READING

Bercukur Di Sri Rejeki Tidak Membatalkan Puasa

Bercukur Di Sri Rejeki Tidak Membatalkan Puasa

KEDIRI – Jaman dulu saat masih bersekolah, saya kerap mendengar larangan memotong rambut dan kuku di siang hari di bulan Ramadan karena bisa membatalkan puasa. Wah, pasti mas-mas tukang cukur dan mbak-mbak kapster di salon bakal nganggur sebulan ya karena sepi, batinku saat itu.

Sri Rejeki Barber Parlour beralamat di Jl. RA Kartini Ruko Doko No. 4, Ngasem, Kab. Kediri.

Ternyata itu cuma rumor belaka.

Namun hebatnya, banyak yang mempercayai pendapat tersebut. Bahkan pertanyaan “receh” itu pernah dilontarkan kepada salah satu ulama besar Kerajaan Saudi Arabia, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Bazz Rahimahullah (1992 – 1999). Dengan sabar dan penuh kelembutan beliau pun menjawab, “Mencukur rambut, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan; semua itu tidak menjadikan batal puasanya orang yang berpuasa.”

Vespa tua berwarna merah menyambut di depan pintu.

Siang yang terik di hari puasa yang ke-10 di bulan Ramadan.

Berat sekali kaki ini melangkah keluar dari rumah. Namun karena sudah membuat temu janji dengan seseorang, saya pun bergegas menaiki motor kesayangan menuju utara kota. Sampailah saya di sebuah ruko kecil di kompleks pertokoan Doko di Jalan RA Kartini Kabupaten Kediri. Saya pastikan dulu alamat yang saya tuju benar adanya. Saya baca neon box vintage bertuliskan “Sri Rejeki, Barber Parlour”. Yup, benar ini. “Seonggok” vespa tua berwarna merah terparkir di depannya. Boks militer bekas terpasang di belakang bodinya. Di dalam terlihat seseorang sedang memotong rambut pelanggan, sementara satu orang lagi sedang menunggu giliran. Barbershop memang lagi booming belakangan ini di Kediri. Karena itu lah saya berkunjung ke salah satu barber yang lagi naik daun saat ini. Pengen tahu, apa efeknya bulan puasa terhadap jasa barbershop.  

Barber sendiri berasal dari bahasa Latin Barba yang berarti beard atau jenggot, yaitu orang yang pekerjaannya memotong rambut. Barber memiliki sejarah setua pisau cukur, yaitu sejak jaman perunggu (sekitar 3500 SM) di Mesir. Pada kebudayaan Mesir kuno, barber adalah tokoh yang sangat dihormati, karena rambut dipercaya sebagai jalan masuknya roh jahat dalam tubuh. Dengan memotong rambut, sama artinya dengan mengeluarkan roh jahat dari tubuh. Di era modern, sejarah barber dimulai tahun 1893 saat A.B. Moler of Chicago mendirikan sekolah barber pertama di dunia. Barbershop sendiri mulai dikenal di Kediri sekitar 5 tahun lalu. Para pria jaman dulu belum menjadikan cukur-mencukur rambut sebagai bagian dari gaya hidup. Kalaupun ingin bercukur yang lebih berkelas, mereka biasa pergi ke salon. Namun belum ada salon yang menyediakan pelayanan khusus untuk pelanggan pria. Seiring waktu, akhirnya mulai banyak bermunculan barbershop, yaitu salon tempat memotong dan merapikan rambut khusus untuk pria.

Sri Rejeki terlihat serius merapikan potongan rambut dari Prihan, salah satu pelanggannya.

Sang tuan rumah menyapa hangat saya, sembari sisir dan clippers di tangannya bergerak lincah menjelajahi rambut di kepala Prihan, penjual martabak di daerah Kweden, yang baru pertama kali bercukur di tempat ini. Barber pilih tanding itu bernama Sri Rejeki, seorang auteur di bidang seni mencukur di Kediri. Pria brewokan ini hobi berpindah-pindah tempat kerjaan. Ia mengawali karirnya di Brother tahun 2015. Setahun kemudian dia diajak rekannya untuk membuka barbershop sendiri di sekitar IAIN Kediri, bernama D Major, diambil dari nama jalan tempat tinggalnya saat itu, yaitu Jalan Mayor Bismo Kediri. Sayangnya perkongsian tersebut tak berlangsung lama. Tiga bulan berselang, Sri memutuskan bergabung dengan Deathless, salah satu kampiun barbershop di Kediri. Disana ia bertahan cukup lama, yaitu dua tahun. “Saya orangnya tidak betahan,” katanya. Buktinya tak lama di Deathless, Sri lalu melanjutkan karirnya di barbershop yang dinamai sesuai dengan namanya, yaitu “Sri Rejeki” hingga kini.

“Sri Rejeki adalah nama yang mengandung doa. Semoga rejeki Saya mengalir terus, namun tetap rendah hati seperti batang padi yang makin tinggi namun justru makin menunduk,” Celotehnya di sela kepulan asap rokok, teman karibnya saat bekerja. Bagi tukang cukur tradisional, cermin, gunting, dan sisir, cukup dijadikan modal untuk usaha. Sedangkan di barbershop, pelanggan perlu diberi pelayanan ekstra seperti ruangan nyaman, pencucian rambut, gaya potong rambut kekinian, juga pencukuran kumis dan janggut. Tapi yang jauh lebih penting dari semuanya itu, barbershop adalah tempatnya melting pot, atau tempat bertemunya orang-orang untuk ngobrol santai dan bertukar informasi. Hal tersebut juga diamini oleh Sri Rejeki. “Saya biasa ajak ngobrol dulu pelanggan saya, ngerokok bareng, bahkan kadang saya ajak ngopi di cafe sebelah, baru setelah itu saya memulai bekerja.” Paparnya. “Karena itu adalah kultur barbershop…”

Beberapa koleksi ajaib dari Sri Rejeki, diantaranya adalah jam dinding. Menunjukkan di barbershop ini, waktu amatlah berharga. Untuk mengobrol, merokok, dan menikmati hidup.

