READING

Begini Cara NU Hadapi Revolusi Industri

Begini Cara NU Hadapi Revolusi Industri

TULUNGAGUNG – Demam kesiapan menghadapi tantangan revolusi industri melanda semua kalangan, tak terkecuali Nahdlatul Ulama. Organisasi ini dituntut menyiapkan diri menghadapi percepatan industri jika tak ingin tertelan perkembangan jaman.

Revolusi industri yang ditandai dengan lahirnya digitalisasi (penggunaan internet) di seluruh kegiatan masyarakat nyaris tak bisa dilawan. Globalisasi untuk kawasan ASEAN bahkan diperkirakan akan dimulai tahun 2020.

Revolusi industri keempat inilah yang menjadi kekhawatiran Gubernur Jawa Timur terpilih Khofifah Indar Parawansa. Sebagai organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama memiliki kewajiban menyiapkan kadernya untuk menghadapi revolusi industri khususnya penguatan ekonomi. “Ini butuh sentuhan cendekiawan NU seperti ISNU sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi pesantren,” kata Gubernur Jawa Timur terpilih Khofifah Indar Parawansa di Tulungagung, akhir pekan ini.

Sebagai kelompok intelektual, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dituntut menjadi lokomotif modernisasi strategi ekonomi. Salah satunya adalah bekerjasama dengan pondok pesantren untuk mendorong lahirnya inovasi produk OPOP (One Pesantren One Product), yang menjadi roadmap kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendatang.

Khofifah menambahkan, peran pondok pesantren ke depan tak lagi hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi penyiapan kemampuan santri untuk menghasilkan sesuatu yang punya nilai ekonomi. Hal itu akan bisa dilakukan jika pengetahuan pemanfaatan teknologi informasi dikuasai dengan baik sebagai konsekuensi digitalisasi industri saat ini. “Di sinilah peran ISNU dibutuhkan,” tegas Khofifah dalam pelantikan pengurus ISNU Kabupaten Tulungagung masa khidmat 2018-2022 di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso.

Ketua Pengurus Wilayah ISNU Jawa Timur Mas’ud Said mempertegas peran organisasinya sebagai pilar pengembangan model pembangunan di tingkat desa. Kader ISNU harus memilih menangani desa dan mengambil tantangan tersulit sesuai kemampuan intelektual mereka. “ISNU harus membangun desa,” kata Mas’ud.

Salah satu kendala terbesar pembangunan masyarakat desa, menurut Mas’ud Said, adalah rendahnya minat baca atau literasi, terutama terhadap hal-hal baru. Sementara penguasaan informasi teknologi menjadi kunci menghadapi persaingan ketat di era globalisasi. Penciptaan inovasi produk juga tak bisa dipisahkan dari sentuhan digitalisasi agar memiliki nilai tawar lebih.

Terakhir, ISNU di daerah harus selalu bersinergi dengan pemangku kebijakan setempat untuk memperkuat pemerintahan daerah. ISNU juga harus bisa menjadi partner berpikir yang seimbang untuk meningkatkan kualitas pemimpin daerah.

Tantangan inilah yang harus dipecahkan kepengurusan cabang ISNU Tulungagung dalam empat tahun ke depan. Organisasi ini tak boleh hanya menjadi ajang silaturahmi belaka, melainkan tempat lahirnya gagasan besar dan pemikiran cerdas untuk kemaslahatan NU di masa mendatang. “ISNU ke depan harus lebih konkrit memberikan solusi,” kata Ketua PC ISNU Tulungagung Muhammad Rifa’i.

Saat ini kepengurusan ISNU Tulungagung diperkuat oleh 52 pengurus dengan 100 anggota dari berbagai latar belakang pendidikan. Selain Khofifah Indar Parawansa, pelantikan itu juga dihadiri Kasatkornas Banser Alfa Isneni.

Kesiapan menghadapi revolusi industri ini memang menjadi perhatian serius pemerintahan Joko Widodo. Pemerintah bahkan telah meresmikan peta jalan atau roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0.

Kehadiran revolusi industri ini sebenarnya telah dimulai sejak zaman pemerintahan Hindia-Belanda. Saat itu, revolusi industri pertama hadir dalam konteks steam engine atau mesin uap. Disusul kemudian dengan revolusi industri kedua yang ditandai dengan pemanfaatan mesin otomotif di lini produksi Indonesia era pemerintahan Hindia-Belanda.

Revolusi industri ketiga yang diawali tahun 1990-an dimulai oleh otomatisasi saat terjadi globalisasi. Dan saat ini, lahirnya globalisasi digitalisasi yang diperkirakan terjadi pada tahun 2020 di negara ASEAN telah menjadi penanda revolusi industri keempat. Negara Jerman menyebutnya dengan industri 4.0, dimana semua lini kehidupan masyarakat bergantung pada akses internet. (*)


RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.