Bermain Topeng Simbol di Pemilu 2019

PEMILU telah mengubah gayanya berdandan. Dia yang semula menggemari kaos oblong, kini lebih sering berkemeja. Bahkan setiap sore tidak pernah lepas dari baju takwa. Jeans lusuh yang begitu disukainya entah dibuang kemana. Blue jeans itu telah berganti sarung. Begitu juga dengan kopyah atau peci, nyaris tidak pernah lepas dari kepala.

Yang hebat lagi, warna merah yang selama ini menjadi warna favoritnya, juga bersalin rupa. Semuanya berganti warna dedaunan. “Saya kan caleg (calon anggota legislatif) dari partai berlatar agama. Jadi harus menyesuaikan tradisi yang ada, “tuturnya lembut menjelaskan. Tidak itu saja. Tutur kata calon legislatif di wilayah eks karsidenan Kediri ini juga berubah.

Cengengesan yang menjadi ciri khasnya ditanggalkan. Kesukaanya mengambil tone tinggi dalam setiap pembicaraanberubah menjadi kalem. Lembut. Adem. Bijak. Dalam setiap perbincangan mulai suka menyelipi satu dua potong dalil keilahian.

Memang belum fasih. Namun tartil pengucapannya sudah mendekati presisi. “Mau gak mau ya harus belajar dengan lingkungan, “katanya dengan suara seperti ditekan. Dia juga tidak marah ketika digojlok caleg semangka, yakni buah tropis yang kulitnya hijau dengan daging buah berwarna merah darah. Tidak tersinggung, bahkan justru malah tertawa ketika dituding perubahan identitas dan prilaku itu hanya topeng dan bersifat sesaat.

Perubahan cepat dan mencolok juga terlihat dari caleg yang berangkat dari partai nasionalis. Terutama caleg baru yang sebelumnya bukan kader. Kalau yang pertama meninggalkan warna merah dan berganti kehijauan, caleg ini sebaliknya. Semua yang dikenakan menjadi serba merah.

Kaos, kemeja dan warna topi, semuanya merah. Dia yang sebelumnya eksklusif, yakni hanya peduli dengan keluarga, mendadak altruis. Gemar bermasyarakat. Tiada hari tanpa berkumpul dengan orang banyak. Hampir tiap malam blusukan. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Mendatangi semua orang yang selama ini menjadi basis perjuangan partai tunggangannya.

“Kalau malam waktunya cari biting (suara), “katanya diselingi gelak tawa. Di depan masyarakat yang menjadi basis pemilihnya, gayanya berubah sederhana. Meskipun prilaku hidup sehari hari tergolong mewah.  

Didunia politik tanah air simbol, yakni baik berupa instrumen warna, aksesoris, termasuk pakaian dan gaya bicara, memang masih laku menjadi alat jualan. Simbol selalu menjadi penanda atau tetenger. Menonjolkan simbol secara konsisten merupakan bentuk penguatan diri sekaligus berkirim pesan bahwa pemakainya masih sekaum. Dalam bahasa sosial politik seringkali dinarasikan wonge dewe atau bocahe dewe

Namun secara tidak langsung simbol atau identitas yang dicuatkan sekaligus menjadi pembeda atau “pembelah” dari golongan pengguna politik simbol dan identitas lain.  

Peninggalan Kolonial

Penggunaan simbol dan identitas, yakni termasuk pakaian dan aksesoris  dalam kehidupan sosial politik sudah berlangsung lama. Dalam artikel  Kebaya, Sarung dan Politik Pencitraan (Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal), Fandy Hutari menyebut, pakaian bukan sekedar penutup aurat, tetapi juga perlambang status sosial, ekonomi, bahkan politik.

Pada konteks sosial politik, penguasa kolonial Hindia Belanda sengaja menciptakan pencitraan kekuasaan melalui perangkat sandang (pakaian). Pakaian kaum Eropa dibedakan dengan kaum pribumi. Bahkan ada larangan kaum pribumi mengenakan pakaian gaya Eropa. Dan di masa kolonial dikotomi itu terus dibangun.

