READING

Bentengi Aqidah Kebangsaan Dengan Filterisasi Kita...

Bentengi Aqidah Kebangsaan Dengan Filterisasi Kitab (4)

Kehadiran pondok pesantren di tengah masyarakat bukan hanya sebagai lembaga pendidikan. Pesantren juga menjadi lembaga penyiaran agama dan sosial. Spirit itulah yang menjadi salah satu pondasi berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo Kediri pada tahun 1910.

KEDIRI- Tidak terkecuali Ponpes Lirboyo yang berbasis salaf  Ahlusssunnah Wal Jama’ah anahdliyah, yakni penganut sunah kanjeng Nabi Muhammad dan jama’ah sahabat (Khulafaur Rasyidin). Setiap santri baru wajib ngaji sekaligus mengerti Kitab Kuning.

Kitab dengan kertas warna kuning yang berisi materi fiqih, aqidah, akhlaq, hadits, tafsir, ulumul Quran serta materi muamalah (sosial dan kemasyarakatan) itu merupakan rujukan utama santri sebelum melangkah ke kitab lain yang berjumlah ratusan.

Melalui sistem pengajaran sorogan (individual) dan bandongan atau weton (berkelompok), setidaknya ada tujuh kitab dasar yang harus dicecap seorang santri.

Yang pertama adalah Kitab Al Jurumiyah. Kitab ini merupakan dasar untuk mempelajari ilmu Nahwu (kaidah bahasa arab). Mustahil seorang santri mampu membaca kitab kuning tanpa menguasai Jurumiyah.

Dari Jurumiyah meningkat ke Imrithi, Mutamimah dan puncaknya di Alfiyah. Saat masih nyantri pada Kiai Syaikhona Kholil, Kademangan, Bangkalan, Madura, Mbah Manab atau Kiai Abdul Karim pendiri Lirboyo kerap mendaras Alfiyah. Uniknya hafalan itu dilakukan setiap mencuci baju di sungai.

Baca juga:

Mbah Manab Sang Founding Father

Kekerabatan Alumni Lirboyo

Yang kedua adalah Kitab Amtsila At Tashrifiyah atau kitab shorof. Dihadapan Al Jurumiyah, Kitab Amtsila At Tashrifiyah ibarat couple. Jika nahwu adalah bapaknya, shorof merupakan ibunya.

Yang ketiga adalah Kitab  Mushtholah Al Hadits. Di dalam kitab ini seluk beluk tentang ilmu hadits didedah,  dirincikan macam macam hadits beserta kriterianya. Di dalam kitab juga  dijelaskan syarat orang orang yang berhak meriwayatkan hadits.

Yang keempat adalah Kitab Arbain Nawawi, yaitu berisi spesifikasi kedudukan hadits. Muatan tema didalamnya meliputi dasar agama, hukum muamalah dan akhlak.

Yang kelima adalah Kitab At Taqrib yang berisi hasil turunan Al Quran dan Al Hadits. Semua isinya diramu dalam ushul fiqih.  Diatas kitab ini ada tiga kitab lain, yakni Kitab Fathul Qorib, Tausyaikh, Fathul Muin yang berfungsi menjelaskan At Taqrib.

Yang keenam adalah Kitab Aqidatul Awam yakni yang berisi tentang aqidah. Dengan kuatnya aqidah, seorang santri akan terhindar dari penyimpangan syariat. Kitab Aqidatul Awam menjadi rujuan sumber literasi ilmu aqidah di berbagai tempat.

Yang ketujuh adalah Kitab Ta’limul Muta’alim yakni kitab dasar yang berisi ilmu tentang akhlaq. Selain Ta’limul Muta’alim, seorang santri juga wajib mempelajari kitab serupa, yaitu Kitab Adabul ‘alim wal muta’alim karangan Hadratus Syech KH Hasyim As’yari. Di pesantren salaf,  kedua kitab ini menjadi kurikulum wajib.

Menurut pengasuh Ponpes Lirboyo KH Oing Abdul Muid, kitab tidak bisa masuk dengan bebas ke dalam pondok. Ponpes Lirboyo selalu melakukan penyaringan (filter) terhadap setiap  bacaan (kitab) yang ada. Tidak hanya mengawasi koleksi kitab yang ada di perpustakaan ponpes. Pondok juga memantau isi toko kitab yang berjualan sekitar ponpes.

“Kita juga memiliki lajnah bahtsul masail yang sekaligus untuk memfilter kitab kitab yang masuk ke pondok, “ujarnya kepada jatimplus. Filterisasi  kitab sebagai upaya mencegah masuknya ajaran Islam radikal ke dalam pondok. Hal itu mengingat kitab terkait  firqoh Wahabiyah, Khawarij atau yang menyerupai, telah beredar bebas.

Ajaran yang bersebrangan dengan Ahlusssunnah Wal Jama’ah anahdliyah itu, mudah ditemukan di toko buku dan kitab. Di Indonesia gerakan radikal itu telah berkamuflase, yakni dengan mengubah wajah gerakan dan nama. Satu  sisi menolak Pancasila dan NKRI dan disisi lain berupaya mewujudkan negara khilafah.

Kepada para santri Lirboyo, kata Gus Muid begitu biasa disapa, sosialisasi terkait kitab yang menyimpang terus dilakukan. “Santri diberitahu mana kitab yang boleh dibaca dan mana yang menyimpang, “terangnya.

Masih terkait dengan antisipasi masuknya ajaran radikal ke dalam ponpes. Selain membentengi dengan tradisi ngaji kitab ajaran Ahlusssunnah Wal Jama’ah anahdliyah, adakah treatmen khusus kepada santri atau calon santri?.

Gus Muid mengatakan pada intinya setiap calon santri atau santri adalah orang yang datang untuk belajar. Karenannya jika ada yang keliru atau menyimpang, akan langsung diluruskan. Sebab setiap santri selalu dibekali pengetahuan dan bagaimana menangkal persoalan ketika nanti terjun ke masyarakat.

Disisi lain setiap calon santri Lirboyo yang berfikiran menyimpang, kata Gus Muid akan langsung ketahuan.

“Tidak ada treatmen khusus semisal wawancara calon santri. Sejauh ini kita juga tidak pernah menemukan calon santri yang berfikir menyimpang, misalnya wahabi minded, “jelasnya. Sementara terkait posisi Ponpes Lirboyo terhadap politik praktis, dengan diplomatis Gus Muid menjelaskan Ponpes merupakan NU kecil.

Sebaliknya NU merupakan ponpes besar. Karenanya langgam politik yang berlaku di  pesantren adalah politik kebangsaan. Sebagai rumah kebangsaan, Ponpes Lirboyo tidak pernah menutup pintu dari siapapun tamu yang bertandang.

“Ponpes selalu mengutamakan manfaat yang lebih besar untuk bangsa dan negara. Dan disana ada rambu rambu sekaligus arah. Siapapun yang datang dengan baik, tentu akan terima dengan baik,  “paparnya. (*)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.