READING

Berzakat Fitrah Dalam Bentuk Uang, Bolehkah?

Berzakat Fitrah Dalam Bentuk Uang, Bolehkah?

Kini kita sudah berada di penghujung Bulan Ramadan. Jangan sampai lupa untuk menunaikan satu ibadah wajib lainnya yakni adalah mengeluarkan zakat fitrah. Zakat fitrah harus dikeluarkan oleh semua Umat Muslim baik laki-laki maupun perempuan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Hanya mereka yang sedang kekurangan saja yang terbebas dari kewajiban ini.

Meski wajib, ada banyak perbedaan cara dalam menjalankan ibadah zakat fitrah ini. Aturan dasar dari pelaksanaan zakat fitrah sendiri tertuang dalam salah satu hadist nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Umar ( HR. Bukhari dan Muslim) yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mewajibkan mengeluarkan zakat fitrah berupa bahan makanan seberat satu sha’ atau setara dengan 4 mud kepada mereka yang berhak menerima zakat (mustahik).

Jika dikonversi ke dalam satuan berat setara dengan 2,2 kg yang kemudian disepakati dengan berat 2,5 kg hingga 3 kg sebagai bentuk kehati-hatian. Rasulullah SAW sendiri menyebutkan bahwa zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk kurma, gandum, anggur kering (kismis) dan makanan lainnya. Oleh para ulama, pernyataan ini di-ijtihad-kan sebagai makanan pokok. Di Indonesia, zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk beras.

Di tengah kondisi masyarakat yang sangat beragam, ada perbedaan cara mengeluarkan zakat fitrah. Tiga mahzab besar yakni Syafii, Maliki, dan Hambali meyakini bahwa pembayaran zakat harus berupa makanan pokok sesuai ajaran nabi. Namun berbeda dengan mahzab Hanafi membolehkan membayar berupa uang.

Hal ini dikarenakan pada zaman Rasulullah, perdagangan masih dikenal sistem barter. Orang bisa menukar beras untuk barang lain yang diperlukan. Sedangkan saat ini hal tersebut tidak bisa lagi dilakukan. Padahal kebutuhan para mustahik (penerima zakat) tidak hanya beras saja. Mereka juga perlu membeli lauk-pauk dan kebutuhan hidup lainnya.

Makanya kemudian para ulama dari Mahzab Hanafi membolehkan dengan membayar zakat berupa uang. Hanya saja ukuran satu sha’ dari mahzab ini lebih besar dari perhitungan tiga mahzab lainnya. Besarnya yakni 3,8 kg makanan pokok.

Atas perbedaan tersebut, Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama Jawa Timur tahun lalu mengeluarkan surat edaran tentang pedoman dan kadar zakat. Semua metode diperbolehkan asalkan benar-benar sesuai dengan ketentuan dari mahzab yang diyakini. Jika membayar berupa bahan makanan, bisa menggunakan takaran 2,5 kg – 3 kg. Namun jika menggunakan uang, sebaiknya mengikuti ukuran Mahzab Hanafi yakni besarannya senilai dengan bahan makan seberat 3,8 kg.

Zakat-zakat tersebut wajib dibayarkan kepada para mustahik sebelum khatib naik ke mimbar ketika salat Idul Fitri. Dalam QS. At Taubah : 60, sudah jelas disebutkan siapa saja yang berhak mendapatkan zakat. Mereka berasal dari delapan golongan.

Fakir yakni orang yang tidak punya pekerjaan dan tidak bisa membiayai hidupnya sendiri

Miskin yakni orang yang punya pekerjaan namun hasilnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

Gharim yakni orang yang memiliki banyak hutang untuk memenuhi kebutuhan hidup bukan untuk bermewah-mewah atau melakukan perbuatan tercela

Amil zakat yakni orang yang mengumpulkan zakat

Mualaf yakni orang yang baru masuk Islam

Budak atau hamba sahaya

Ibnu Sabil yakni musafir atau orang yang sedang dalam dalam perantauan untuk hal baik

Fi sabilillah yakni dan orang yang sedang berjuang di jalan Allah.

Penulis : Dina Rosyidha

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.