READING

Berbeda dengan The Santri, Film Jejak Langkah 2 Ul...

Berbeda dengan The Santri, Film Jejak Langkah 2 Ulama di Jombang Pilih “Jalan Sunyi”

Film Jejak Langkah 2 Ulama dengan Executive Producer Pengasuh Ponpes Tebu Ireng Jombang KH Salahuddin Wahid tidak akan diputar di gedung bioskop. Film yang bercerita tentang pendiri NU dan Muhammadiyah itu menghindari jalur komersial sebagaimana yang ditempuh film The Santri.

JOMBANG- Menurut Ketua GP Ansor Jombang Zulfikar Damam Ikhwanto atau biasa disapa Gus Antok, film Jejak Langkah 2 Ulama direncanakan diputar bergiliran, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu pesantren ke pesantren lain.

Tidak hanya akan menjangkau lebih luas. Penggunaan metode syiar yang lebih inklusif sekaligus egaliter itu diharapkan mampu mengantarkan pesan film lebih kena sasaran.  

“Tanpa perjuangan mereka maka sulit masyarakat Indonesia bisa hidup enak. Mbah Hasyim seorang yang sangat diperhitungkan secara ilmu dan kharismatiknya, “ujar Gus Antok.

Film Jejak Langkah 2 Ulama merupakan karya kolaborasi antara Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang dengan Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Muhammadiyah.

Film ini mengangkat kisah perjalanan dua orang tokoh pendiri ormas keagamaan terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah), KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan.

Bagaimana kedua tokoh bangsa itu mulai menapaki langkah perjuangan, akan menjadi goal besarnya. Proses produksi yang jauh dari hiruk pikuk “selebrasi” medsos (media sosial) itu, kini masih terus berjalan.

Tanpa trailer yang bertujuan  memburu “sensasi”, proses produksi film Jejak Langkah 2 Ulama terus berjalan. Jika tidak ada halangan, akhir tahun 2019 atau awal tahun 2020, ditargetkan  masyarakat sudah bisa menikmati.

Syuting di Jombang, Kediri dan Jogja

Berbeda dengan The Santri yang lebih banyak mengambil gambar di wilayah Blitar. Syuting film Jejak Langkah 2 Ulama lebih memilih lokasi Jombang, Kediri dan Jogjakarta.

Terutama untuk kebutuhan materi gambar Mbah Hasyim, sutradara Sigit Ariansyah lebih banyak syuting di Keras, Diwek Jombang yang merupakan tempat tinggal orang tua Mbah Hasyim.

Sigit Ariansyah merupakan sineas yang sudah 15 tahun berkecimpung sebagai sutradara film festival, film pendek, film dokumenter dan film iklan. “Potret Guru Ngaji di Pedalaman”, salah satu karya film dokumenternya yang banyak diperbincangkan.

Film “Lubang Tak berujung”  dan “Desember 26” juga hasil tangan dingin Sigit.  Sigit berlatar belakang santri. Dia memiliki rekam jejak sebagai alumnus Ponpes Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Sebelum ke Gontor dan kuliah di Kampus HOS Cokroaminoto Yogyakarta, masa kecil Sigit dihabiskan di Jombang. Liku liku hidupnya tidak jauh dari tradisi dan budaya NU dan Muhammadiyah.

Ibunya juga mantan pengurus Muslimat NU. Tidak heran Sigit mantap menyebut diri sebagai seorang MuhammadiNU (Muhammadiyah dan NU).  

Menurut Gus Antok, syuting di Keras, Diwek berlangsung sejak bulan September lalu. “Untuk mengambil latar belakang zaman dahulu, tim membangun beberapa rumah dari bambu, “terangnya.

Disamping unsur profesional, keluarga kedua tokoh, santri dan masyarakat umum, film Jejak 2 Ulama juga melibatkan Barisan Ansor Serba Guna (Banser). Sebanyak 25 anggota Banser mendapat peran sebagai Laskar Hizbullah,

Syuting Banser berlangsung di  Pondok Pesantren Ringin Agung Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Menurut Gus Antok, terlibatnya Banser sangat penting  untuk  mengembalikan ingatan masyarakat tentang perjuangan para santri, insan pesantren dan kiai.

“Secara resmi kita memang mendapat permohonan dari tim pembuat film 2 ulama agar Banser berperan sebagai Laskar Hizbullah. Mereka minta 25 personil dan kita sediakan 30 orang, “ungkapnya.

foto: istimewa

Sosok Hadratussyaik Hasyim Asy’ari dalam film Jejak Langkah 2 Ulama diperankan Gus Riza Yusuf Hasyim, putra KH M Yusuf Hasyim, yang sekaligus cucu Mbah Hasyim. Sedangkan Pengasuh Pondok Putri Pesantren Tebuireng Gus Fahmi Amrullah berperan sebagai KH Sholeh Darat.

Selain di Kediri, Jombang dan Jogjakarta, pengambilan gambar juga dilakukan di Bangkalan, Madura. Pengambilan tempat itu tidak lepas dari jejak perjalanan kedua tokoh ulama. Bahwa keduanya menimba pengetahuan dari guru yang serupa.

Seperti KH Sholeh Darat dari Semarang, KH Cholil Bangkalan dan sejumlah ulama Indonesia yang masyhur di Makkah, semisal Syeh Ahmad Khatib Al Minangkabauwy, Syeh Al Bantany dan Kiai Dimyati asal Tremas, Pacitan.

Gus Antok menambahkan, bahwa sejarah perjuangan ulama atau pahlawan sepatutnya memang harus sering divisualkan, khususnya dalam bentuk film. Dengan begitu menjadi pelajaran bagi generasi muda yang mulai kebingungan mencari sosok panutan.

“Dan kita sangat bangga, semakin banyak rumah produksi yang mengakui pengorbanan ulama, santri dan pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan, “paparnya.

Reporter : Syarif Abdurrahman
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.