READING

BI Kediri, Bukan Bank Sentral Biasa (1)

BI Kediri, Bukan Bank Sentral Biasa (1)

Tak sekedar menjaga kebijakan moneter, Bank Indonesia juga mendorong kelancaran produksi dan pembangunan, serta memperluas kesempatan kerja yang berimbas pada peningkatan taraf hidup rakyat.

Djoko Raharto nyaris tak pernah meluangkan waktu weekend-nya untuk bersantai. Selama lima tahun menjabat Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Sabtu dan Minggunya habis untuk blusukan.

Mulai wilayah perkotaan yang jalannya mulus, hingga pelosok desa terpencil di kawasan pegunungan dia satroni. Djoko seperti tak pernah kehabisan kawasan baru. “Belum lama ini ke perkebunan kopi wilayah Doko, Kabupaten Blitar. Untuk ke lokasi jalannya berbatu dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki,“ tutur Djoko Raharto, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri kepada Jatimplus.ID   

Tidak bisa dipungkiri jika geliat usaha mikro kecil menengah (UMKM) di wilayah eks-Karisidenan Kediri dipengaruhi kepiawaian Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri. Bank sentral ini sukses memperkuat lini perekonomian masyarakat yang kerap diabaikan banyak pihak, termasuk pemerintah daerah.

Pertumbuhan sektor UMKM tumbuh pesat. Mulai pertanian, kerajinan tangan, hingga bisnis jasa tersentuh oleh program pemberdayaan ekonomi yang dikelola BI Kediri. Di lain pihak, lembaga ini juga aktif mengedukasi pemerintah untuk berperan aktif menjaga stabilitas ekonomi dengan menjaga inflasi.

Tengok saja program pendampingan perkebunan seperti kopi, cokelat, kunyit, iles – iles, dan bawang merah yang tersebar di sejumlah tempat. Sejak ditangani BI, para petani komoditas itu tak lagi pusing dengan pemasaran. Lereng Gunung Wilis telah menjadi laboratorium petani kopi yang disupport sepenuhnya oleh lembaga ini.

Di Desa Sendang, Kabupaten Tulungagung, Bank Indonesia menggandeng KUB Omah Kopi, petani, pokdarwis, dan Perum Perhutani untuk melakukan penanaman kopi Arabika. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 25 ribu batang ditebar di ketinggian di atas 800 mdpl.

Program penanaman kopi di lahan milik Perhutani dan warga ini mencapai luasan 10 hektar. Melibatkan 100 petani setempat, Bank Indonesia memacu mereka untuk memiliki nilai tambah ekonomi. Di tempat ini pula kampanye gerakan peduli lingkungan melalui pengolahan dan pemanfaatan pupuk organik limbah ternak yang difermentasi digeber.

“Selama ini petani membuang limbah padat dan cair ternak di sungai atau kebun. Akibatnya lingkungan tercemari dan kontra produktif. Kami melatih dan membuka wawasan petani tentang limbah ternak agar bernilai tambah sekaligus ramah lingkungan,” katanya.

BACA JUGA: Siti Rukayah, Buruh Migran Yang Jadi Juragan

Tidak hanya bibit. Bank Indonesia juga menurunkan bantuan perkakas, mulai ‘para para’ untuk menjemur kopi hingga mesin sangrai atau penggorengan. Perwakilan petani yang dipilih juga dikirim ke pusat pembelajaran kopi dan kakao di Jember untuk meningkatkan pengetahuan. Targetnya, petani harus mampu melakukan pembibitan sendiri.

Hal serupa juga dilakukan pada petani kopi di Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar. Besarnya potensi yang ada dengan pengelolaan ala kadarnya membuat Bank Indonesia turun tangan. “Mereka menanam kopi, tapi tidak tahu soal jenis kopi yang potensial dan punya nilai jual tinggi,” kata Djoko Raharto yang mengkritik kinerja pemerintah daerah.

Penanaman kopi Arabika di Desa Medowo Kabupaten Kediri bersama GenBI. Foto: KCCF

Menurut hasil survei mereka, Kabupaten Blitar memiliki potensi UMKM yang besar. Selain kopi, budidaya cokelat di kabupaten ini juga mampu mengeskpor 300 – 400 ton per bulan.

Demikian pula sektor peternakan ayam petelur yang memiliki kapasitas produksi besar. Di sektor ini, Bank Indonesia berencana membangun program kluster telur untuk menjaga stabilitas harga. Selain menjaga pasokan kebutuhan konsumsi, program ini juga akan meningkatkan kesejahteraan peternak.

BACA JUGA: Djoko Raharto: Membina UMKM Harus Tulus

Saat ini terdapat 5.400 peternak yang tergabung dalam Koperasi Putera Blitar, dengan kemampuan produksi 400 – 600 ton per hari. Jika dikelola dengan baik, komoditas ini akan mampu menjadi usaha unggulan Kabupaten Blitar, dan mampu bermain di pasar ekspor.

“Salah satu kelemahan para pelaku usaha ini adalah kelembagaan. Perlu pendampingan pemda untuk penguatan SDM, organisasi, dan tata kelola yang konkrit,” kata Djoko.

Melalui kelembagaan ini pula, perluasan pasar bisa dilakukan melalui kerjasama antar daerah. Tak melulu soal produk, kerjasama ini bisa berupa pembelian pakan yang menguntungkan peternak. Termasuk di dalamnya menangkap peluang terkait bantuan pangan nontunai yang salah satu komoditasnya adalah telur.

