Benang Merah Valentine

Setiap 14 Februari masyarakat Indonesia terpecah dalam tiga golongan dalam menyikapi Hari Valentine. Kelompok pertama yaitu yang melarang, kedua memperbolehkan dan ketiga yang cuek dan masa bodoh. Menurut penulis, ketiga kelompok ini memperkeruh dan memperpanjang konflik masalah hari valentine.

Masalah ini diperparah lagi dengan munculnya fenomena saling jual beli fatwa haram-halal tentang valentine. Pihak yang mengharamkan valentine berlomba-lomba mengobral fatwa tanpa paham efek dari fatwa tersebut. Semisal yang terjadi di Jawa Timur, fatwa haram valentine tertuang dalam fatwa MUI Jatim Nomor: Kep.03/SKF.MUI/JTM/I/2017 tentang Hukum Merayakan Hari Valentine Bagi Orang Islam. Hal ini dibenarkan oleh Sekretaris Umum MUI Jatim Ainul Yaqin yang mengatakan instansinya mengharamkan valentine.

Dalil yang dikeluarkan yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang larangan mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).

Tak ketinggalan pula ayat Al-Quran tentang zina yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra: 32).

Dua dalil ini diucapkan berulang kali hingga membuat masyarakat awam yakin secara mutlak bahwa valentine itu haram. Mereka tak peduli lagi apapun alasannya, bagi mereka valentine haram secara mutlak. Alhasil beberapa pemerintah daerah ikut serta mengharamkan valentine.

MUI dan beberapa pemerintah daerah ini tidak mempertimbangkan bahwa valentine bukannya hanya dirayakan oleh pasangan muda yang pacaran saja. Bahkan suami-istri juga banyak yang merayakannya. Yang mana tidak akan ada unsur zina di sini. Berkaitan dengan meniru tradisi agama lain, ini juga bisa dibantah bahwa valentine bukan ranah ibadah. Tidak ada sembah menyembah Sang Maha Kuasa dalam umumnya perayaan valentine. Sehingga argumentasi pengharamannya agak lemah.

Seakan tak mau kalah, para pendukung valentine juga banyak yang mengobral fatwa. Seperti dukungan yang disuarakan oleh Grand Mufti Othman Battikh dari Tunisia. Sang Mufti menolak klaim bahwa perayaan Valentine adalah tradisi Kristen. Ia pun memperbolehkan valentine untuk dirayakan.

Tak jauh berbeda, Syekh Ahmed Qasim Al-Ghamdi, mantan presiden Komisi untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan di Mekkah ikut mengesahkan hari valentine sebagai perayaan sosial yang mirip dengan hari nasional dan hari ibu.

Fatwa ini bermaksud baik, yang bertujuan agar tak dengan mudahnya mengharamkan sesuatu sehingga beragama menjadi sempit. Namun sayangnya, fatwa ini tidak diiringi dengan aksi nyata yang mengarahkan pada kebaikan. Semisal, aksi serentak membuat coklat untuk ayah, ibu dan saudara kandung. Bisa juga dijadikan hari khusus keluarga.

Memperbolehkan valentine tanpa ada garis batasan tertentu membuat fatwa ini liar dan tanpa arah. Sangat besar kemungkinan fatwa tersebut akan digunakan untuk membenarkan perbuatan maksiat atas nama kemanusian.

Berangkat dari fatwa bolehnya valentine di atas, beberapa toko yang menyediakan aksesoris dan coklat untuk valentine juga menyertakan hadits di depan barang dagangannya. Seakan menegaskan bahwa perbuatan merekalah yang akan menyukseskan valentine ini sehingga dapat dilegalkan oleh agama. Seperti yang ditemui salah satu tokoh swalayan di Jalan Mayjen Sungkono Surabaya yang memuat hadits riwayat Abu Dawud “sayangilah apa yang ada dibumi, niscaya apa yang ada di langit akan menyayangi mu.”

Kelompok apatis bukan tanpa resiko, mereka orang yang bahaya karena tidak punya kepedulian pada sesama. Hidup mereka terlalu egois, seakan tak butuh orang lain. Padahal, ketika ia membiarkan kerusakan pada masyarakat terjadi maka bisa saja suatu hari nanti kerusakan tersebut akan menimpa mereka. Sebutkan saja hamil sebelum nikah.

Karut marut masalah valentine memang sudah dimulai sejak lama. Bila mau kritis, perbedaan perayaan valentine zaman dulu hingga zaman kini sangatlah jauh. Pada zaman Romawi kuno, 14 Februari merupakan hari kasih sayang yang mewajibkan semua orang untuk memperingati dan juga meliburkan berbagai kegiatan. Beberapa sejarawan menelusuri, pada masa itu orang-orang memperingati tanggal 14 Februari sebagai hari libur guna menghormati Juno yang merupakan Ratu dewa-dewi Romawi.