Alunan blues dari mendiang Magic Slim mendinginkan hawa cukup panas siang ini. I got the blues, deep down in my heart. I love you baby, please don´t let us apart, I´m gonna play the blues, Play the blues from my heart…

Kehidupan Sri Rejeki bagai naik ombak-ombakan di pasar malam. Kadang terayun ke atas, kadang ke bawah. Sebelum menggeluti pekerjaan sebagai barber, ia pernah merasakan bekerja 10 tahun di luar kota Kediri. Setelah lulus dari SMK, berbekal gunting rambut dari sang ibu yang juga pemilik salon, Sri mengadu nasib di Surabaya. Pria yang awalnya bercita-cita ingin menjadi sekuriti bank ini, akhirnya bekerja membantu budenya membuka warung seafood pinggir jalan. Tak berapa lama, ia lalu ditawari pakdenya untuk bekerja di kapal penyeberangan Surabaya – Madura, sebagai petugas cleaning service. Ia lalu berpindah ke kapal yang lebih besar, melayani penyeberangan antar pulau. Disinilah bakatnya sebagai barber tersalurkan. Gunting pemberian ibunya pun akhirnya tak sia-sia. Teman-teman sesama petugas cleaning service sering meminta bantuannya untuk memotong rambut.

Sri Rejeki bersama teman karibnya dalam bekerja : rokok dan vespa merah.

Berita tentang kepiawaian Sri Rejeki memotong rambut akhirnya menyebar seantero kapal. Langganannya makin bertambah banyak. Hingga kabar tersebut sampai di kuping kapten kapal. “Itulah saat paling berkesan dalam hidup saya,” Kenangnya. “Saya memotong rambut kapten kapal tempat saya bekerja.” Sri tak pernah meminta bayaran saat itu. Ia benar-benar melakoni pekerjaan sebagai “amatir”, istilah yang asalnya dari bahasa Perancis “amateur” yang berarti kekasih. Yaitu seseorang yang melakukan pekerjaan tidak dibayar dan semata-mata karena dia mencintai pekerjaan tersebut. “Akhirnya mereka tidak membayar saya dengan uang, tapi dengan memberi susu, rokok, dan makanan sebagai balas jasa,” Katanya terkekeh.

Pelanggan pertama sudah ia rampungkan. Tak kurang dari satu jam Sri menyelesaikan tugasnya tadi. Terhitung lama dibanding barber kebanyakan. “Normalnya 1 jam. Kadang bahkan sampai 1,5 jam kalau pelanggan meminta lebih detil.” Kenapa harus selama itu, tanya saya. “Karena rambut adalah mahkota.” Katanya enteng. Hahaha. Sekali potong, Sri memasang tarif Rp 30.000. cukup mahal untuk ukuran Kediri. “Kalau saya memasang tarif murah, berarti saya tidak menghargai hasil karya saya sendiri.” Katanya. Benar juga sih. Edi, si pelanggan berikutnya yang dari tadi dengan sabar menunggu giliran, turut menimpali,”Sri ini kerjaannya detil dan rapi, mas. Worthed kok segitu.”   

Sawang menghiasi langit-langit ruangan.

Sungguh nikmat melihat tangan cekatan Sri Rejeki memotong rambut pelanggannya. Mata saya lalu tertuju di sudut langit-langit ruangan yang dipenuhi sawang, yaitu kotoran berupa debu atau jaring laba-laba yang bergelayutan manja di antara kap lampu penerangan. Benda yang kata simbah bisa menyembuhkan luka berdarah ini, biasanya kita jumpai di rumah-rumah yang jarang dibersihkan penghuninya. Hebatnya, Sri justru bangga dengan kondisi lapaknya yang penuh sawang tersebut. belum lagi segala benda-benda ajaib untuk dekorasi ruangan seperti tulang kepala sapi, plat nomor, jam tua, keping piringan hitam, televisi mati, mesin ketik, telepon jadul, koper… saya geleng-geleng kepala dengan takjub. Ini benar barbershop kan? Si empunya tempat malah tertawa geli melihat keheranan saya. Eh, jadi bagaimana efek bulan puasa terhadap pendapatan para barber? Saya hampir lupa dengan pertanyaan yang sudah saya siapkan dari tadi itu. “Tiga hari pertama bulan puasa krik-krik, alias sepi,” Jawabnya. “Tapi setelah itu ya normal kembali, antara 7 – 10 kepala per hari.”

“Saya nyaman dengan kondisi ruang yang apa adanya ini,” Kata Sri Rejeki.

Sebelum berpamitan, saya sempat melemparkan pertanyaan terakhir, “berniat pindah lagi Sri?” Pria yang selalu tampil mbois itu terkekeh. “Mungkin iya, tapi yang pasti masih di sekitar Kediri saja. Kasian anak istri kalau saya tinggal jauh. Selain itu, saya ingin ikut memajukan Kediri, sesuai dengan kebisaan saya,” tutupnya.

Foto dan Teks oleh Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.