READING

Bijak Dalam Melaksanakan Salat Jumat Saat Wabah Co...

Bijak Dalam Melaksanakan Salat Jumat Saat Wabah Corona Melanda

Pondok Pesantren Tebuireng Jombang akan memberlakukan pemisahan shaf Salat Jumat antara santri dan masyarakat umum. Rencananya santri Tebuireng akan Salat Jumat di masjid lantai satu dan dua. Sedangkan masyarakat umum akan Salat Jumat di depan masjid dengan disediakan terpal dan terop. Pemisahan ini sebagai respon untuk mengantisipasi penyebaran wabah corona.

Kebijakan ini membuat banyak yang bertanya-tanya landasan hukumnya apa? Dikarenakan di Jombang belum ada korban yang positif corona tapi shaf Salat Jumat sudah dipisahkan.

Saya merasa perlu menjawab masalah ini karena dimungkinkan juga terjadi di masyarakat umum yang memisahkan shat Salat Jumat berdasarkan Rukun Warga (RW) atau Rukun Tetangga (RT), sehingga perlu ada penjelasan lebih lanjut agar tidak salah paham. Penjelasan ini bukan sebagai pembenaran atas sebuah kebijakan tapi lebih tepatnya sebagai jawaban ilmiah untuk khalayak. Diharapkan jawaban ini bisa memberikan landasan hukum dalam bersikap saat ada masalah yang sama.

Untuk mengurai masalah ini ada baiknya kita mulai dari kisah para hidup Nabi Muhammad S.A.W. dan para sahabatnya. Nabi Muhammad S.A.W. merupakan satu paket lengkap dengan Al-Quran dan Hadits. Dua pusaka ini menjadi landasan utama dalam kehidupan umat Islam dan menggali hukum Islam. Hemat kata, mempelajari Al-Quran dan Hadits tidak bisa tidak juga harus mempelajari kehidupan Muhammad SAW.

Putra dari pasangan Abdullah dan Aminah ini menyebarkan ajaran Al-Quran hampir 23 tahun lamanya. Ajaran tersebut lebih dikenal saat ini bernama agama Islam. Nabi Muhammad pernah mengajarkan untuk salat jumat di rumah. Bahkan adzannya juga diganti. adzan tersebut hanya berlaku pada kondisi tertentu. Hal ini berdasarkan beberapa dalil antara lain dari hadis riwayat Imam Muslim yang berbunyi:

أَنَّهُ نَادَى بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ وَمَطَرٍ فَقَالَ فِى آخِرِ نِدَائِهِ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ أَوْ ذَاتُ مَطَرٍ فِى السَّفَرِ أَنْ يَقُولَ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ.

Ibnu Umar pernah adzan untuk salat di malam yang dingin, anginnya kencang disertai hujan, kemudian dia mengucapkan “ألاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ”(salatlah di rumah kalian, salatlah di rumah kalian) di akhir adzan.

Kemudian Ibnu Umar mengatakan, ”Sesungguhnya Rasulullah S.A.W., biasa menyuruh tukang adzan, apabila cuaca malam dingin dan hujan lebat pada saat beliau safar (pergi) untuk mengucapkan, “ألاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ” (salatlah di rumah kalian masing-masing).

Salah satu sahabat Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abbas atau lebih dikenal Ibn Abbas pernah berpesan di hadapan teman-temannya yang pada saat itu sedang turun hujan. Ibnu Abbas memerintahkan bagian adzan ketika sampai bacaan “حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ”, lalu diganti “الصَّلَاةُ فِي الرِّحَالِ” artinya salatlah di rumah kalian.

Saat itu banyak orang yang ragu akan ucapan Ibnu Abbas. Menanggapi hal itu, lalu Ibnu Abbas menambahkan penjelasan bahwa sesungguhnya hal tersebut pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik darinya, yaitu Nabi Muhammad S.A.W. Menurutnya, Salat Jumat adalah kewajiban, tapi jika mempersulit maka tak perlu datang.

Lafadz الصَّلَاةُ فِي الرِّحَالِ boleh dikumandangkan menggantikan lafadz حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ dan boleh juga dikumandangkan di akhir adzan. Hal ini menandakan bahwa salat jamaah di masjid boleh ditinggalkan. Sedangkan salat jumat wajib berjamaah dengan adzan sebagai pemanggilnya.