Fakta lainnya adalah pada zaman dahulu perayaan dimulai pada tanggal 15-nya. Tidak sama dengan saat ini yang hanya merayakan ketika tanggal 14 saja. Pada tanggal 15 Februari sering kali diadakan sebuah perayaan bernama Festival Lupercalia yang umumnya disebut sebagai festival kesuburan. Kegiatan ini dirayakan dengan cara memasukkan nama berbagai wanita ke dalam sebuah kotak.

Kemudian pria akan acak mengambil sebuah nama yang nantinya akan dijodohkan atau dipasangkan dengannya. Ada juga versi sejarah lain yang mengatakan bahwa nama valentine diambil dari nama seorang tokoh agama yang menyebarkan kasih sayang.

Namun, saya punya pandangan lain terkait valentine. Selama ini pihak pro, kontra, dan apatis hanya mencari panggung dan mencari selamat bagi diri sendiri. Mereka tidak berkenan untuk menyentuh akar permasalahan yang sejati. Hemat saya, masalah terkait banyaknya anak muda yang merayakan valentine bersama pacarnya ialah karena memang di rumah sendiri tidak terdapat kasih sayang dari orang tua. Hal ini bagi saya lebih adil. Karena tidak ikut golongan pro, kontra tapi juga tak apatis.

Dalam arti sempit, kita tak perlu membahas halal-haram sampai menjelekkan pihak lain hanya untuk kasus valentine. Terlalu banyak energi yang habis dalam hal ini. Sekarang mari kita cari akar masalahnya, kenapa seseorang ingin merayakan valentine?
Jawaban gampangnya karena seorang ingin dicintai dan mencintai. Urusan cinta tak bisa dilawan dengan ayat quran dan hadits. Karena ditakutkan akan malah membuat mereka antipati dengan agama. Cinta kadang membuat logika seseorang tak berfungsi dengan normal.

Jika tujuan dari merayakan valentine adalah untuk menunjukkan kasih sayang, perhatian, dan empati dari kekasihnya. Maka bagaimana kalau setiap hari dijadikan hari valentine? Bukankah selanjutnya tak perlu lagi merayakan valentine setahun sekali?

Solusi ini sebenarnya sudah banyak dibicarakan oleh berbagai kalangan. Tapi kebanyakan dari mereka tidak bicara sampai detail solusi yang ditawarkan.

Bagi saya, langkah penting yang harus dilakukan pertama adalah mengadakan pendidikan fitrah seksualitas. Pendidikan ini berbeda dengan pendidikan seks. Karena pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir. Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan hakiki.

Salah satu pakar pendidikan fitrah Elly Risman Musa mengatakan bahwa untuk menumbuhkan fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada ayah dan ibu.

Riset banyak membuktikan bahwa anak-anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, ditinggal kerja, akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, seperti perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa akan memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, haus kasih sayang, suka perhatian, dan lain sebagainya.

Masalah tersebut terkadang membuat seseorang membutuhkan sosok dan tempat untuk berbagi dan memadu kasih. Karena di rumah bab kasih sayang sudah tak ditemukan lagi. Akhirnya mereka sibuk merayakan valentine bersama sang pacar, karena sepi kasih sayang dari keluarga. Bila seandainya orang di sekitarnya terus memberi kasih sayang maka tak perlu lagi ada perayaan kasih sayang setahun sekali.

Di sini lah peran kedua orang tua dibutuhkan dalam mendidik fitrah seksualitas. Figur ayah dan ibu seharusnya hadir sejak lahir sampai aqil baligh bahkan saat awal berumah tangga.

Simpelnya begini, saat baru lahir hingga umur dua tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3-6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.

Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”

Selanjutnya, saat mulai remaja, agar kebahagian keluarga tambah sempurna, maka perlu adanya pelajaran kepasrahan kepada Sang Khaliq. Figur ayah harus lebih banyak hadir di sini, membimbing sang anak memahami peran sosialnya, di antaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka, bermain dan bercengkerama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.

Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tentang tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki. Dengan begitu, mereka tak sembarangan melakukan praktek seksual di luar nikah.

Begitu pula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan sel telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.

Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, anak lelaki yang beranjak dewasa didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah.

Seorang lelaki yang kekurangan kasih sayang dari ibunya, akan sulit memahami bagaimana perasaan, fikiran dan penyikapan perempuan yang kelak juga akan ada dalam istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yang tidak dewasa, atau suami yang kasar, dan egois.

Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang di masa sebelumnya.

Jika lelaki dan perempuan sudah bisa tahu fitrahnya maka ia tidak akan merayakan valentine dengan melanggar syariat apalagi sampai menodai pasangan. Mereka menghormati perempuan karena teringat bahwa ibu mereka juga perempuan baik. Ini solusi bagus, tidak melarang mutlak, tidak juga membolehkan secara bebas tapi, tidak apatis. Ada tawaran lain?(Syarif Abdurrahman)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.