READING

Bendung Sel Terorisme, Banser NU Pelopori Gerakan ...

Bendung Sel Terorisme, Banser NU Pelopori Gerakan “Bersih” Lingkungan

Bom berdaya ledak tinggi jenis triacetone triperoxide (TATP) rakitan kelompok teroris JAD Bekasi pimpinan AY alias Rafli diamankan polisi Rabu (8/5) lalu. Terbukti, sel kelompok radikal ini tidak benar benar mati.

TIDAK usah bicara Babelan Bekasi. Bicara Surabaya, apalagi ngomong Indonesia. Diujung saluran telepon, suara pembina Barisan Ansor Serba Guna (Banser) NU Kabupaten Blitar Imron Rosadi alias Baron terdengar lantang. Tone nya meninggi. Antara kesal, gregetan dan ingin meledak. 

Kembali munculnya aksi radikalisme di Bekasi membuatnya emosi. “Dalam konteks antisipasi, tidak perlu lagi kita bicara jauh jauh. Waktunya kita bicara lingkungan terdekat saja,”tegas Baron kepada jatimplus Sabtu (11/5/2019). Sebagai tokoh Banser di Blitar yang getol melawan segala bentuk aksi radikalisme, Baron layak marah.

Banyak teroris yang sudah ditangkap. Dilumpuhkan hidup hidup, lalu dijebloskan ke dalam penjara. Bahkan tidak sedikit yang ditembak mati. Namun kenyataanya penerus gerakan radikalisme berbalut agama itu masih terus ada.

“Waktunya meningkatkan antisipasi sejak dini, “katanya. Tidak ada yang keliru dari program deradikalisasi yang dicanangkan pemerintah. Sudah tepat isu teroris didiskusikan di ruang ruang seminar intelektual. Juga dikampanyekan di ruang media massa. Namun semua itu belum cukup.

Baca juga: Bom Sri Lanka Buka Luka Lama

Menurut Baron pergerakan sel sel radikalisme di masyarakat harus dihentikan total. Bagaimana caranya?,  yakni dengan melakukan pengawasan melekat di lingkungan terdekat. Sudah amankah desa kita?. Dusun kita?. Lingkungan RW kita, RT kita?, atau bahkan anggota keluarga kita?, menjadi kunci kunci untuk melangkah. 

“Kebersihan” lingkungan terdekat kata Baron harus dipastikan. Tetangga kanan kiri, depan belakang, bahkan keluarga sendiri. “Karena faktanya kelompok ini ada dimana mana, “paparnya. Meski dalam posisi terjepit, gerakan radikalisme selalu memiliki cara mengorganisir diri. 

Baca juga: Bom Surabaya Bukan Konflik Agama

Bahkan pada ruang ruang tertentu mampu menginfiltrasi. Ada yang menyusup melalui jalur pertemanan dan hobi yang sama. Dari pertemanan berubah menjadi pengkaderan. Ada juga yang masuk melalui pintu pernikahan, jendela pendidikan maupun lorong ideologi. 

Semua dilakukan secara klandestin maupun kamuflase. “Prinsipnya kita tidak ingin kecolongan lagi. Karenanya sensitifitas sosial harus kembali dihidupkan,”tegasnya. Namun kendati demikian, menurut Baron antisipasi sejak dini itu bukan hanya tanggung jawab aparat keamanan dan Banser NU. 

Baca juga: Jemaat Resah Perempuan Berhijab Ikut Ibadah di Gereja

Semua yang mencintai NKRI dan menolak radikalisme berkewajiban sama menjaga lingkungan masing masing. Baron tidak berharap peristiwa di Bekasi terulang. Begitu juga dengan serangan bom di Surabaya 13 Mei 2018 lalu.

Dengan momentum peringatan setahun aksi terorisme di Surabaya, pengawasan di lingkungan terdekat sejak dini harus mulai dilakukan. “Saatnya kita bergandengan tangan menjaga “kebersihan” lingkungan masing masing. “paparnya.

Tegakkan Benteng Pluralisme

Selain sebagai benteng ulama, Banser NU juga berfungsi menjadi penegak pluralisme dan kerukunan antar umat beragama. Demi kepentingan bangsa dan negara Banser selalu siap berdiri di garda depan.

Baca juga: Gus Reza: Jangan Merasa Benar Sendiri

“Siapapun yang hendak merusak kerukunan dan meruntuhkan NKRI, akan berhadapan dengan kami (Banser), “tegas Baron. Bagi Banser, diskusi soal NKRI, toleransi dan pluralisme sudah selesai. NKRI harga mati. Begitu juga dengan Pancasila, juga  harga mati. Karenanya segala pancingan isu yang terkait  aqidah tidak akan menggoyahkan sikap Banser. 

Baca juga: Komitmen Australia-Iindonesia Melawan Terorisme

Diminta maupun tidak diminta, Banser NU siap berdiri di muka. Banser akan tampil melindungi umat agama lain yang selama ini menjadi sasaran aksi terorisme. Dalam konteks ini yang dikedepankan adalah hubungan kemanusiaan. Apa yang dilakukan Banser, kata Baron tidak dalam wilayah aqidah. 

“Soal itu ibaratnya anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Karena yang kita lakukan adalah bekerja sama dalam wilayah kemanusiaan, “katanya. Dalam kesempatan itu Baron juga menyinggung soal kelompok radikal yang semakin merajalela. Bahkan dibanding tahun sebelumnya, ruang gerak mereka semakin lebar.

Tidak hanya didaerah lain. Fenomena itu diakuinya juga terjadi  Blitar Raya (Kabupaten dan Kota). Baron menduga ruang lebar itu tidak lepas dari peran politisi yang sengaja mengasih ruang demi kepentingan politik praktis. 

“Terutama di Blitar. Selama masih ada Banser NU,  jangan pernah coba coba. Karena kami tidak akan tinggal diam, “tegasnya. Hal senada disampaikan Ketua Ansor NU Kota Blitar Hartono. Momentum peringatan setahun aksi teror di Surabaya bisa menjadi refleksi bagi semua. “Bahwa segala bentuk aksi terorisme harus dilawan. Sebab kedamaian NKRI adalah harga mati, “ujarnya. (Mas Garendi)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.