READING

Batik Dermo, Kota Kediri Rambah Pasar Malaysia dan...

Batik Dermo, Kota Kediri Rambah Pasar Malaysia dan Taiwan

KEDIRI- Sudah hampir enam tahun kain batik Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri eksis. Usaha yang dirintis oleh sebagian besar ibu rumah tangga tersebut kini terus diminati masyarakat luas mulai dari luar provinsi bahkan hingga luar negeri yaitu Malaysia dan Taiwan. Motif kuda lumping merupakan salah satu motif andalan.

Parade busana dengan motif kuda lumping pertama kalinya dilakukan di tingkat lokal yakni ketika Dhoho Street Fashion 2016 dengan menggandeng desainer terkenal Lenny Agustin. Lenny “menata” motif kuda lumping menjadi kekinian dan tak ketinggalan zaman. Batik Dermo, khusunya motif kuda lumping ini ditampikan di Jakarta Fashion Week 2017 bahkan sampai ke Malaysia.

“Alhamdulillah permintaan terus meningkat sejak saat itu,” kata Trisnawati, salah satu pembatik di Kelurahan Dermo, kepada Jatimplus.ID.

Menurutnya, dulu warga terutama para ibu-ibu Kelurahan Dermo tidak memiliki keterampilan khusus. Hingga akhirnya Dinas Perdagangan dan Perindustrian dan juga Dinas Koperasi dan UMKM mulai melakukan pelatihan-pelatihan termasuk membatik. Meski tidak mudah, para ibu-ibu tertarik untuk mendalaminya.

“Kita mulai merintisnya sejak tahun 2013 lalu,” terangnya.

Dari sekian banyak jenis batik, para ibu-ibu Kelurahan Dermo sempat bingung menentukan motif apa yang sebaiknya dijadikan ikon khas Dermo. Uji coba pun dilakukan berkali-kali mulai dari bentuk elangnya Angling Dharma, ikan koi, getuk pisang, daun pisang hingga bekicot.

Dari pertimbangan dan diskusi panjang para perempuan dan penggiat batik yang melatih mereka, diputuskan motif kuda lumping yang dikembangkan. Pemkot Kediri pun mulai mendorong proses produksi dan pemasarannya. Dimulai dari pemesanan untuk seragam batik pegawai Pemkot sendiri.

“Itu produksi kita secara massal untuk pertama kalinya,” tambah Trisnawati.

Promosi pun mulai dilakukan dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya Pemkot Kediri menggandeng para desainer nasional untuk merancang busana dengan mengangkat motif kuda lumping khas Dermo. Model-model baju kekinian dengan motif hasil karya pembatik Dermo pun mulai menghiasi panggung-panggung catwalk. Tahun 2018, motif yang bertema kisah Panji pun diproduksi di sini dan kembali ditampilkan Lenny di Dhoho Street Fashion 2018.

Ragam produk berbahan batik di Dermo, Kota Kediri.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Dina Rosyida

Permintaan tidak hanya berupa kain batik saja. Para pembatik juga melakukan diversifikasi produk berbahan batik. Seperti tas, motif sepatu hingga gantungan kunci. Beberapa kain batik juga dibuat menjadi baju hingga sajadah batik.

“Kita buat bersama-sama dengan ibu-ibu lain di satu kelompok wanita,” timpal Supriyatin, salah satu pebatik lain.

Saat ini anggota kelompok Batik Dermo Asri sudah mencapai 50 orang. Mereka inilah yang biasanya memproses pemesanan massal. Pasalnya produksi batik tulis memerlukan waktu yang cukup panjang. Sehingga pengerjaannya dibagi-bagi dengan seluruh anggota kelompok.

“Satu batik saja paling cepat selesai dalam tiga hari. Lama di nyanting-nya,” tambah Supriyantin yang juga berprofesi sebagai guru PAUD.

Untuk harga jualnya, kain dengan ukuran 2 meter x 115 cm harganya sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per lembar. Sedangkan batik cap harganya berkisar Rp 175 ribu per lembar. Sedangkan Batik Lasem antara Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu per lembar.

Menurut Supriyatin, perbedaan harga disesuaikan dengan kerumitan motif, kualitas bahan kain, dan kualitas pewarnanya. Batik Lasem sendiri paling mahal karena proses kerjanya dua kali lebih banyak daripada batik tulis.

“Di batik biasa kan ada garis-garis putih setelah bahan malam bekas canting dihilangkan. Kalau di Batik Lasem, garis tersebut diwarna lagi jadi nggak putih lagi. Makanya harganya lebih mahal karena prosesnya lebih rumit,” beber pengajar batik tersebut.

Selain kerumitan motif, dan proses pewarnaan, harga batik juga disesuaikan dengan kualitas bahan pewarna itu sendiri. Bahan yang paling bagus yakni menggunakan remasol. Warna yang dihasilkan lebih tajam dan tidak mudah pudar.

Untuk pengembangan lebih lanjut, saat ini para pembatik sedang membutuhkan orang yang pintar menggambar. Memang untuk motif utama sudah ada yakni kuda lumping. Hanya saja diperlukan pengembangan variasi batik sehingga lebih banyak pilihan motif yang tersedia.

“Kita sudah ada katalog motif-motif batik kuda lumping. Tapi perlu variasi yang lebih berkembang agar tambah banyak pilihannya,” urainya.

Makanya saat ini, anak-anak muda karang taruna mulai digandeng terutama mereka yang gemar menggambar. Diharapkan dengan bersinerginya seluruh warga Kelurahan Dermo, nantinya bisa semakin mengembangkan usaha produk batik yang saat ini terus digenjot pemasarannya.

“Sekarang sudah ada empat galeri batik. Satu milik kelompok, tiga milik perorangan. Semoga ke depannya tambah ramai penjualannya,” pungkasnya.

Reporter: Dina Rosyidha
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.