READING

Batik Ciprat Blitar dan Bagaimana Para Penyandang ...

Batik Ciprat Blitar dan Bagaimana Para Penyandang Tuna Grahita Menekuninya

Hari Batik Nasional jatuh setiap tanggal 2 Oktober. Dibanding batik lainnya, batik ciprat asal Kabupaten Blitar adalah berbeda. Selain corak yang tidak sama, proses pengerjaan dilakukan sekelompok penyandang tuna grahita.

BLITAR- Disebut batik ciprat karena polanya memang tidak beraturan. Seperti rintik hujan yang nyiprat. Titik-titik, garis-garis menyebar tidak beraturan. Ada juga yang menyemburat kemana-mana, termasuk serupa air genangan.

Untuk per lembar kain batik yang sudah jadi dengan bandrol Rp 150 ribu-Rp 190 ribu, pengerjaan ditangani lima orang penyandang tuna grahita.

Ada Suparno, yang selain mentalnya terbatas, juga mengidap penyakit epilepsi. Dia akan kembali kerja setelah gejala kejang-kejang disusul busa yang meleleh dari mulutnya menghilang.

Belum lagi ketika ingat ibunya. Suparno seketika menekur dan mogok mengerjakan apa saja. Ibu Suparno tewas ditabrak pengendara tak bertanggung jawab di jalan raya Kota Malang.

Kalau sudah teringat kejadian itu,  teman-temannya yang bekerja mencelup kain di sebelahnya, tidak diindahkan. Mungkin semuanya terlihat sebagai pohon, kucing atau sepeda motor yang berlalu lalang.

Suparno hidup sebatang kara, lebih memilih duduk berjam-jam sambil meratapi kematian ibunya. Setiap ditanya apa yang dipikirkan, lelaki berwajah murung itu selalu mengatakan ingin menangkap penabrak ibunya.

Ada juga Hari yang ceria, ramah, over confident, yang setiap ngobrol tangannya selalu gatal ingin mencolek orang di dekatnya. Hari yang fisiknya sehat dan trengginas, tenaganya sering dieksploitasi pengusaha batu bata di lingkungan tempat tinggalnya.

Untuk keringat yang dicucurkan seharian, Hari yang selalu tertawa-tawa itu hanya diupah sepiring nasi dan kadang kadang diimbuhi beberapa batang rokok. Dia tidak pernah tahu bila diakali, karenanya tidak pernah protes dan justru  malah tertawa.

Dengan ikut memproduksi batik ciprat, Hari terbebas dari perundungan yang setiap saat menimpanya. Lain halnya dengan Budi yang pendiam dan selalu mengenakan topi dengan gaya tenggelam menyembunyikan mata.

Sebelum aktif terlibat di kegiatan batik ciprat, Budi seorang temperamental. Setiap jengkel dan tertekan karena dibully,  dia akan melawan dengan cara mematung dan diam diam menggigit lidahnya sendiri. Kebiasaan mengerikan itu perlahan mulai ditinggalkan.

Ada Yogi yang santun dan pemalu. Meski responnya cukup lama saat disapa,  remaja laki laki yang pernah dua tahun belajar ketrampilan di balai kerja Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah itu selalu menggunakan bahasa krama.

Dan sudah menjadi pemandangan lumrah ketika di tengah proses produksi tiba-tiba para penyandang tuna grahita itu justru lari kejar kejaran, main petak umpet satu sama lain.

Sesuai kalender, rata rata usia mereka diatas 35 tahun. Bahkan Suparno sudah 45 tahun. Namun usia mental mereka masih setara bocah taman kanak-kanak usia 5-6 tahun.

“Mereka tidak bisa dipaksa. Kalau sudah begitu biasanya kami mengarahkan dengan rayuan,” tutur Dwi Mawadati (42) pembina Yayasan Rumah Kinasih di Desa Siraman, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar.

 Batik Ciprat memiliki pangsa pasarnya sendiri. Setiap bulan rata-rata produksi 200 lembar kain batik yang sebagian besar ludes diorder melalui media sosial. Ada juga kerajinan sling bag, tas laptop, dompet, baju, serta gantungan kunci. Semuanya berbahan kain batik ciprat.

Batik Ciprat produksi anak anak Yayasan Rumah Kinasih, Kabupaten Blitar.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Mas Garendi

Selain 25 orang penyandang tuna grahita, Rumah Kinasih, kata Dwi juga memiliki binaan penyandang tuna wicara, tuna netra, dan tuna daksa. Jumlah keseluruhan 25 orang.

Untuk tuna rungu atau wicara diajari ketrampilan menjahit, konveksi serta membuat kue. Adapun bahan baku yang dijahit berasal dari karya penyandang grahita.

Sementara penyandang tuna netra, pembina Yayasan Rumah Kinasih memberi ketrampilan memijat. Kemudian keahlian bengkel untuk tuna daksa atau cacat tubuh.

“Setiap pagi pukul 7 dan siang pukul 1 sebelum pulang, para penyandang disabilitas itu mendapat makan gratis,” terang Dwi yang juga alumni UGM Yogyakarta.

Terutama untuk penyandang tuna grahita. Mereka diajari bagaimana beretika dan berkomunikasi tingkat dasar. Setiap datang dan pergi diwajibkan pamitan sembari mencium tangan para pembina.

Kemudian diajari mengucapkan terima kasih setiap diberi sesuatu, dan berdoa bersama sebelum dan sesudah makan. “Karena rata rata saat pertama kali datang mereka tidak mengerti etika,” kata Dwi.

Yayasan Rumah Kinasih sudah berjalan tiga tahun. Lembaga ini bekerja mandiri dengan seluruh kebutuhan operasional ditanggung para pembina dengan cara patungan.

Selain makan gratis dua kali, dari setiap lembar kain batik yang dikerjakan berkelompok itu penyandang tuna grahita mendapat bagian Rp 30 ribu. Setiap bulan rata rata mendapat Rp 500 ribu.

Oleh pembina Rumah Kinasih, uang tidak diberikan seluruhnya, karena tidak banyak yang mengetahui nilai uang. Sebagian penghasilan penyandang tuna grahita ditabungkan ke rekening masing masing.

Menurut Edy Cahyono selaku pendiri Yayasan Rumah Kinasih, nominal yang diperoleh mereka belum banyak. Namun setidaknya hidup mereka lebih tertata dan terlindungi dari respon sosial yang seringkali tidak adil.

“Harapan kami, jika semua penyandang disabilitas, yakni terutama tuna grahita sudah bisa mandiri, mereka bisa mengerjakan ketrampilan di rumah masing, “tutur Edy yang bercita cita di setiap kecamatan nantinya muncul shelter Rumah Kinasih (Mas Garendi)      

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.