Disitulah politik simbol bekerja. Yang semula untuk kepentingan politik, lama kelamaan  berkembang ke wilayah sosial. Oleh para pelaku politik praktis kekinian,  perluasan penggunaan simbol identitas itu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk merengkuh massa atau spesifiknya mendulang suara.

Pamela Pattynama dalam Recalling The Indies, menuliskan, “Kebaya dan sarung yang dipakai kaum perempuan Eropa Totok dan Indo-Eropa berbeda dengan apa yang dipakai perempuan pribumi dari penjaga kedai hingga istri seorang residen kolonial di halaman istana (koningsplein) atau kampung”.   

Dalam risetnya yang berjudul Outward Appearances; Trend Identitas, Kepentingan, Kees Van Dijk mengatakan identitas pakaian tidak kalah berbahayanya dengan identitas agama dan keyakinan politik. Pakaian menurutnya bisa mendorong orang saling hantam, tikam dan bunuh.

Dijk mencontohkan tewasnya ahli botani Inggris, Dr C.B Robinson pada saat mengunjungi Ambon. Insiden itu terjadi Desember 1913. Robinson dibunuh karena mengenakan baju warna kaki gelap dengan topi beludru yang aneh. Ternyata pakaian si Inggris membuat suku Buton Muslim ketakutan dan kemudian membunuhnya.

Meski terkesan remeh, pakaian mencerminkan identitas sang pemakai. Begitu juga dengan politik warna. Dari dulu hingga kekinian hijau selalu dianggap mewakili identitas kelompok agamis dan merah sebagai nasionalis. Belum lagi aksesoris bersifat fashion yang dikenakan. Lebih kuno lagi, sebuah kelompok kebaikan selalu diberi stempel warna putih dan kejahatan dengan warna hitam.

Mary Douglas dalam Cultural Analytis: The Work of Peter Berger, Mary Douglas, Michael Foucault, and Jurgen Habermas (1984) menyebut hubungan (antropologis dan budaya) antara raja, priayi dan kawula dipengaruhi sistem simbol yang terstruktur secara sosial.

Raja melihat priayi dan kawula sebagai abdi yang harus duduk di lantai. Sementara kekuasaan raja ditunjukkan dengan gelar yang sangat panjang. Priyai melihat kawula sebagai wong cilik  yang tidak mempunyai simbol kekuasaan karena rendah, kasar dan tidak terpelajar.

Sementara kawula memandang priayi sebagai kaum yang berhak menerima sembah. Kemudian dari pakaian yang dikenakan serta tutur kata dan bahasa yang digunakan. Lapisan sosial dalam masyarakat melihat satu sama lain dari sistem simbol yang berlaku.  

Dalam politik praktis, selain pembeda dengan kelompok lain (atau partai lain), simbol membuat politisi lebih fokus mendekati basis massa. Seorang caleg yang menunggang partai nasionalis tentu akan lebih dulu berburu suara masyarakat abangan. Dengan menunjukkan simbol (identitas) nasionalis, kehadirannya lebih mudah diterima.

Begitu juga dengan caleg yang mengibarkan simbol agamis karena berangkat dari partai berlatar belakang agama. Tentu dalih telah mendapat hidayah, pencerahan akan mudah diterima. Hal itu mengingat datangnya “sinar terang” memang tidak bisa diduga dan ditebak.

“Karena dengan menggunakan simbol identitas memang faktanya  lebih mudah untuk merangkul massa, “kata caleg yang kini begitu rajin mengikuti acara religius. Namun selain simbol ideologis, ada yang memiliki kekuatan tidak kalah besar, bahkan lebih besar dibanding simbol atau identitas.

Apakah itu?. Kapital atau uang. Meski tidak total (keseluruhan), dalam politik praktis, kapital atau uang terbukti mampu meluruhkan semua simbol yang berbeda. Dibawah kuasa uang semua mendadak menjadi satu kepentingan. (*)


Editor : editor posting Reporter : Reporter posting Visual editor : Visual posting

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.