READING

Berburu Tumbuhan Pemakan Daging di Kawah Wurung, B...

Berburu Tumbuhan Pemakan Daging di Kawah Wurung, Bondowoso

Tumbuhan ini bisa menjebak dan mengisap mangsanya hidup-hidup. Di balik tampilan rapuhnya, lembut, bahkan seperti embun, mereka adalah kelompok pembunuh. Maka, jangan tertipu penampilan.

Bondowoso- Kawah Wurung merupakan obyek wisata pegunungan di desa Jampit, kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso. Dinamai Wurung, dalam bahasa Jawa artinya “batal”, jadi batal menjadi kawah. Sebagai kawah, tak ditemukan gelegak aktivitas gunung api. Namun mungkin dulunya memang gunung api.

Hamparan rumput liar yang bergantu-ganti warna tiap musim memberikan kesenyapan yang berbeda.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

Terletak di ketinggian 1500mpdl, Kawah Wurung menawarkan udara sejuk. Kesejukan Kawah Wurung menumbuhkan beragam tumbuhan liar yang menghampar dan bagus untuk berfoto. Baik berfoto dengan pasangan bagi yang punya. Yang belum atau tidak, bisa memilih foto bersama lengkungan bukit yang tak kalah indahnya. Pada angle pengambilan yang bagus, akan menghasilkan foto yang “instragrammable”.

Pada musim kemarau, tumbuh hamparan alang-alang (Imperata cylindrica) sebab tumbuhan ini menyukai “penyiksaan”. Kondisi kering menyebabkan tumbuhan lain sekarat tak sempat hidup, alang-alang justru tumbuh subur dan diakhiri dengan mempersembahkan hamparan bunga.

Pada musim yang lebih berair, akan menampilkan hamparan wedusan (Ageratum conyzoides). Tumbuhan liar berdaun lebar dengan bunga bulat kecil-kecil berwarna putih keunguan dengan bau yang khas ini akan menutupi lembah Kawah Wurung.

Di antara tetumbuhan yang tampak di foto indah itu, ada tumbuhan lain yang nyelip dan kerap kali terabaikan. Mereka adalah si embun matahari atau Drosera. Tumbuhan ini termasuk dalam kelompok tumbuhan pemakan daging atau carnivorous plants.

Populasi Drosera yang tumbuh di tempat cadas.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

Si Embun Maut

Drosera peltata, tumbuh di dataran tinggi Jawa Timur sampai Nusa Tenggara Timur,” kata Adrian Yusuf, pehobi tanaman karnivora ketika mengidentifikasi Drosera di Kawah Wurung. Adrian adalah salah satu pendiri KTKI (Komunitas Tanaman Karnivor Indonesia). Namanya diabadikan sebagai nama salah satu jenis tanaman karnivor yaitu Nepenthes adrianii.

Marga Drosera memiliki 194 spesies yang tersebar di seluruh dunia. Populasi di Kawah Wurung tak banyak, tumbuh di bawah alang-alang yang agak terbuka. Biasanya Drosera tumbuh di tanah yang tandus atau malah cadas, sebab mereka tak butuh makan dari akar.

Berbeda dengan tumbuhan pada umumnya yang menyerap nutrisi melalui akar dari tanah. Tumbuhan karnivor menggunakan akar hanya untuk pegangan, menopang tegak tubuhnya. Untuk mendapat nutrisi dari mangsa yang didapatkan dari “menipu” atau menjebak binatang. Dari binatang kecil kelompok serangga hingga binatang besar seperti tikus. Tergantung ukuran tumbuhan karnivor. Untuk jenis kantong semar (Nepenthes) dengan kantong sebesar lengan, bisa menjebak tikus di dalamnya.

Sedangkan si embun matahari, karena ukurannya kecil, ia hanya bisa menangkap serangga kecil. Meski kecil, mereka sebenarnya pembanai yang sungguh sadis. Si embun matahari ini tingginya tak lebih dari 20cm. Tumbuh sendirian atau terkadang bergerombol. Pada ujung-ujung tangkainya terdapat tentakel atau lengan, tampak sebagai cabang kecil-kecil yang diliputi embun.

Bila dirasakan, embun ini terasa manis maka mudah sekali menarik serangga untuk mendekat. Yang tak disadari serangga, embun ini sangat lengket. Ketika sudah menyentuh, tak mungkin ia berhasil lepas. Serangga akan meronta hingga lemas. Setelah mati, maka cairan tubuhnya akan diisap oleh Drosera untuk pertumbuhannya.

Pada saat dewasa, Drosera memunculkan bunga berwana putih. Kemudian menjadi buah dan berbiji. Dari biji ini, Drosera memperbanyak diri.

Jika datang ke Kawah Wurung, sempatkan untuk melihatnya. Biarkan mereka tumbuh di habitat aslinya. Tak perlu dibawa pulang sebab belum tentu hidup di tempat yang berbeda. Juga, hati-hati melangkah. Tak perlu membuat jalur baru akan tak merusak tumbuhan lain yang bahkan mungkin belum sempat dikenali. Seperti Drosera ini.

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.