READING

Berencana Tebang Ribuan Mangrove, DLH Banyuwangi M...

Berencana Tebang Ribuan Mangrove, DLH Banyuwangi Menuai Kecaman

BANYUWANGI- Munculnya  surat Permohonan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi perihal rekomendasi pemotongan pohon mangrove kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur  menuai reaksi penolakan dari sejumlah pihak. Pasalnya, ada beberapa poin yang dianggap mencederai kebijakan pemerintah dan upaya-upaya konservasi yang selama ini dilakukan pegiat lingkungan.

Dalam surat bertanggal 25 Nopember 2019 itu menyebutkan, bahwa tanaman mangrove yang jumlahnya sekitar 4.000 pohon tersebut menjadi penyebab menumpuknya sampah sungai Kalilo.  Sampah yang masuk ke sungai tersangkut di akar pohon dan dituduh menjadi penyebab terjadinya sedimentasi. Akibatnya aliran sungai kalilo menjadi tersendat yang berimbas pada terancamnya kehidupan ikan dan sarang nyamuk. Solusinya adalah  perlu dilakukan pemotongan  terhadap 4000  pohon mangrove yang tumbuh  di areal seluas 16.000 m2 di badan sungai Kalilo.

Beredarnya surat dari DLH Banyuwangi tersebut menuai banyak penolakan dari sejumlah pihak hingga ada petisi penolakan pemotongan 4000 pohon mangrove di Banyuwangi. Atas aksi penolakan yang ramai di media daring  Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, Chusnul Chotimah menyatakan bahwa pihaknya hanya menyampaikan hasil rapat koordinasi surat dari Ketua RW. 02 Lingkungan Ujung Kelurahan Kepatihan Banyuwangi Tanggal 4 Nopember 2019 Nomor : 03/RW-02/2019 perihal Permohonan Penebangan Mangrove.  

Surat dilayangkan ke Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur karena mengingat  bibit mangrove yang ditanam dalam kawasan PT. Pelindo Properti Indonesia Banyuwangi yang secara administrasi pemerintahan masuk ke dalam wilayah Kelurahan Kampung Mandar Banyuwangi  merupakan bantuan dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur.


“Sebenarnya saya hanya meneruskan hasil rapat warga. Yang memutuskan nantinya pihak Dinas Perikanan Provinsi, karena besok dari Provinsi akan melakukan peninjauan ke Banyuwangi. Dan ini bukan instruksi dari Dinas Perikanan Banyuwangi,” kata Chusnul.

Sementara itu Susintowati, dosen FKIP Untag Banyuwangi menuturkan, sebenarnya sudah puluhan tahun Mangrove yang tumbuh di sepanjang muara pantai Boom sangat membantu menopang ekosistem. Juga  sirkulasi air, karena mangrove tidak  menyumbat air seperti halnya sampah.

“Justru mangrove merupakan habitat sejuta manfaat ekologis. Jika mangrove menghambat sirkulasi air coba buktikan mangrove di Bedul. Tegakan mangrove di situ begitu lestari. Tidak ada kasus di situ mangrove menghalangi sirkulasi air. Alasan ini sangat tidak tepat.” ungkapnya.

Terkait sampah, dirinya menyangkal jika sampah yang ada di sekitar muara karena adanya mangrove. Menurutnya, pendangkalan disebabkan oleh tumpukan sampah yang masuk ke sungai dan akhirnya tersangkut di akar mangrove. Jadi yang perlu ditangani adalah sampahnya.

“Jika ada kegiatan pembersihan sampah yang serius dan ada manajemen pengelolaan konservasi mangrove yang bagus dan  masyarakat juga diimbau stop buang sampah dari hulu ke hilir menurut saya tidak perlu ada pemotongan besar-besaran.  Pemotongan mangrove justru akan merusak ekosistem di situ.” kata Susinto. “Dampaknya akan sangat parah. Coba kaji perda konservasi mangrove. Menyedihkan sekali jika Dinas Perikanan Jatim mengizinkan DLH Banyuwangi terkait pemotongan mangrove. Ini fatal,” imbuhnya.

Keberadaan mangrove yang dianggap menjadi pemicu munculnya sampah sehingga menjadikan DLH Banyuwangi membuat surat penebangan 4000 pohon mangrove di Banyuwangi  membuat aktivis lingkungan Prigi Arisandi angkat bicara.

Menurutnya , mangrove memang di pesisir atau muara sungai. Ekosistem mangrove terdiri dari pohon bakau (tinjang), pohon bogem, pohon api-api, semak jeruju dan lainnya. Mangrove sendiri  vegetasi khas karena mampu hidup di lingkungan ekstrim karena dipengaruhi air asin dan air tawar.

Mangrove atau hutan bakau, kata Prigi, menyokong kehidupan perikanan pesisir karena 80% pakan ikan pesisir berupa serasah dan biota mangrove. Dahannya yang kuat dijadikan rumah tinggal beragam burung air. Selain melindungi juvenil ikan dari predator, akar-akar mangrove diberi kemampuan menyerap dan mengakumulasi logam pencemar seperti cadmium, besi, cuprum dan lainnya. Jadi mereka membantu jadi penyaring polutan agar tidak mencemari laut.

“Lha kalo ada manusia yang ingin menebang mangrove karena akar mangrove dianggap menghambat plastik, ini jelas pikiran keblinger yang harus diganyang, ditumpas, dilindas, dibongkar dan dibinasakan. Seharusnya para aparatur ini memotong cara pikir dan perilaku para pembuang sampah ke saluran air,” kata Direktur Ecoton ini.

Menurutnya, mangrove memang bertugas mencegat barang buruk dari darat agar tidak masuk laut, sebaliknya melindungi darat dari intrusi dan tsunami.

Reporter : Widie Nurmahmudy
Editor : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.