasuk dalam membuat karakter Raksasa Sampah dan Ksatria Osoji.

Secara swadaya, relawan Osoji mengumpulkan berbagai sampah plastik di sekitar rumah untuk dijadikan bahan pembuatan kostum si Raksasa Sampah. Dengan berteaterikal, Raksasa Sampah dan Ksatria Osoji menjadi daya tarik sekaligus pembawa pesan kepada publik, bahwa sampah plastik adalah masalah pelik yang harus diselesaikan bersama sama.

Berbagai Pandangan Masyarakat Terhadap Sampah

Berhadapan langsung dengan publik di sebuah festival besar seperti BEC memerlukan ketangguhan mental dan terbukanya pikiran yang harus dikantongi oleh setiap relawan Osoji. Nyatanya, persoalan membuang sampah sembarangan masih menjadi hal lumrah di mata masyarakat.

Seperti pengalaman salah satu relawan Osoji yang berada di panggung terakhir, Puji Winarsih. Sebelum para peraga BEC datang, lokasi panggung 10 terlihat kondusif, tak ada penonton yang terlihat membuang sampah. Tapi saat iringan peraga datang, sampah mulai berhamburan di semua tempat. Puji mengaku kewalahan dalam menangani banyaknya sampah plastik yang mayoritas adalah minuman segar, makanan ringan, dan puntung rokok tersebut.

Ada dua kejadian yang membuat Puji mengingat siang hari yang terik itu. Pertama, saat ia bertemu dengan seorang laki laki paruh baya yang dengan santainya membuang wadah minuman plastik tepat di depan Puji. Saat ditegur, laki laki tersebut beranggapan bahwa membuang sampah termasuk berbagi rezeki kepada pemulung.

Peristiwa lain yang tak kalah membuat Puji tertawa miris yakni ketika ia bertemu seorang perempuan paruh baya yang membawa tas kresek untuk wadah sampah pribadinya, namun cuek saja dengan sampah lain di sekitarnya. “Ada yang masih sebatas mengatasi sampahnya sendiri. Jadi mindset seperti itu masih ada,” jelas Puji kepada Jatimplus.ID.

Menurut konklusi Osoji, kalangan orangtua seperti dua contoh di atas belum memiliki kesadaran sepenuhnya untuk saling menjaga lingkungan. Hal itu juga terjadi di kalangan remaja yang justru menghindar saat relawan Osoji datang untuk memberikan sosialisasi pentingnya membuang sampah pada tempatnya.

Namun yang tak terduga, antusiasme banyak muncul dari anak anak Sekolah Dasar. Mereka dengan sigap berlari untuk bisa memasukkan sampah plastik ke dalam trash bag yang dibawa oleh para ‘perwira’ Osoji. Bagi Puji, himbauan yang telah ia lakukan sebelum acara justru ‘mengena’ di kalangan anak anak.

Antusiasme anak-anak kepada relawan Osoji saat acara BEC. FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachmaningtyas.

“Kalau saya lihat ini andil dari kurikulum 2013, anak saya kebetulan pakai K13. Itu sudah ada pembelajaran membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah pada tempatnya. K-13 itu kayak lebih ke pembentukan karakter ya,” ujar Bintari.

Melihat antusiasme anak anak, para perwira Osoji optimis jika masa depan lingkungan di Banyuwangi maupun Indonesia akan jauh lebih baik. Osoji pun berharap, Pemkab Banyuwangi terus mengoptimalkan kampanye dengan slogan ‘Isun isin kadhung mbuang romot sembarangan’ atau yang berarti ‘Saya malu kalau membuang sampah sembarangan’ di setiap agenda Banyuwangi Festival yang lain.

Reporter: Suci Rachmaningtyas
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.