READING

Beredar Foto Tua Tjut Nyak Dhien Yang Mengenaskan

Beredar Foto Tua Tjut Nyak Dhien Yang Mengenaskan

Siapa tak kenal Tjoet Nyak Dhien. Perempuan berjuluk “The Queen of Aceh Battle” ini begitu ditakuti penjajah Belanda di masa pra kemerdekaan. Namun siapa sangka jika akhir hidup Tjoet Nyak Dhien sungguh memprihatinkan.

Sebuah foto hitam putih yang diklaim menjadi koleksi Museum Foto Digital Belanda mengundang heboh. Foto tersebut menggambarkan seorang perempuan renta dengan pakaian sangat kumal. Rambutnya kusut tak terawat dengan mata terpejam. Kepalanya setengah menunduk dengan raut wajah seakan menahan sakit. Tubuhnya dekil dan tak mengenakan alas kaki.

Di kanan kirinya duduk pria paruh baya dan remaja yang tampak lebih bersih dan tegap. Keduanya tampak mengapit perempuan renta yang kondisinya tak lebih baik dari seorang gelandangan. Sungguh mengenaskan.

Yang lebih mengejutkan adalah keterangan foto tersebut. Tertulis jika perempuan renta itu adalah Tjut Nyak Dhien, singa betina yang memimpin pertempuran mengusir penjajah. Foto tersebut sama sekali tak menggambarkan kegagahan Tjut Nyak Dhien yang kerap difoto dengan rencong di tangan.

Sejumlah penulis sejarah menggambarkan kehidupan Tjut Nyak Dhien yang memprihatinkan di masa tuanya. Pejuang tangguh itu diserahkan oleh pemerintah Hindia Belanda kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja pada tanggal 11 Desember 1906. Bersama dua pria yang disebut sebagai pengawal Tjut Nyak Dhien, ketiganya berstatus tawanan titipan.

Saat diserahkan kondisi Tjut Nyak Dhien sangat memprihatinkan. Pakaian lusuh yang dikenakan adalah satu-satunya baju yang dimiliki. Selain itu, dia juga menggamit sebuah tasbih dan periuk nasi dari tanah liat.  

Melihat kondisinya yang memprihatinkan, serta pengetahuannya di bidang agama Islam sangat tinggi, Pangeran Aria tidak menempatkan di penjara. Melainkan dititipkan di rumah salah satu tokoh agama setempat. Hingga penyerahan itu dilakukan, penjajah Belanda tak pernah mengungkap identitas perempuan yang menderita rabun dan encok itu kepada Pangeran Aria.

Di rumah tokoh agama itu kondisi Tjut Nyak Dhien lebih terawat. Namun karena kesehatannya yang buruk, dia nyaris tak pernah meninggalkan rumah. Kegiatannya diisi dengan berdzikir dan mengajar mengaji ibu-ibu dan anak-anak sekitar. Sesekali mereka membawakan pakaian dan makanan kepada ibu yang santun dan memiliki pengetahuan agama luas. Mereka juga memberikan julukan kepada Tjut Nyak Dhien sebagai Ibu Perbu yang berarti suci.

Bahkan sampai kematiannya pada 6 November 1908, masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan itu.

The Queen of Aceh Battle

Cut Nyak Dhien lahir dari keluarga bangsawan yang di Lampadang tahun 1848. Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teuku Nanta Setia, keturunan perantau Minang. Dia merantau dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18, ketika kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.

Sejak kecil Tjut Nyak Dhien dididik dengan ilmu agama yang kuat. Dia juga dikenal sebagai gadis kecil yang cerdas dan tangguh. Namun karena peradaban yang kolot, Tjut Nyak Dhien tak bisa menolak permintaan orang tuanya saat dinikahkan dengan Teuku Ibrahim Lamnga saat masih berusia 12 tahun.

Sosok Tjut Nyak Dhien muncul ketika penjajah Belanda menyerbu kesultanan Aceh. Kemarahannya meledak saat pasukan Belanda menguasai dan membakar Masjid Raya dengan biadab. Bak singa betina, Tjut Nyak Dhien mengangkat rencong untuk memimpin perlawanan kepada tentara Belanda.

“Rakyatku, sekalian mukmin orang-orang Aceh! Lihatlah!! Saksikan dengan matamu Masjid kita dibakar!! Tempat ibadah kita dibinasakan!! Mereka menentang Allah!! Camkanlah itu! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan para kaphe (kafir) Belanda!!” teriak Tjut Nyak Dhien membakar perlawanan rakyar Aceh. (*)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.