READING

Berebut Rezeki Lebaran di Bumi Proklamator

Berebut Rezeki Lebaran di Bumi Proklamator

Lebaran semakin dekat. Ditengah suasana ramadan orang orang mulai ramai berburu jajanan, kue kue kering, dan juga pakaian. Semuanya demi menyambut datangnya hari lebaran.

Roni, sebut saja demikian, baru saja membeli dua potong celana blue jeans baru. Pemuda yang belum genap 35 tahun itu sengaja ambil dua biji sekaligus. Alasannya branded. Celana yang labelnya masih melekat itu memiliki merek cukup kondang. Setidaknya tidak tengsin ketika dia berada di depan teman temanya sejawat. Sebagai milenial, Roni masih butuh kebanggaan itu.

“Setidaknya lumayan buat gaya gayaan, “selorohnya sembari tertawa. Alasan yang kedua karena faktor ekonomis. Untuk dua celana yang rencananya akan dia pakai saat lebaran, Roni hanya merogoh kocek Rp 300 ribu. Setelah didiskon, setiap celana ketemu harga Rp 150 ribu. Bagi Roni sebuah harga yang terjangkau.

Selama ini dia tidak pernah menemukan di pasar atau toko busana di Kota Blitar. Kalaupun ada, biasanya kurang bermerek. Atau terkadang merek sama namun mutunya berbeda.  “Karenanya mumpung ada, langsung beli dua potong langsung. Lagian stok celana panjang saya juga kurang, “katanya.

Roni mengaku senang sebuah departemen store terkemuka membuka cabang di Kota Blitar. Sejak awal puasa pemodal besar yang biasanya “bermain” di mall wilayah karsidenan itu, telah turun ke daerah. Pemodal lawas itu menyewa gedung Graha Patria yang berada di pusat Kota Blitar.

Gedung bersejarah itu disulap menjadi tempat jual beli sandangan. Rencananya sampai lebaran. Untuk memikat konsumen di sejumlah titik jalan dipasang baliho promo bazaar dan diskon gila gilaan. “Minimal tidak perlu lagi belanja di mall Kediri atau Malang, “katanya ringan.

Begitu juga dengan Wati (38) warga Kecamatan Srengat. Ibu muda yang sehari hari bekerja sebagai tenaga honorer itu memilih belanja ke gedung Graha Patria. Sama dengan Roni, Wati juga langsung memborong pakaian. Di kotak kayu berisi tumpukan baju dan kaos oblong dia langsung ambil tiga potong. Wati tergoda dengan promo beli dua gratis satu.

Di depan kasir dia masih menyodorkan resi pembelian sarung, sandal dan kemeja. Kemudian mainan untuk anaknya yang masih balita. “Kaosnya Rp 100 ribu dapat tiga. Murah, “katanya bahagia. Sejak buka awal ramadan tidak ada kata sepi. Para pengunjung datang silih berganti.Saking banyaknya pembeli, antrian di meja kasir selalu mengular.     

Wati berharap tempat belanja ini tidak hanya ada tahun ini. Di lebaran tahun depan diharapkan masih berlangsung hal yang sama. “Karena faktanya memang murah dan bagus, “tuturnya.

Mematikan Ekonomi Kerakyatan

Ramainya pengunjung adalah keuntungan besar pedagang. Namun tidak bagi pemilik toko busana yang lebih dulu ada di Kota Blitar. Juga pedagang sandangan yang berjualan di bedak dan kios pasar tradisional. Kehadiran cabang departemen store di gedung Graha Patria  menjadi ancaman.   

Sejumlah pedagang pakaian itu  menyampaikan keluhannya. Tidak hanya turun ke jalan. Mereka juga mendatangi kantor dewan (legislatif). Di depan wakil rakyat orang orang yang biasanya banyak duduk di meja kasir sambil memegang kalkulator itu menumpahkan uneg unegnya.

“Toko toko pakaian dan pedagang pasar menjadi sepi, “keluh Fery Yusnanto Parnese selaku juru bicara pedagang lokal.  Pada hari hari menjelang lebaran seperti ini, toko busana biasanya sudah ramai. Omzet penjualan meningkat pesat. Para pembeli yang datang tidak hanya warga Kota Blitar. Banyak juga masyarakat Kabupaten Blitar.

Bagi pedagang pakaian dan semacamnya, lebaran adalah musim panen. Di lebaran mereka bisa menangguk banyak keuntungan. Namun dengan kehadiran perwakilan departemen store, kata Fery semua berubah lengang. Sebagian besar konsumen tersedot  ke gedung Graha Patria.

“Meski hargannya sebenarnya sama, namun dengan promosi diskon besar besaran orang akan memilih kesana, “kata Fery.  Rasa cemas semakin meningkat ketika tahu, penyewaan gedung Graha Patria akan berlangsung hingga lebaran. Artinya para pedagang lokal tidak akan memiliki kesempatan lagi mendapat rezeki lebaran.

Padahal menurut Fery tidak sedikit pedagang baju di pasar yang mendapat modal dari cara menghutang. Harapannya dengan lebaran ini akan banyak memperoleh keuntungan. Atas nama pedagang kecil dan ekonomi kerakyatan Kota Blitar, Fery meminta legislatif turun tangan. Izin harus dikaji ulang. Bahkan bila perlu dicabut agar departemen store tidak bisa berjualan sampai lebaran.

“Kenapa harus sampai sebulan sampai lebaran?. Kalau dibiarkan jelas banyak pedagang kecil yang gulung tikar, “ungkapnya.

Sekretaris Komisi II DPRD Kota Blitar Sutanto mengaku sudah menerima aspirasi para pedagang kecil Kota Blitar. Sebagai legislatif  pihaknya langsung mempertanyakan soal perizinan ke eksekutif. “Kita sudah menerima aspirasi pedagang dan langsung kami bertanya soal perizinan yang dikeluarkan, “kata Sutanto.

Didampingi Asisten Satu Pemkot Blitar Wikandrio, Kepala Dinas Penanaman Modal Tenaga Kerja dan pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Suharyono mengatakan sudah mengetahui aspirasi pedagang. Menurut dia tidak ada persoalan dengan perizinan. Izin penggunaan (sewa) gedung Graha Patria untuk kegiatan dagang selama ramadan hingga lebaran, sudah sesuai prosedur yang berlaku.

Namun jika dinilai ada kesalahan, Suharyono siap mengkaji ulang dengan membahasnya dalam rapat internal. “Secara perizinan sudah sesuai prosedur. Namun akan kita bahas lagi jika dinilai ada kesalahan, “katanya. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.