Kelak, keberhasilan peternak yang dibina melalui program kluster ini diharapkan menularkan ke peternak lain agar bisa berkembang dan berkelanjutan. Saat ini Bank Indonesia masih mengkaji jumlah peternak yang akan dijaring dalam program tersebut.

Sebagai awalan, Bank Indonesia telah melakukan kegiatan prakluster dengan melatih puluhan peternak ayam petelur membuat makanan tambahan berbasis teknologi MA-11. Dengan teknologi ini, penggunaan produk pakan suplemen pabrikan berkurang dengan produktivitas ayam yang tinggi.

“Hasil penelitian kami membuktikan telur yang dihasilkan lebih sehat. Konsumen yang sebelumnya alergi mengkonsumsi telur, kini tidak lagi,” jelas Djoko Raharto.

Tak tebang pilih, Bank Indonesia merangkul semua kelompok masyarakat, termasuk alumni buruh migran. Tak sekedar berkomunitas, Bank Indonesia mendorong untuk berhimpun dalam wadah organisasi berbadan hukum. Dan itu direalisasikan dengan terbentuknya koperasi para peternak alumni TKI/TKW. 

“Karena komunikasi pemerintah dalam memberikan bantuan dan pembinaan lebih mudah jika dalam bentuk wadah berbadan hukum. Bentuknya bisa koperasi. Selain itu pemerintah tidak ingin berhubungan dengan tengkulak,“ terang Djoko.

Untuk mendukung kinerja pengurus Koperasi UMKM Blitar Raya (Kubli), Bank Indonesia menghibahkan satu unit kendaraan bekas operasional. Hibah ini merupakan satu satunya di Indonesia yang dilakukan Bank Indonesia kepada pelaku usaha. Kini, keberadaan mobil panjang itu bisa dilihat di jalan raya sebagai moda sosialisasi dan angkutan barang.

Kerajinan tenun ikat di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Foto: Adhi Kusumo

Di Kediri, Bank Indonesia sukses mengerek sentra kerajinan tenun ikat menjadi ikon produk daerah. Sejumlah perajin yang bertahan menjaga usaha di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, direngkuh agar lebih berdaya. Tak sekedar membagi ilmu manajemen, Bank Indonesia juga mengucurkan mesin produksi untuk menggenjot produktivitas.

Hasilnya, kelurahan tersebut sukses menjelma menjadi kampung tenun. Selain menjadi sentra wisata, perekonomian rakyat tumbuh pesat di kelurahan Bandar Kidul. Lebih dari 10 pemilik usaha bersaing secara sehat dengan produk masing-masing.

Hingga pada akhirnya Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar menginstruksikan pemakaian batik tenun produksi perajin Bandar Kidul sebagai seragam pegawai. Setiap hari Kamis, seluruh aparatur sipil negara mengenakan tenun produksi lokal.

Di luar mereka, Bank Indonesia juga menggarap perajin kulit di Kabupaten Magetan, petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk, serta petani kunyit di Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. Produksi kunyit di lereng Gunung Wilis ini bahkan diproyeksi untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke India.

Semua program pemberdayaan ini, menurut Djoko Raharto, untuk menguatkan perekonomian rakyat agar tak tergusur iklim perubahan. Dia menambahkan, kualitas sumber daya manusia juga perlu diupgrade agar tak kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. “Kualitas TKI kita masih lebih rendah dari Filipina. Mereka punya kemampuan Bahasa Inggris bagus, yang tak bisa dikuasai tenaga kerja kita,” katanya.

Di sinilah peran pemerintah daerah dibutuhkan, terutama mengambil alih lembaga pelatihan kerja yang kredibel. Di satu sisi, Djoko Raharto bersyukur bahwa jumlah tenaga kerja Indonesia yang mencari kerja ke luar negeri terus menurun. Ini menjadi salah satu tolok ukur makin terbukanya lapangan pekerjaan di dalam negeri.

“Ada beberapa daerah yang sulit diajak berkembang, salah satunya Trenggalek. Namun upaya membuka mindset di sana terus kami lakukan,” katanya.

Upaya gerilya yang dilakukan Djoko Raharto dan tim Bank Indonesia Kediri berbuah manis. Sejak tahun 2015 hingga sekarang, laju inflasi di wilayah kerja Bank Indonesia Kediri tergolong bagus. Bahkan dua kali terbaik nasional, yakni pada tahun 2016 dan tahun 2018. 

Ini semua dilakukan dengan turun lapangan. Mengajak institusi lain seperti pemerintah daerah, Badan Pusat Statistik, Bulog, dan kepolisian, Bank Indonesia “memaksa” mereka turun ke kantong-kantong distributor dan pasar. Ini untuk memastikan tak ada kelangkaan suplai yang mengancam kenaikan harga. “Persoalan inflasi tak bisa diselesaikan hanya dengan rapat,” tegasnya.

Djoko yang awal Maret 2019 ini akan pindah tugas, mengatakan masih banyak program ekonomi yang harus dilanjutkan. Apalagi dalam waktu dekat Kediri akan memiliki bandar udara dan dilintasi jalan tol. Ekonomi rakyat benar benar harus dipersiapkan. Minimal, Kediri harus memiliki hotel bintang lima atau empat. (*)


Editor : editor posting Reporter : Reporter posting Visual editor : Visual posting

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.