READING

Belajar Mengelola BPJS Kesehatan dari RSUD Dr. Isk...

Belajar Mengelola BPJS Kesehatan dari RSUD Dr. Iskak Tulungagung

TULUNGAGUNG – Berada di kabupaten kecil Provinsi Jawa Timur tak membuat Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Iskak Tulungagung rendah diri. Rumah sakit milik Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung ini bahkan telah dikenal di forum kesehatan internasional atas terobosan layanan publik yang dibangun untuk menjamin Public Service Delivery di bidang kesehatan, terutama di era “disruption” revolusi pelayanan kesehatan dari era fee for service ke era prospectif (paket BPJS Kesehatan).

Sejak ditetapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan Regional Provinsi Jawa Timur pada tahun 2015, prestasi RSUD Dr. Iskak Tulungagung terus meroket. Berbagai penghargaan mulai tingkat nasional hingga internasional diraih sebagai apresiasi terhadap inovasi pelayanan publik rumah sakit ini.

Kamis, 15 Agustus 2019, RSUD Dr. Iskak Tulungagung dinobatkan sebagai Rumah Sakit Type B Terbaik di ajang BPJS Kesehatan Award 2019. Fasilitas kesehatan dan komitmen pelayanan kepada masyarakat, termasuk peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN – KIS) rumah sakit ini dinilai terbaik di seluruh layanan kesehatan rujukan (Rumah Sakit Type B) se-Indonesia.

Pemilihan RSUD Dr. Iskak Tulungagung sebagai Rumah Sakit Type B Terbaik di Ball Room Kantor BPJS Pusat Jakarta ini melibatkan tim juri eksekutif yang diketuai Nafsiah Mboi, mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Mereka terdiri dari segala unsur yang terkait program JKN-KIS, seperti Dewan Perwakilan Rakyat, Kementerian Kesehatan, asosiasi konsumen, asosiasi profesi, dan asosiasi fasilitas kesehatan.

Tugas dewan juri ini cukup berat, yakni memilih lembaga kesehatan yang memiliki komitmen tinggi dalam memberikan pelayanan optimal bagi peserta JKN – KIS. Mereka juga harus memilah dari 3.102 pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP), 2.406 rumah sakit, dan 1.264 apotek di seluruh Indonesia untuk diseleksi mulai tahapan kantor cabang, kantor kedeputian wilayah, hingga tingkat nasional. Selain itu, tim juri juga melakukan survei langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil di fasilitas kesehatan yang dinilai.

Direktur RSUD Dr. Iskak Tulungagung Dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes mengatakan dirinya sudah tak terlalu mempedulikan penghargaan. Prioritas utama baginya adalah bagaimana masyarakat di Kabupaten Tulungagung bisa mendapatkan layanan kesehatan yang maksimal. “Saya kira sudah menjadi kebutuhan setiap rumah sakit untuk melakukan inovasi dalam meningkatkan layanan publik di era sekarang ini,” katanya usai menerima penghargaan tersebut.

Direktur RSUD Dr. Iskak Tulungagung menerima penghargaan di ajang BPJS Kesehatan Award 2019

Dr. Supriyanto mengatakan, penghargaan yang diterima malam itu sebenarnya bukan satu-satunya yang pernah dimiliki RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Sebab di waktu yang hampir bersamaan, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Tulungagung ini juga dipilih sebagai finalis di International Hospital Federation Award 2019, bersama beberapa rumah sakit lain di dunia.  

Saat ini RSUD Dr. Iskak Tulungagung masih akan mengikuti tahapan penilaian lanjutan di kota Muscat, ibu kota Oman pada tanggal 8 November 2019 mendatang. “Insyaallah saya akan datang ke Oman untuk menerima apresiasi yang membanggakan Bangsa Indonesia,” kata Dr. Supriyanto.

Jejak rekam RSUD Dr. Iskak Tulungagung di kancah kompetisi memang cukup panjang. Tanggal 7 Agustus 2019 lalu rumah sakit ini menyabet dua gelar juara sekaligus untuk kategori Pengendalian Kuman Rumah Sakit dan Usaha Penurunan Angka Multi Drug Resisten Obat Antibiotika di ajang PITSELNAS ke-V KARS (Pertemuan Ilmiah Tahunan dan Semiloka Nasional ke V Komisi Akreditasi Rumah Sakit Indonesia).

“Indonesia ini memang bonek, belum punya regulasi yang jelas sebagai pijakan melangkah, belum punya uang yang cukup untuk pembiayaan, belum punya road map sarana dan prasarana serta SDM yang jelas, belum punya standard pertimbangan Klinis Nasional, tetapi sudah berani menerapkan program UHC (Universal health Coverage),” kata Dr. Surpiyanto tertawa.

Dengan segala keterbatasan itu, Pemerintah Indonesia telah meluncurkan program JKN/BPJS Kesehatan, dan mentargetkan cakupan hingga 100 persen dalam waktu lima tahun sejak diluncurkan awal 2014 lalu. Meski terkesan uthopia, namun realisasinya saat ini telah mencapai 90 persen. Hasil ini bahkan jauh lebih dari Amerika Serikat sejak tahun 1973 sampai sekarang masih mampu terealisasi sekitar 45 persen.

Aktivitas layanan medis di RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Foto: Humas RSUD

RSUD Dr. Iskak Tulungagung memang bukan rumah sakit kaya. Anggaran yang diterima dari pemerintah pun juga terbatas. Namun hal itu tak menghalangi Visi mereka untuk mewujudkan rumah sakit yang handal dan terjangkau dalam pelayanan. Dr Supriyanto bahkan menjamin tak ada satupun warga di Kabupaten Tulungagung yang tak bisa berobat lantaran kendala biaya. “Bahkan yang tidak tercover oleh Jamkesda pun akan tetap kami layani tanpa biaya,” terangnya.

Untuk mewujudkan itu, Dr. Supriyanto memang tak berdiam di balik meja. Menyadari terjadinya perubahan situasi yang begitu cepat, dia menyusun strategi dan program kerja rumah sakit agar Survive dengan melakukan efektivitas dan efisiensi.

Manajemen rumah sakit juga didorong untuk melakukan inovasi dan menerapkan prinsip enterpreneaurship, sehingga mampu menjaga sustainability capaian dengan konsisten. “Semuanya harus berkomitmen pada visi dan misi rumah sakit,” tegas Dr. Supriyanto.

Lantas masih relevankah strategi yang dilakukan Dr. Supriyanto di era yang serba dinamis seperti sekarang ini?

“Mengayun saja, ikuti irama alam yang diciptakan oleh pembuat regulasi yang sedang berusaha mencari bentuk. Kita harus membangun value agar mendapatkan multiple output and out come,” katanya santai.

Dr. Supriyanto optimis akan mampu menerapkan pengelolaan BPJS Kesehatan dengan baik karena telah menemukan “Clue” dan roh penyelenggaraan perumahsakitan. Sehingga biarpun Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan senantiasa mengubah dan membuat regulasi baru, serta piutang BPJS Kesehatan kepada Rumah Sakit Dr. Iskak Tulungagung tertunggak minimal 3 bulan per Agustus ini, RSUD Dr. Iskak tetap bisa mandiri dan tidak menggantungkan pembiayaan dari pemerintah pusat dan daerah.

“Tahun ini kami sedang melakukan lelang tambahan ruang rawat inap lima lantai dan 200 tempat tidur dari dana mandiri pendapatan rumah sakit tanpa suntikan dana dari APBD maupun APBN,” pungkasnya. (Advertorial)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.