Benarkah Gay Bisa Menular

KEDIRI – Tema soal gay atau homoseksual masih terus dibicarakan masyarakat. Pembunuhan sadis guru sekolah dasar hingga pelarangan film bertema gay karya Garin Nugroho menarik perhatian untuk mengulik kehidupan mereka lebih jauh.

Dari kacamata seksologi, homoseksual kerap disebut sebagai laki seks laki (LSL). Istilah ini mulai disosialisasikan di kalangan medis untuk menyebut orientasi seksual kaum gay. Sementara realitasnya, tak semua interaksi gay selalu berbentuk hubungan seks.

Dr Roni Subagyo SpKJ, psikiater Rumah Sakit Bhayangkara, Kediri menyebut gay sebagai sebuah kelompok tertutup. Perbedaan orientasi seksual mereka, serta minimnya jumlah populasi di masyarakat mendorong mereka untuk berkelompok. “Kecenderungannya menutup diri,” kata dr Roni Subagio kepada Jatimplus.ID, Senin 29 April 2019.

Keterbatasan populasi inilah yang pada akhirnya membuat ikatan emosional antar gay terbangun sangat kuat. Bahkan cenderung posesif atau mempunyai rasa memiliki yang berlebihan. Sehingga rasa cemburu yang muncul bisa mengalahkan rasa kecemburuan kelompok heterogen (seks normal).

Besarnya perasaan yang terlibat inilah, menurut dr Roni, menjadi alasan terjadinya tindakan yang sadistis di kalangan mereka. Pembunuhan terhadap Budi Hartanto yang disertai tindakan mutilasi berupa pemotongan kepala menjadi bukti kesadisan mereka.

Sebagai dokter kesehatan jiwa di Rumah Sakit Bhayangkara milik Polri, dr Roni Subagyo kerap menangani kasus-kasus tindakan kriminal yang melibatkan seorang gay. Sebelum pembantaian Budi Hartanto, masyarakat sudah dipertontonkan pembunuhan berantai yang dilakukan Very Idham Henyansah alias Ryan dengan 11 korban dan Mujianto yang menghabisi 15 orang. Kedua pembunuh berdarah dingin ini adalah seorang gay.

“Mereka memiliki rasa cemburu yang berlebihan karena tak memiliki banyak pilihan pasangan seperti kita. Kalau kita putus dengan pasangan bisa cari yang lain. Mereka tak bisa melakukan itu karena jumlahnya sedikit,” terang dr Roni.

Lantas apakah sifat gay ini bisa menular? Dengan tegas dr Roni Subagya membenarkan. Bahkan sekarang ini kecenderungan bertambahnya populasi gay di tanah air makin besar.

Dia mencontohkan kasus yang pernah ditangani di kliniknya. Seorang pria normal yang semula membangun hubungan dengan perempuan tiba-tiba bisa menjadi gay dan menyukai pria.

Menurut dr Roni, pria ini tidak memiliki genetika “menyimpang” sejak lahir. Sebab gay bisa dipicu oleh kelainan genetika, dimana sejak akhil baligh dia sudah merasakan perbedaan orientasi seksual. Untuk gay jenis ini memang tak bisa diperdebatkan lagi.

Namun setelah mengakhiri hubungan dengan perempuan, pria tersebut tinggal bersama seorang gay. Dalam kehidupan bersama inilah terjadi proses penarikan orientasi seksual dari seorang gay kepada pria normal. “Bisa diajak nonton film gay, dipenuhi semua kebutuhannya, dimanjakan, dan dibuat senyaman mungkin hingga pada akhirnya tak bisa menolak tawaran menjadi gay,” terang dr Roni.

Gay Sementara

Beberapa fakta yang ditemui dr Roni Subagya dalam menangani pasiennya adalah fenomena terjadinya gay sementara. Sifat gay yang muncul benar-benar dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya, hingga membuatnya tak memiliki pilihan lain.

Kondisi ini bisa terjadi di dalam kehidupan lembaga pemasyarakatan, di mana para pria hidup bersama dalam waktu yang sangat lama. Atau juga seorang tentara yang bertugas di medan pertempuran yang terisolir dalam waktu panjang. “Untuk gay yang seperti ini bisa dengan mudah dikembalikan normal,” katanya.

Salah satu caranya adalah mengubah kondisi lingkungan mereka agar mendukung kehidupan normal yang heterogen. Karena itu dr Roni Subagya juga berpesan kepada orang tua untuk selalu menjaga lingkungan tumbuh kembang anak agar selalu normal dan tak memicu kecenderungan perubahan orientasi seksual.

Harus Diakui Keberadaannya

Pengajar psikologi sosial Institut Agama Islam Negeri Kediri, Sunarno S.Psi berpendapat masyarakat tak bisa menyangkal keberadaan kaum gay di tengah-tengah mereka. Namun bukan berarti harus menerima perilaku mereka yang berbeda dengan manusia normal.

“Saya memilih menggunakan istilah Ki Ageng Suryomentaram, orientasi seks sing salah kedaden. Karena bagi Suryomentaram orientasi seks hubungannya dengan laki-rabi (perkawinan) yang bertujuan keberlangsungan atau langgengnya jenis manusia,” kata Sunarno.

Karena itu secara normalnya, laki-laki memang harus menikah dengan perempuan. Karena hanya dengan cara itu proses keberlangsungan keturunan bisa terjadi.

Sunarno tak membantah jika sampai saat ini penolakan kepada kaum gay di masyarakat masih sangat tinggi. Keberadaan mereka bahkan dianggap sebagai ancaman. “Namun keliru kalau mereka dimusuhi. Yang harus dilakukan adalah melakukan pendekatan yang syukur bisa mengembalikan orientasi seks mereka,” terangnya.

Sunarno juga menggarisbawahi bahwa tidak mudah bagi seseorang untuk serta merta menjadi gay. Selain lingkungan, harus ada unsur genetika “menyimpang” yang mendorongnya untuk ikut tertular. Sebab tanpa faktor pendorong dari dalam, seseorang tak akan bisa menjadi gay meski berada di tengah komunitas gay.

Lepas dari pendapat kedua pakar tersebut, perdebatan tentang gay memang tak selayaknya dibawa ke wilayah hitam putih. Sebab diterima atau tidak, mereka hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai manusia.

Karena itu penolakan pemutaran film berjudul Kucumbui Tubuh Indahku karya Garin Nugroho yang mengisahkan kehidupan gay juga berlebihan. Film tersebut hanyalah cerminan realitas di masyarakat yang sedang berlangsung setiap hari. Dari film itulah mestinya akan tergambar skema-skema besar untuk membantu mereka, tanpa menghakimi terlebih dulu. (Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.