Namun bukan pada lafad adzan yang ingin kita bahas, tapi pada ajakan untuk mendirikan shalat (berjamaah) justru diganti dengan anjuran untuk melaksanakan shalat berjamaah di rumah masing-masing.

Tapi perlu digaris bawahi, ini hanya berlaku dalam keadaan darurat yang disebabkan oleh faktor alam, seperti hujan deras disertai angin, banjir, bencana alam, maupun adanya wabah penyakit yang penularannya melalui kontak langsung dalam interaksi yang melibatkan banyak orang.

Hanya saja, darurat yang disebabkan hujan dan angit bisa dikritisi lagi. Bukan dihitung rata. Karena saat ini payung, mobil, dan angkutan online yang siap 24 jam, sehingga tidak menimbulkan kesulitan kepada kaum muslimin. Dasar pengambilan hukum boleh meninggalkan sesuatu itu karena ada kesulitan dan kerusakan efek melakukan sesuatu tersebut.

Dulu masjid jauh dari rumah, sehingga bila dipaksakan ke masjid maka sandang yang dipakai akan basah kuyup. Baju yang basah membuat tubuh kedinginan dan salat tidak khusyuk. Bisa juga membuat sakit. Seorang muslim juga harus menjaga kesucian masjid dari kotoran yang disebabkan lumpur karena hujan dan tetesan air dari baju yang dipakai. Hukum salat di rumah karena hujan akan kembali diterapkan lagi bila hujan menyebabkan banjir sehingga sulit mendatangi masjid atau angin kencang yang menyebabkan pohon tumbang.

Bila dihubungkan dengan kisah dalam hadis di atas dan fakta di lapangan maka pembagian shaf antara santri dan masyarakat umum saat salat jumat maka diperbolehkan. Karena hal lebih besar dari itu yaitu meninggalkan salat jamaah saja boleh apalagi hanya memisahkan shaf antara jamaah.

Untuk lebih kuatnya, sekarang kita lihat masalah ini dalam pandangan hukum Islam. Dalam Islam ada kaidah fikih yang berbunyi

”. دفع الضرر أولى من جلب النفع

Artinya, menolak kemudaratan (keburukan) lebih utama daripada meraih kemanfaatan.

Kaidah lainnya yaitu
دفع المفاسد مقدم على جلب المصالح “

Menolak kemafsadatan (kerusakan) didahulukan daripada meraih kemaslahatan (manfaat).

رفع المضار مقدم على جلب المنافع “

Menolak bahaya didahulukan daripada mengambil manfaat”

Kaidah di atas juga sesuai dengan salah satu tujuan dari syariat (maqosidus syariah) Islam yaitu hifdz nafs atau menjaga jiwa. Menjaga nyawa lebih penting dari pada jamaah salat. Karena salat masih bisa dilakukan tanpa jamaah. Langkah memisahkan shaf termasuk ikhtiar atau langkah dalam menjaga serta antisipasi terhadap kerusakan lebih besar.

Perubahan hukum dalam salat jumat bukan hal baru. Di Indonesia rata-rata mengikuti mazhab Imam Syafi’i yang mengharuskan jamaah salat jumat sekurang-kurangnya 40 orang pria.

Namun menurut Imam Malik, jumlah jamaah boleh kurang dari 40. Jumlah minimal jumlah jamaah salat jumat hanya sekiranya seseorang bisa membuat satu kampung (tataqarra biha qaryatan). Imam Malik, jumlah minimal jamaah ini sekiranya bisa menjadikan satu domisili kampung yang representatif.

Sedangkan dalam kondisi darurat, diperbolehlan meskipun kurang dari 40 sebagaimana kaidah fikih yang terkenal

الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المحْظُوْرَات

“Keadaan darurat membolehkan suatu yang terlarang”


Namun yang namanya darurat maka tidak bisa dijadikan patokan umum dalam hari biasa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam melihat suatu masalah harus secara lengkap dari berbagai sisi. Agar tidak terjebak pada penghakiman dan menyalah sesuatu tanpa logika sehat.

Semoga Rahman dan Rahim-Nya selalu menyertai kita semua.

(Syarif Abdurrahman-alumni Ponpes Tebuireng, Jombang)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.