READING

Benarkah Menawar Makanan Perbuatan Tabu?

Benarkah Menawar Makanan Perbuatan Tabu?

KEDIRI – Menawar harga saat membeli barang mungkin sudah menjadi kebiasaan semua orang. Namun tahukah kamu jika ada transaksi yang tak bisa ditawar, yakni menawar makanan.

Menawar harga makanan saat berada di restoran hingga warung pinggir jalan hampir pasti tak akan pernah kita lakukan. Selain tak biasa, hal itu bisa menurunkan gengsi di depan penjual atau pembeli lain.

Akibatnya, tak sedikit konsumen yang menggerutu saat mendapati harga yang dibanderol di luar perkiraan. Namun tak ada pilihan lagi selain harus merogoh kocek sesuai permintaan penjual. Ujung-ujungnya, konsumen tak akan kembali ke rumah makan itu sebagai bentuk “perlawanan”.

Namun benarkah menawar harga makanan sesuatu yang tabu untuk dilakukan?

Sejumlah konsumen yang kami wawancarai mengaku tak pernah menawar saat berada di rumah makan. Alasannya macam-macam, satu yang terbanyak adalah gengsi.

Wenny Riza Ummamy, 25 tahun, pegawai negeri sipil.

Pernah menawar makanan di rumah makan?

Ya, ndak pernah. Masak makanan ditawar. Bahkan bahan makanan mentah seperti sayuran saja tidak pernah nawar, apalagi makanan matang.

Bagaimana jika harganya di luar perkiraan?

Pernah kena jebakan saat membeli nasi pecel di salah satu tempat di Jalan Doho Kediri pas lebaran. Kami bertiga hanya memesan tiga nasi pecel, telur ceplok, dan teh manis. Penjualnya enak aja bilang habisnya seratus ribu. Kesal sih, tapi mau apa lagi. Apalagi jika terlanjur dipesan dan dimakan. Biasanya gak akan balik ke tempat itu lagi.

Pipit Hapsari, 27 tahun, dokter.

Pernah menawar makanan di rumah makan?

Jangan sampai, malu-maluin. Kalau yang bisa ditawar kan biasanya barang, bukan makanan. Lagian masak boleh makanan ditawar.

Bagaimana jika harganya di luar perkiraan?

Paling banter cuma ngedumel dan gak balik lagi. Atau kalau kecewa berat aku tulis di medsos. Biar kapok dan gak manfaatin situasi. Karena biasanya itu dilakukan di tempat wisata yang kedatangan pengunjung luar kota.

Ahmad Wahyudiono, 42 tahun, karyawan swasta.

Pernah menawar makanan di rumah makan?

Nggak pernah. Belum pernah lihat orang nawar makanan sih.

Bagaimana jika harganya di luar perkiraan?

Pernah sih dapat harga mahal di warung kaki lima di kawasan wisata Yogyakarta. Harganya sangat tidak wajar. Kita kan tahu juga kisaran harga makanan pinggir jalan. Tetap saya bayar, tapi mangkuk buat cucian tangan aku balik, hahahaha.

Lantas bagaimana agar terhindar dari jebakan harga mahal ketika berada di rumah makan yang baru pertama kali mencoba?

Dwi Arief Priyono, pengelola SK Coffee Lab, cafe dan kedai makanan di Jalan PK Bangsa Kota Kediri memberi tips. Dia menyarankan kepada calon pembeli untuk tak malu menanyakan harga kepada pramusaji. Sebab tak semua rumah makan mencantumkan daftar harga di menu mereka. “Biasanya ini terjadi di warung kaki lima,” katanya.

Tips ini wajib dilakukan bagi pengunjung rumah makan yang baru pertama kali masuk. Atau saat berwisata kuliner di tempat-tempat wisata dan hari-hari tertentu seperti musim liburan. Karena tak sedikit penjual makanan yang menaikkan harga di hari tertentu seperti lebaran. Alasannya, tak ada penjual buka di hari itu.

Kesempatan buka di saat tak banyak pedagang yang berjualan memang menjadi jurus jitu untuk mencari untung. Sebab konsumen tak akan memiliki banyak pilihan untuk memilih tempat makan yang dituju.

Hal itu juga diakui oleh Andik (bukan nama sebenarnya), penjual nasi goreng di sudut Jalan Doho Kota Kediri. Di hari tertentu, seperti lebaran dia sengaja menaikkan harga jual nasi gorengnya hingga dua kali lipat. Jika biasanya satu porsi nari goreng dibanderol Rp 10.000, Andik menaikkan menjadi Rp 20.000 per porsi. “Namanya liburan, siapa yang mau jualan kalau bukan saya,” katanya ringan.

Bagi Andik, menaikkan harga makanan secara dadakan seperti itu masih wajar. Sebab sebagian besar pembeli sudah menyadari jika di hari-hari besar tak banyak penjual makanan yang buka. Hingga pada akhirnya berlaku hukum pasar di mana ketika terjadi lonjakan permintaan tanpa diimbangi ketersediaan, sudah pasti harga akan naik.

So, bagi kamu yang tak ingin kena jebakan batman atau yang paling tragis kehabisan duit saat di depan meja kasir, jangan gengsi untuk menanyakan harga makanan yang akan dipesan . Nggak dosa kok.   Jika masih ragu-ragu saat berada di tempat asing yang belum pernah kita kunjungi, memilih rumah makan waralaba yang sudah pernah kita ketahui kisaran harganya menjadi alternatif paling aman. Kalaupun terjadi selisih harga dengan waralaba yang biasa kita kunjungi, nilainya tak akan besar. (Hari Tri Wasono)  

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.