READING

Begini Cara Ubah Pare Pahit jadi Gurih

Begini Cara Ubah Pare Pahit jadi Gurih

KEDIRI- Pahitnya pare lenyap ketika mencicipi pare krispi Kingkres. Gurih dan krispi, tak ada pahit-pahitnya. Dewi Istianah pun mencoba mengambil risiko dengan membuat cemilan dari pare untuk dijual. Siapa sangka ternyata produknya banyak digemari masyarakat. Stigma pare yang pahit dan tidak enak dipatahkan oleh rasa pare krispi buatan Dewi. Rasa cemilan bermerek Kingkres ini justru kuat di rasa gurihnya. Khas camilan pada umumnya.

“Yang penting cara mengolahnya harus benar,” terang Dewi kepada Jatimplus.ID.

Menurut Dewi, rasa pahit pada pare bisa dihilangkan dengan merendam ke dalam larutan garam. Proporsinya, satu kilogram pare direndam menggunakan satu ons garam. Airnya secukupnya, yang penting bisa merendam pare secara keseluruhan. Lama perendaman sekitar dua jam saja.

Pare kemudian ditiriskan dan barulah dicampur adonan berbumbu, kemudian digoreng. Untuk memenuhi permintaan konsumen, Dewi menyediakan banyak varian rasa. Mulai dari rasa original, barbeque, pedas, balado, keju hingga ekstra pedas.

“Yang paling disukai orang-orang yang rasa pedas,” urainya.

Larisnya Kingkres bukan isapan jempol. Ini tampak dari belasan tumpukan kardus siap kirim tertata rapi di teras rumah Dewi yang berada di Jalan Penanggungan, IV/2 Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Untuk proses produksi sendiri, Dewi menggunakan bangunan terpisah yang berada di samping rumahnya.

Dewi Istianah, pengusaha kripik pare.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Dina Rosyida

“Setiap hari bisa menghabiskan 60 kg pare. Kadang kalau banyak bisa sampai satu kwintal sehari,” beber Dewi.

Sebagian besar yang datang ke lokasi produksi adalah para reseller. Mereka berlangganan Kingkres untuk dijual kembali. Tidak hanya itu, Dewi juga bekerjasama dengan beberapa pusat oleh-oleh. Bahkan kini dia juga menggandeng beberapa minimarket. Meski demikian, menurut Dewi penjualan paling banyak justru melalui media sosial.

“Banyak yang pesan lewat Instagram, Facebook dan Whatsapp,” ujar perempuan yang sebelumnya berprofesi sebagai guru tersebut.

Selain menyebar ke seluruh wilayah di Indonesia, Kingkres juga sampai ke konsumen di luar negeri. Menurut Dewi sudah beberapa bulan ini dirinya secara kontinyu mengirim barang ke Hongkong. Meski jumlahnya tidak terlalu banyak, ibu satu anak ini senang produknya bisa sampai ke negeri tetangga.

“Pengiriman barang yang paling mudah ya ke Hongkong karena ada pengiriman khusus. Makanya saat ini saya masih kirim ke sana saja,” urai Dewi.

Awalnya, produk Kingkres dibawa oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Hongkong. Ternyata karena rasanya cocok, permintaan pun terus berlanjut. Dewi sangat dimudahkan dengan mekanisme kirim barang yang tidak rumit. Bahkan barang bisa sampai dalam jangka waktu satu hari.

“Sangat mudah, tidak perlu mengurus macam-macam. Cukup kirim barang dari sini, besoknya sudah sampai sana,” katanya.

Perkembangan usaha Kingkres milik Dewi saat ini tidak terlepas dari kerja kerasnya selama hampir empat tahun. Selama dua tahun pertama, Dewi sama sekali tidak mendapatkan untung. Berbagai upaya terus dilakukan agar produknya semakin dikenal orang.

Salah satunya adalah dengan mengikuti pameran-pameran dan kumpul komunitas untuk memperbanyak relasi. “Ikut-ikut seperti itu memang tujuannya untuk promosi tidak untuk jualan. Kadang malah ngasih-ngasih orang satu dua bungkus gratis agar mau mencobanya,” curhat-nya.

Barulah setelah tahu rasanya, baru membeli dan berlangganan. Dewi juga sering mengikuti pelatihan sehingga produknya terus berkembang dan tidak ketinggalan jaman. Makanya produknya yang sebelumnya bernama De Barokah kemudian diganti menjadi Kingkres. Kemasan yang sebelumnya hanya menggunakan plastik bening biasa diganti menjadi paper foil.

“Selain menarik, kemasan baru ini juga membuat produk lebih awet karena membuat isinya nggak gampang remuk,” jelas perempuan berkacamata tersebut.

Meski demikian, Dewi saat ini masih tetap menggunakan dua jenis kemasan tersebut. Untuk pare krispi yang menggunakan paper foil dijual Rp 12 ribu per 90 gram. Sedangkan untuk kemasan plastik tebal bening dijual Rp 20 ribu per 250 gram.

“Yang paper foil memang difokuskan untuk dijual online,” pungkasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.